Bersyukur pada Bulan, Melupakan Matahari

erabaru.net
16 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Ada sebuah kisah Yahudi yang sederhana namun penuh makna.

Suatu hari, seseorang bertanya kepada seorang pria tua, “Menurut Anda, mana yang lebih penting—matahari atau bulan?”

Pria tua itu berpikir cukup lama, lalu menjawab, “Bulan lebih penting.”

“Mengapa?”

“Karena bulan bersinar di malam hari, saat kita paling membutuhkan cahaya. Sementara siang hari sudah cukup terang, tetapi justru matahari bersinar saat itu,” jawabnya.

Kita mungkin akan tersenyum mendengar jawaban itu dan menganggap sang pria tua keliru. Namun, bukankah dalam kehidupan nyata banyak orang bersikap serupa?

Orang yang setiap hari menjaga dan memperhatikan kita, sering kali kita anggap biasa saja. Namun jika seorang asing melakukan hal yang sama, kita langsung merasa sangat tersentuh. Orang tua, pasangan, keluarga—yang terus memberi dan berkorban—kita anggap itu sudah sewajarnya, bahkan kadang masih kita keluhkan. Tetapi ketika orang luar melakukan kebaikan yang serupa, kita merasa begitu berutang budi dan terharu.

Bukankah ini seperti “bersyukur pada bulan, tetapi mengabaikan matahari”?

Semangkuk Mi yang Menyadarkan

Seorang gadis pernah bertengkar hebat dengan ibunya. Dalam kemarahan, ia membanting pintu dan bersumpah tak akan kembali ke rumah yang ia anggap menyebalkan itu.

Seharian ia berjalan tanpa tujuan. Perutnya keroncongan, tetapi ia tidak membawa uang saku. Rasa gengsi membuatnya enggan pulang untuk makan.

Menjelang malam, ia berhenti di depan sebuah warung mi. Aroma kuah yang hangat menggoda perutnya yang kosong. Ia hanya bisa menelan ludah.

Tiba-tiba sang pemilik warung bertanya ramah, “Nona, mau makan mi?”

Gadis itu menjawab pelan, “Saya mau… tapi saya tidak membawa uang…”

Pemilik warung tertawa kecil. “Tidak apa-apa. Anggap saja malam ini saya yang traktir.”

Gadis itu hampir tak percaya. Ia duduk dan tak lama kemudian semangkuk mi hangat tersaji. Ia makan dengan lahap.

“Pak, Anda baik sekali,” katanya terharu.

“Kenapa begitu?” tanya si pemilik warung.

“Kita tidak saling kenal, tapi Anda begitu baik pada saya. Tidak seperti ibu saya… dia tidak pernah mengerti apa yang saya rasakan. Benar-benar menyebalkan!”

Pemilik warung tersenyum lagi. “Saya hanya memberi kamu semangkuk mi, dan kamu sudah begitu berterima kasih. Ibumu sudah memasakkan makanan untukmu lebih dari dua puluh tahun. Bukankah kamu seharusnya lebih berterima kasih kepadanya?”

Ucapan itu seperti petir yang menyambar kesadarannya. Air matanya langsung mengalir. Ia bahkan tak menghabiskan mi di mangkuknya. Ia berlari pulang.

Di ujung gang rumahnya, ia melihat ibunya berdiri cemas di depan pintu, menoleh ke kiri dan kanan mencari keberadaannya. Hatinya langsung terasa sesak.

Seribu kata maaf ingin ia ucapkan.

Namun sebelum ia sempat berbicara, ibunya sudah mendekat dan berkata dengan nada penuh khawatir, “Kamu dari mana saja seharian ini? Ibu cemas sekali! Ayo masuk, cuci tangan, makan malam sudah siap.”

Malam itu, untuk pertama kalinya ia benar-benar merasakan betapa besar cinta ibunya.

Matahari Selalu Ada

Matahari selalu bersinar, sehingga kita lupa betapa penting cahayanya.
Keluarga selalu ada, sehingga kita lupa betapa hangatnya perhatian mereka.

Orang yang setiap hari dipedulikan justru sering lupa untuk bersyukur. Apakah karena siang sudah terang, lalu matahari dianggap tidak diperlukan?

Renungan

Tulisan ini mungkin sudah sering beredar. Namun bacaan yang sama, dibaca dengan hati yang berbeda, bisa memberi makna yang berbeda pula.

Dalam cerita ini, matahari diibaratkan sebagai orang tua—kasih dan pengorbanan mereka yang terus-menerus. Bulan melambangkan orang luar—mereka yang membantu kita di saat-saat tertentu.

Kita sering menganggap kebaikan orang tua sebagai sesuatu yang wajar. Namun ketika orang lain melakukan hal yang sama, kita merasa sangat terharu.

Mengapa kita bersyukur pada bulan, tetapi mengabaikan matahari?

Itulah sifat manusia. Hubungan darah, kedekatan, dan keterikatan membuat kita merasa semua itu memang sudah seharusnya.

Namun mari kita lihat dari sudut lain.

Jika anak atau orang tua meminta sejumlah uang dalam keadaan mendesak, banyak dari kita akan memberi—bahkan tanpa banyak bertanya. Tetapi jika orang asing datang meminta jumlah yang sama, berapa banyak yang akan langsung memberikannya?

Semakin besar jumlahnya, semakin besar pula perbedaan antara memberi kepada keluarga dan kepada orang luar.

Dalam konteks ini, matahari seperti kasih orang tua yang menyinari kita setiap hari—terus-menerus, tanpa henti. Bulan seperti sahabat atau kerabat yang membantu kita ketika orang tua tidak berada di sisi kita.

Keduanya penting.

Namun kita perlu sadar satu hal: cahaya bulan sejatinya berasal dari matahari. Bulan hanya memantulkan sinarnya.

Begitu pula dalam hidup. Terkadang ada orang lain yang membantu kita, tetapi itu bisa jadi karena menghormati orang tua kita, atau karena nilai-nilai yang ditanamkan keluarga kepada kita.

Maka selain berterima kasih kepada “bulan” yang menerangi malam kita, jangan pernah lupa pada “matahari” yang setiap hari tanpa lelah memberi cahaya dan kehangatan.

Karena tanpa matahari, bulan pun tak akan pernah bersinar. (jhon)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gempa Hari Ini Magnitudo 3,2 Guncang Pacitan Jawa Timur
• 21 jam lalurctiplus.com
thumb
Perang Iran dan Kebutuhan Mitigasi Energi Indonesia
• 18 jam lalurepublika.co.id
thumb
Tugu Masuknya Injil di Ilaga Diresmikan oleh Bupati Puncak, Warisan Iman untuk Generasi Papua
• 8 jam lalukompas.tv
thumb
Tolak Tunduk Ke Trump, Faksi Iran Bombardir Gudang Bahan Kimia AS
• 16 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
ABKI dan ASMA Fasilitasi Tenaga Kesehatan Indonesia Berkarier di Arab Saudi
• 13 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.