jpnn.com, JAKARTA - Pengamat sosial dan ekonomi Anwar Abbas menyebut Board of Peace (BoP) sudah tak bisa diharapkan menjadi lembaga yang bisa diharapkan untuk mewujudkan perdamaian di Palestina.
Menurutnya, Indonesia sebagai negara yang bermartabat seharusnya bisa memutuskan keluar dari organisasi bentukan Presiden AS Donald Trump.
BACA JUGA: Kritik Mahasiswa-Masyarakat Sipil kepada Prabowo-Gibran soal ART hingga BOP, Keras!
"Menjaga harkat dan martabat serta nilai-nilai luhur bangsa, sebaiknya Indonesia keluar dari lembaga tersebut," kata Anwar melalui layanan pesan, Sabtu (7/3).
Buya Anwar sapaan Anwar Abbas menuturkan beberapa hal bisa menjadi dasar pertimbangan Indonesia harus keluar dari BoP.
BACA JUGA: BoP Tak Punya Legitimasi Moral, Sudah Saatnya Indonesia Keluar
Pertama, kata dia, Trump yang juga menjadi Ketua BoP tak melibatkan perwakilan Palestina dalam organisasi tersebut.
Buya Anwar menyebut anggota BoP hanya diisi oleh negara yang memiliki ketergantungan terhadap AS, sehingga mudah disetir Trump yang berstatus pendukung garis keras Perdana Menteri (PM) Israel Benyamin Netanyahu.
BACA JUGA: Keanggotaan BOP Dinilai Bertentangan dengan Gagasan Bung Karno
"Tentu tidak mustahil Donald Trump akan bisa berbuat semaunya dan bila itu yang terjadi, titah Trump tentu akan menjadi hukum dan kita tidak mau itu terjadi," lanjut dia.
Kedua, ujar Buya Anwar, Trump sebagai Ketua BoP memiliki perangai buruk dan bermasalah secara moral.
Semisal, ungkap dia, Trump memerintahkan aparat AS menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan menyerang Iran.
"Timbul pertanyaan apakah kita masih percaya Donald Trump akan dapat menciptakan perdamaian padahal dia sendiri adalah biang kerok dari berbagai konflik, permusuhan dan peperangan yang terjadi di dunia," kata Buya Anwar.
Selanjutnya, kata dia, Indonesia dalam konstitusi seharusnya menentang dan menghapus penjajahan di dunia.
Namun, lanjut Buya Anwar, Trump sebagai Ketua BoP malah mendukung praktik penjajahan oleh Israel terhadap Palestina.
Keempat, kata dia, Indonesia selama ini menjunjung tinggi nilai perikemanusiaan dan perikeadilan.
Menurutnya, nilai itu tak sekali pun ditunjukkan oleh Netanyahu sebagai anggota BoP dan Trump selaku pemimpin organisasi yang sama.
Kelima, kata dia, tujuan Trump untuk membangun kembali Gaza bukan untuk diserahkan kepada Palestina.
Buya Anwar menduga Gaza hendak disulap menjadi kawasan bisnis yang akan diurus bukan oleh rakyat Palestina, tetapi pihak AS serta Israel.
"Oleh karena itu, daripada kita dikadalin oleh Trump dan agar kita tidak menyesal kemudian hari, lebih baik kita mundur saja dari sekarang karena kehadiran BoP dilihat dari segi kepentingan perjuangan rakyat Palestina dan kepentingan kita sebagai bangsa, nyaris tidak ada,"ujar dia. (ast/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Di Depan Ulama, Presiden Prabowo Sebut Indonesia Siap Keluar dari BoP, Jika...
Redaktur : Dedi Sofian
Reporter : Aristo Setiawan




