Jaringan bioskop PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (Cinema XXI) mencatat pendapatan sebesar Rp 5,9 triliun sepanjang 2025, meningkat 2,6 persen dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp 5,7 triliun.
Dari sisi laba, perusahaan membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp 776,2 miliar. Sementara itu, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) tercatat Rp 1,8 triliun. Direktur Utama Cinema XXI, Suryo Suherman, mengatakan kinerja tersebut dicapai di tengah dinamika industri hiburan dan ekonomi.
"Di tengah dinamika ekonomi dan industri, Cinema XXI menjaga kinerja bisnis dan senantiasa memberikan pengalaman menonton terbaik bagi para penikmat film di seluruh Indonesia. Kepercayaan dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan menjadi penguat utama dalam menjaga kinerja perusahaan," ujar Suryo, dalam keterangan resmi, dikutip Sabtu (7/3).
Suryo menjelaskan, pendapatan perusahaan pada 2025 didominasi dari penjualan tiket yang mencapai Rp 3,6 triliun. Penjualan makanan dan minuman menyumbang Rp 2 triliun. Adapun pendapatan lain sebesar Rp 298 miliar berasal dari iklan, platform digital, dan penyelenggaraan acara.
Sepanjang 2025, Cinema XXI mencatat jumlah penonton sebanyak 85 juta orang. Rata-rata harga tiket atau Average Ticket Price (ATP) meningkat 3 persen menjadi Rp 46.057.
Kenaikan harga tiket rata-rata itu didorong oleh meningkatnya okupansi pada studio premium seperti The Premiere dan IMAX.
Di sisi lain, rata-rata belanja makanan dan minuman per penonton (spend per head) juga meningkat 5,9 persen menjadi Rp 25.814.
Sepanjang tahun lalu, perusahaan juga mengembangkan lebih dari 30 menu baru di XXI Café dan The Premiere Café serta menerapkan strategi bundling tiket dan makanan-minuman melalui aplikasi m.tix.
Dari sisi ekspansi, Cinema XXI meresmikan 12 bioskop baru dan menambah 43 layar sepanjang 2025. Ekspansi mencakup pembukaan jaringan di sejumlah wilayah baru, seperti Indramayu, Pematangsiantar, Magelang, Tuban, dan Kota Metro di Lampung.
Hingga 31 Desember 2025, Cinema XXI mengoperasikan 267 bioskop dengan total 1.388 layar yang tersebar di 56 kota dan 30 kabupaten di Indonesia. Suryo menilai, prospek industri perfilman nasional masih akan tumbuh seiring meningkatnya kualitas dan keragaman konten film.
Sepanjang 2025 pula, ada lebih dari 20 film nasional maupun internasional yang masing-masing ditonton lebih dari satu juta penonton. Bahkan dua film nasional mencatatkan lebih dari 10 juta penonton, yaitu Jumbo dan Agak Laen: Menyala Pantiku!.
"Melihat antusiasme penonton dan kualitas konten yang terus berkembang, kami optimistis industri perfilman nasional akan terus bertumbuh," kata Suryo.





