JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Presiden ke-10 dan 12 RI Jusuf Kalla mengingatkan, perang yang terjadi Iran berpotensi menimbulkan dampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia, terutama terkait kenaikan harga energi dan beban subsidi pemerintah.
Hal itu disampaikan Kalla kepada wartawan usai acara buka puasa dan shalat tarawih bersama pengurus serta anggota Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) di kediamannya di kawasan Jakarta Selatan, Jumat (6/3/2026).
“Dampaknya ke Indonesia langsung terasa di ekonomi. Harga bahan bakar naik, harga LPG naik, dan itu berarti subsidi pemerintah akan semakin besar,” kata Kalla dalam keterangannya, Sabtu (7/3/2026).
Baca juga: Wanti-wanti JK Usai Israel-AS Serang Iran: Dampak Ekonomi dan Rencana Mediator Prabowo
JK juga mengingatkan bahwa konflik yang berlangsung lama dapat mengganggu pasokan energi nasional.
Menurut dia, stok BBM Indonesia relatif terbatas sehingga perlu diantisipasi oleh pemerintah.
“Kalau perang berlangsung lama, stok BBM kita terbatas. Itu bisa menimbulkan kesulitan bagi kegiatan ekonomi dan bisnis,” ujar JK.
Oleh sebab itu, JK berpandangan, pemerintah perlu menentukan prioritas belanja negara agar tidak membebani keuangan negara secara berlebihan.
Baca juga: Prabowo Siap Jadi Mediator Iran-AS, JK: Niat Baik, tapi Dunia Ditentukan Amerika
Menurut dia, pengeluaran negara mesti diselaraskan dengan kondisi penerimaan negara agar sektor-sektor penting seperti pendidikan, pembangunan infrastruktur, dan penguatan ekonomi dasar tetap menjadi prioritas.
Ia mengingatkan, risiko terhadap perekonomian nasional dapat meningkat bahkan berpotensi memengaruhi kepercayaan internasional terhadap ekonomi Indonesia jika pengeluaran tidak dikelola dengan baik.
“Harus ada evaluasi total terhadap kebijakan ekonomi, khususnya dalam penggunaan anggaran. Negara harus menentukan prioritas agar pengeluaran tidak terlalu besar,” kata dia.
Baca juga: Jusuf Kalla: Logikanya, Kita Harus Berpihak kepada Iran
Di samping itu, Kalla menilai Indonesia perlu memiliki sikap politik yang jelas terhadap konflik internasional tersebut.
JK menekankan, sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia perlu menunjukkan posisi diplomatik yang tegas.
"Mesti ada itu keberpihakan. Masa, kita berpihak ke Israel, masa kita berpihak kepada Amerika yang menyerang. Logikanya kita harus berpihak dong kepada negara Iran itu," ujar dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




