Menu MBG di DIY Cantumkan Kadar Gizi, Apa Manfaatnya?

kompas.id
10 jam lalu
Cover Berita

Menu Program Makan Bergizi Gratis atau MBG di DI Yogyakarta kini dilengkapi dengan label yang mencantumkan kandungan gizi dan harga setiap jenis makanan. Apa manfaatnya bagi publik?

Kebijakan mencantumkan kandungan gizi makanan dan harga setiap jenis makanan pada paket MBG dilakukan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah DIY sejak 26 Februari 2026. Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Regional DIY Gagat Widyatmoko menyebut, hal ini dilakukan sebagai wujud transparansi dan akuntabilitas dalam layanan publik.

Gagat menjelaskan, langkah ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada masyarakat mengenai komposisi dan nilai paket makanan yang disalurkan kepada penerima manfaat. Hal ini sekaligus menjawab aspirasi masyarakat yang menyoroti angka kecukupan gizi serta kesesuaian nilai paket pada menu MBG.

Gagat menambahkan, transparansi ini tidak hanya bertujuan menjawab aspirasi publik, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan tata kelola program MBG agar tetap berada pada koridor standar gizi, keamanan pangan, serta ketentuan administrasi yang berlaku.

Kebijakan ini juga didorong oleh Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X. Sultan menanggapi banyaknya laporan protes dari orangtua siswa yang mengeluhkan menu MBG yang disajikan selama bulan Ramadhan yang didominasi roti. Hal itu dinilai tidak layak sebagai asupan gizi utama dan justru berujung mubazir.

Baca JugaRespons Keluhan, MBG di DIY Diminta Cantumkan Kadar Gizi dan Harga

Pemerintah Daerah DIY kemudian meminta pelaksana program MBG agar kualitas makanan benar-benar mencerminkan anggaran yang telah dialokasikan. Sultan tidak ingin ada kesan bahwa penyajian menu dilakukan secara serampangan tanpa perhitungan gizi yang matang.

Lebih lanjut, Sultan juga menekankan pentingnya rincian biaya yang masuk akal. Raja Keraton Yogyakarta itu pun berharap tidak ada lagi permainan harga yang mengakibatkan kualitas makanan menurun drastis saat sampai ke tangan siswa.

Kompas pun melihat salah satu label paket MBG dari sebuah SPPG di Kabupaten Sleman. Label dari kertas itu diselipkan di dalam paket MBG kering yang dibagikan kepada siswa sekolah pada Jumat (6/3/2026).

Label itu mencantumkan tabel yang berisi menu makanan di kolom kiri dan kandungan gizinya di barisan kolom sebelah kanan. Terdapat satu kolom lagi yang memuat harga setiap jenis makanan tersebut.

Baca JugaBGN Persilakan Sekolah Tolak Makan Bergizi Gratis jika Tidak Layak

Menu hari itu terdiri dari jagung rebus (Rp 3.000), sepotong ayam ungkep (Rp 4.000), sepotong tempe ungkep (Rp 900), sepotong buah timun (Rp 1.100), dan sebungkus kacang rebus (Rp 1.000). Ini merupakan paket MBG porsi besar yang senilai Rp 10.000 per paket.

Setiap jenis makanan itu dirinci kandungan gizinya yang terdiri dari kadar energi, protein, lemak, karbohidrat, dan serat. Di bagian bawah tercantum total kandungan gizi dari semua jenis makanan itu, yakni 383,1 kilokalori (kkal) energi, 23,2 gram protein, 13,4 gram lemak, 42,3 gram karbohidrat, dan 6,2 gram serat.

Ahli gizi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Rio Jati Kusuma, mengatakan, sebagai ahli gizi, dirinya merespons sangat positif pencantuman nilai gizi pada paket MBG di DIY. Hal ini diharapkan bisa menjawab pertanyaan publik tentang kandungan gizi MBG yang disandingkan dengan nilai rupiah setiap menunya.

”Dengan label ini, MBG jadi transparan. Artinya memang nilai gizi dalam MBG sekali makan itu kandungan gizinya sekian, dan lain-lain,” ujar dosen Departemen Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM tersebut.

Baca JugaYLKI: Warga Berhak Tahu Kandungan Gizi Menu MBG

Rio mengatakan, angka-angka kandungan gizi itu dihitung oleh ahli gizi yang bertugas di setiap SPPG. Lebih jauh, angka itu pun bisa dicocokkan oleh para orangtua dengan angka kecukupan gizi (AKG) rata-rata harian yang disesuaikan dengan kelompok umur.

Dia menjelaskan, para ahli gizi biasanya membagi AKG dalam tiga kali makan besar dan dua kali makan ringan atau camilan. Misalnya, kebutuhan kalori atau energi seorang anak dalam sehari adalah 1.500 kkal, maka setiap makan besar idealnya mengandung 400 kkal dan makan ringan 150 kkal.

Rio menyebut, untuk menu MBG kering yang biasanya disajikan SPPG saat Ramadhan, nilai gizinya tetap bisa setara dengan menu MBG basah yang disajikan saat bulan biasa. Salah satunya, dia mencontohkan, untuk nasi dengan takaran 100 gram bisa diganti dengan dua lembar roti tawar.

”Problemnya kalau menu kering biasanya kandungan seratnya lebih rendah dibanding menu basah. Sebab, sayuran jarang sekali ada yang dalam bentuk kering. Karena itu, yang perlu diperhatikan pada makan pagi dan malam itu adalah pemenuhan kebutuhan serat, terutama dari sayuran,” ucapnya.

Terlepas dari itu, langkah DIY mencantumkan label kandungan gizi dan harga pada MBG patut diapresiasi. Ini sekaligus membuka ruang partisipasi publik dalam pengawasan program nasional yang menelan anggaran tak sedikit tersebut.

Baca JugaPengawasan Program MBG Diperketat, SPPG Wajib Penuhi Tiga Sertifikasi

Dengan label ini, MBG jadi transparan. Artinya memang nilai gizi dalam MBG sekali makan itu kandungan gizinya sekian, dan lain-lain.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pakar-Media Korea Soroti Kim Jong-un Usia Lihat Nasib Maduro-Khamenei
• 2 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Waka MPR Minta Publik Tenang soal BBM: Kita Hanya Ambil 20% dari Timteng
• 16 jam laludetik.com
thumb
JK Minta Indonesia Bersikap Tegas atas Perang di Iran: Logikanya Berpihak pada yang Diserang
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
BINA Lebaran 2026 Beri Diskon hingga 80 Persen, Target Transaksi Capai Rp53 Triliun
• 6 jam laluidxchannel.com
thumb
Indonesia-Belarus Perkuat Kerja Sama Ekonomi Strategis
• 13 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.