JAKARTA, DISWAY.ID— Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) merilis temuan mengerikan terkait keamanan pangan selama bulan Ramadan 2026. Sejumlah menu favorit takjil atau berbuka puasa, mulai dari mi kuning hingga es cendol, terdeteksi mengandung zat berbahaya seperti pengawet mayat (formalin) dan pewarna tekstil (rhodamin B) di berbagai kota besar.
Kepala BPOM Taruna Ikrar mengungkapkan, hasil uji petik di lapangan menunjukkan sebaran bahan berbahaya ini meliputi wilayah dari ujung barat hingga timur Indonesia.
Berdasarkan hasil rapid test kit terhadap ribuan sampel makanan, petugas BPOM menemukan fakta mengkhawatirkan. Mi kuning basah dan tahu mengandung formalin banyak ditemukan di Tangerang dan Surabaya.
BACA JUGA:Lonjakan 44 Persen, BPOM Temukan Ribuan Pangan Berbahaya Jelang Lebaran 2026
Rhodamin B ditemukan dalam sirup, es cendol, dan kerupuk di Jakarta hingga Ambon. Boraks juga ditemukan pada mi kuning dan lontong di Padang, Denpasar, hingga Ambon.
"Zat-zat ini bukan untuk dimakan. Kami menemukan penggunaan bahan berbahaya yang masih marak, bahkan boraks juga ditemukan pada mi kuning dan lontong di daerah Padang, Denpasar, hingga Ambon," tegas Taruna dalam keterangan resminya, Jumat (6/3/2026).
Selain temuan zat kimia pada takjil, BPOM menyoroti membanjirnya produk pangan tanpa izin edar (TIE) yang angkanya melonjak 44 persen dibanding tahun lalu.
Sebanyak 32.608 produk pangan tidak layak edar berhasil diamankan, dengan nilai ekonomi mencapai lebih dari Rp331 juta.
Produk-produk ilegal ini banyak ditemukan di gudang distributor dan ritel modern. Produk impor seperti kembang gula dari Malaysia serta cokelat dari Arab Saudi dan Turki menjadi yang paling banyak disita karena tidak memenuhi ketentuan keamanan.
BACA JUGA:Berapa Besaran THR Pensiunan PNS 2026? Cek Nominal dan Waktu Pencairannya
Menanggapi maraknya peredaran pangan berbahaya ini, Taruna Ikrar meminta masyarakat menjadi konsumen kritis sebelum membeli.
"Kami mengimbau masyarakat untuk lebih waspada. Jangan tergiur warna yang cantik atau tekstur yang bagus tapi justru mengancam kesehatan jangka panjang," tutur Taruna.





