Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto memaparkan alasan Indonesia bergabung dalam Dewan perdamaian internasional atau Board of Peace (BoP). Hal itu disampaikan Prabowo saat bertemu 160 tokoh agama dan tokoh organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (5/3/2026) malam.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan melalui unggahan di akun Instagram @sekretariat.kabinet yang dikutip Sabtu (7/3/2026) bahwa dalam pertemuan yang berlangsung lebih dari tiga jam tersebut Presiden menjelaskan secara langsung proses dan pertimbangan di balik keterlibatan Indonesia dalam forum tersebut.
“Presiden Prabowo menegaskan bahwa keputusan Indonesia bergabung dalam Board of Peace merupakan langkah konkret yang ditempuh pemerintah untuk membantu mengurangi konflik dan jumlah korban di Palestina,” ujar Teddy dalam keterangannya.
Menurut Teddy, Presiden juga menyampaikan bahwa keputusan tersebut diambil setelah melalui komunikasi intensif dengan sejumlah pemimpin negara mayoritas Islam dan negara-negara di kawasan Timur Tengah, antara lain Turkiye, Arab Saudi, Mesir, Qatar, Uni Emirat Arab (UAE), Pakistan, Yordania, Kuwait, dan Bahrain.
“Keputusan ini pun telah melalui komunikasi intensif dengan sejumlah pemimpin negara mayoritas Islam dan negara kawasan Timur Tengah,” kata Teddy.
Dalam kesempatan itu, Teddy melanjutkan bahwa Presiden juga memaparkan data terkait perkembangan situasi di Gaza sejak ditandatanganinya perjanjian damai Gaza-Palestina di Sharm El-Sheikh, Mesir, pada Oktober 2025.
Baca Juga
- Anies Desak RI Keluar dari Board of Peace: Bebas Aktif Bukan Berarti Asal Ikut di Semua Meja
- Majelis Rasulullah Minta Prabowo Tinjau Ulang Keanggotaan RI di Board of Peace
- Gus Yahya Dorong RI Manfaatkan Board of Peace untuk Damaikan Iran-AS
Dalam enam bulan terakhir, kata Teddy, jumlah konflik dan korban jiwa di Gaza dilaporkan mengalami penurunan signifikan. “Dalam enam bulan terakhir jumlah korban konflik di Gaza berkisar sekitar 600 hingga 1.000 jiwa, jauh menurun dibandingkan periode 2024–2025 yang mencapai lebih dari 70.000 korban,” ujar Teddy.
Selain itu, jalur logistik melalui jalan darat di Rafah yang sebelumnya tertutup juga telah dibuka kembali sehingga memungkinkan bantuan kemanusiaan masuk ke wilayah Gaza.
Kendati demikian, Presiden Prabowo menegaskan bahwa penghentian konflik secara total tidak dapat terjadi secara instan. “Penghentian konflik secara total tidak bisa terjadi seketika. Masih ada beberapa konflik dan korban berjatuhan, namun jumlahnya sudah jauh berkurang,” tandas Teddy.





