Kisah-kisah Jemaah Umrah Terdampak Perang Israel-AS vs Iran

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Abdul Ghofur merupakan jemaah umrah asal Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, yang tertahan di Tanah Suci. Kepulangannya ke Indonesia tertunda selama 11 hari akibat panasnya konflik di Timur Tengah.

Abdul Ghofur merupakan warga RT 7 RW 4, Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Ia berangkat umrah bersama lima anggota keluarganya.

Mereka berenam tergabung di biro umrah Isra Amanah. Di biro itu terdapat jemaah dari daerah lain, di antaranya Bandung dan Palu.

Durasi umrah yang dijalaninya selama 12 hari, yakni di Jeddah, Makkah, dan Madinah. Setelah umrah juga ada city tour, salah satunya ke Jabal Rahmah.

Ia berbagi cerita bersama kumparan pada Jumat (6/3). Dia bersama kelima anggota keluarganya seharusnya terjadwal kembali ke Tanah Air pada 1 Maret 2026 menggunakan maskapai Qatar Airways dan tiba di Kabupaten Kudus pada 3 Maret 2026.

“Pihak biro umrah menyampaikan informasi penundaan kepulangan karena adanya perang di Timur Tengah. Akhirnya kami diminta menunggu per 1 Maret sampai nanti 11 Maret 2026. Kami dijadwalkan kepulangan di tanggal 11 Maret,” katanya kepada kumparan, Jumat (6/3).

Rencananya Abdul Ghofur dan keluarga tiba di Kabupaten Kudus pada 12 Maret 2026. Artinya, mereka tertahan selama 11 hari terhitung sejak 1 Maret 2026 sampai 11 Maret 2026. Apabila dihitung sejak hari ini, Jumat (6/3), mereka masih menunggu lima hari lagi untuk pulang ke Indonesia.

“Iya masih lima hari lagi di sini menunggu kepulangan. Pihak biro sudah bertanggung jawab memberikan solusi. Kami juga disediakan vila untuk tempat istirahat sembari menunggu kepulangan,” sambungnya.

Informasi resmi adanya penundaan kepulangan akibat perang didapatnya pada 1 Maret 2026 saat hendak check out hotel. Namun sehari sebelumnya, pada 28 Februari 2026, kabar adanya perang sudah berseliweran di grup jemaah.

“Setelah ada kabar resmi penundaan kepulangan, dari biro mengarahkan kami ke penginapan semacam vila atau homestay untuk beristirahat sambil menunggu kepulangan,” terangnya.

Di homestay yang berlokasi di Jeddah itu ada 43 orang jemaah. Mereka menginap sejak 1 Maret 2026 sampai menjelang kepulangan pada 11 Maret 2026 mendatang.

Kompensasi dari biro umrah juga diberikan kepadanya. Mulai dari menu untuk berbuka puasa dan menu sahur masih didapatkannya.

“Masing-masing jemaah per orang diminta menambah Rp 2,5 juta untuk tambahan pembayaran tiket kepulangan. Kalau fasilitas sehari-hari di sini semua ditanggung biro,” ujarnya.

Ia menambahkan, dari tambahan Rp 2,5 juta yang dibebankan ke jemaah, khusus jemaah asal Kabupaten Kudus hanya diminta menambah Rp 1,5 juta per jemaah.

“Khusus Kudus Rp 1,5 juta saja penambahan tiket kepulangannya karena biro bertanggung jawab memberikan subsidi Rp 1 juta per jemaah,” jelasnya.

Kisah Kepala Bapperida Kudus Tertahan di Jeddah Usai Umrah Imbas Perang Timteng

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Sulistyowati, tertahan di Jeddah usai menjalankan ibadah umrah. Ia bersama keluarganya tertunda kepulangannya ke Tanah Air akibat AS-Israel serang Iran.

Sulistyowati berbagi pengalamannya dengan kumparan pada Kamis (5/3). Ia menjalani umrah selama 12 hari, mulai 19 Februari 2026 sampai 2 Maret 2026.

Seharusnya, pada 2 Maret 2026 pukul 09.30 WIB ia terjadwal sudah pulang ke Indonesia, mendarat di Yogyakarta International Airport.

Sulistyowati bersama keluarga berangkat umrah dari Kabupaten Kudus pada 18 Februari 2026. Bersama empat keluarganya yang lain ia menginap terlebih dahulu di Swiss-Belboutique Yogyakarta. Kemudian mereka berlima berangkat ke tanah suci pada 19 Februari 2026 pukul 10.00 WIB via Yogyakarta International Airport menggunakan maskapai Malaysia Airlines.

Dia tergabung bersama Biro Umrah Ameera Utama. Dari Kabupaten Kudus hanya Sulistyowati bersama empat keluarganya. Mereka kemudian digabung dengan grup umrah dari biro PT Firdaus Mulia Abadi Solo. Total jemaah ada 49 orang. Mereka berasal dari Solo, Bantul, Pekalongan dan kota lainnya.

Ia menyampaikan, selama berada di Madinah menginap di Hotel Concode Alnazeel Medinah. Sedangkan saat berada di Makkah, ia menginap di Ajyad Makarem Makkah.

Selama umrah, kegiatannya berfokus pada ibadah, itikaf ke Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Selain itu ada city tour di sekitar Madinah dan Makkah.

"Kami selesai umrah Sabtu, 28 Februari 2026. Saat tawaf jam 8 pagi kami belum tahu ada perang. Termasuk saat checkout menuju bandara pukul 2 siang juga belum tahu ada perang. Menjelang berbuka puasa di Corniche Commercial Center baru ada pengumuman pembatalan penerbangan," katanya kepada kumparan, Kamis (5/3).

Berdasarkan informasi yang ia dapat, jadwal kepulangnya dibatalkan demi kesalamatan penerbangan.

Usai mendapatkan kabar tersebut Sulistyowati melaksanakan salat Maghrib dan Isya di Corniche. Kemudian, mereka diarahkan ke hotel yang disediakan maskapai di Hotel Mirnian Jeddah.

Cerita Rano Karno Umrah di Tengah Konflik Israel-AS dan Iran

Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, menceritakan pengalamannya saat menjalankan ibadah umrah di tengah eskalasi yang meningkat di kawasan Timur Tengah.

Hal itu menyusul serangan Israel dan Amerika Serikat ke Iran sejak Sabtu (28/2) yang kemudian memicu serangan balasan.

Ia menyebut, jemaah yang menggunakan penerbangan langsung ke Jakarta relatif aman dan tidak terdampak gangguan perjalanan.

“Ya Alhamdulillah, perlu juga diklarifikasi, Insyaallah untuk jemaah haji atau jemaah umrah yang menggunakan pesawat secara direct, tidak terganggu,” kata Rano kepada wartawan di Balai Kota, Jakarta, Kamis (5/3).

Menurutnya, kendala justru dialami jemaah yang menggunakan penerbangan transit melalui sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.

“Tapi memang yang transit melalui Qatar, melalui Abu Dhabi, semuanya berhenti. Ini yang membuat kemarin mungkin lebih dari 38 ribu jemaah kita yang tidak bisa kembali, menunggu,” ujarnya.

Rano menjelaskan terdapat tiga maskapai yang melayani penerbangan langsung menuju Jakarta sehingga jemaah tetap dapat pulang tanpa harus transit di negara lain.

“Nah, Alhamdulilah, kalau untuk yang direct di Jakarta itu ada tiga pesawat. Pertama adalah Saudi yang direct, kemudian kedua Lion Air yang direct, dan terakhir adalah Garuda. Insyaallah mudah-mudahan itu yang bisa terjadi,” tuturnya.

Ia juga menceritakan pengalamannya bertemu sejumlah penumpang asing yang memilih maskapai Indonesia demi menghindari hambatan perjalanan akibat konflik di kawasan tersebut.

“Bahkan memang, semalam saya baru pulang, banyak sekali masyarakat asing yang menggunakan pesawat Garuda. Bahkan ada satu orang, dia dari Doha naik taksi ke Riyadh, itu biaya ongkos taksinya hampir Rp 28 juta, kemudian dia naik pesawat Garuda,” ucapnya.

Kisah Jemaah Umrah RI di Saudi Terimbas Perang: Susah Cari Tiket Pesawat Pulang

Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah yang sedang memanas hingga dinamika penerbangan berdampak pada perjalanan umrah. Jemaah asal Indonesia dilaporkan tertahan dan harus memperpanjang masa tinggal di Makkah, Arab Saudi hingga beberapa hari ke depan.

Kisah ini juga datang dari Direktur NoorWay by Nurul Ashri, Ratu Fitriah. Sebanyak 10 jemaah umrah yang harusnya sudah tiba di Indonesia 4 Maret kemarin, baru bisa pulang ke Indonesia tanggal 8 Maret mendatang.

Mendapat kepastian pulang ini pun membutuhkan perjuangan panjang.

"Kita dijadwalkan pulang (jemaah rombongan berangkat) awal Ramadan itu pulang 4 Maret kemarin. Check-in dari malam tanggal 3-nya. Kami pakai maskapai Qatar Airways transitnya Doha," kata Ratu melalui sambungan telepon, Kamis (5/3).

Namun sejak tanggal 28 Februari situasi di Timur Tengah mulai memanas. Dimulai dari serangan Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran, dan Iran yang membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di sejumlah negara di Timur Tengah. Imbasnya, sejumlah penerbangan sempat dibatalkan.

Saat itu, Ratu berpikir untuk menunggu update dari maskapai langganannya. Mulai dari menunggu email hingga memantau media sosial.

Saat itu Ratu menunggu sembari terus menelepon call center maskapai tapi selama 24 jam tak bisa dihubungi. Email pun tidak berbalas. Update pun hanya bisa menunggu website dan medsos maskapai.

Sementara tanggal 3 Maret mereka seharusnya sudah mulai berangkat. Lantaran sampai tanggal 2 Maret tak ada kabar, Ratu mencoba mencari opsi penerbangan lainnya.

Penerbangan baru yang bisa saat itu adalah direct atau langsung. Banyak biro umrah yang membeli saat itu.

"Waktu itu masih ada di angka Rp 8 juta," jelasnya.

Ratu kemudian berdiskusi dengan tim dan jemaah. Namun, selang beberapa jam tiket sudah habis semua saat itu. Ada yang masih tersedia tapi harganya mencapai Rp 15 juta.

"Berkali-kali lipat," katanya.

Harga sudah tak masuk akal, maka Ratu memutuskan untuk mencari opsi tanggal lain. Akhirnya menemukan di tanggal 10 Maret. Dia kembali berdiskusi dengan jemaah karena di tanggal itu tiket sudah tinggi.

"Kami transparansi kepada jemaah. Akhirnya kami tawarkan ke jemaah hotel extend lima hari akan ditanggung NoorWay, makan ditanggung travel, dan kami harus reschedule bus. Akomodasi selama di sini kami yang tanggung tapi kami butuh bantuan jemaah untuk tambahan di tiketnya. Setelah diskusi, jemaah setuju," katanya


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kisi-Kisi Dividen Avian (AVIA) untuk Tahun Buku 2025
• 23 jam laluidxchannel.com
thumb
Sinyal Kuat Elkan Baggott Comeback ke Timnas Indonesia Era John Herdman, FIFA Series Jadi Panggungnya
• 18 jam laluharianfajar
thumb
Viral Aksi Penempelan Stiker QR Code Judol, Pramono Minta Satpol PP Ambil Tindakan
• 21 jam laluidxchannel.com
thumb
5 Pertimbangan Hakim yang Jadi Dasar Vonis Bebas Delpedro Cs
• 16 jam lalukompas.com
thumb
Sinopsis BERI CINTA WAKTU SCTV Episode 175, Hari Ini Jumat 6 Maret 2026: Bukti DNA Milik Adila Ditemukan, Trian Syok Lihat Sosok yang Mirip
• 19 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.