Bisnis.com, MALANG—Empat mahasiswa Universitas Brawijaya (UB), Dastino Putra Rendy Lovind dan Anggie Fadillah Dwiva (Teknik Bioproses/FTP), serta Livy Noer Azizah dan Rifda Alfia Safina (Ilmu dan Teknologi Pangan/FTP) menciptakan aplikasi Buddy (breast urgency detection device with thermography) untuk mendeteksi dini kanker payudara,
“Ide yang kami usung bernama BUDDY (breast urgency detection device with thermography), merupakan sistem deteksi dini kanker payudara yang mengutilisasi kamera termal. Sistem ini dapat dijalankan melalui aplikasi di ponsel, dan dapat memberikan hasil secara cepat dalam 5-10 detik,” jelas Dastino, Jumat (6/3/2026).
Kanker payudara, kata dia, merupakan salah satu kanker prevalen, namun dalam cara deteksinya yakni SADARI (pemeriksaan payudara sendiri) dan SADANIS (pemeriksaan payudara klinis) ditemukan banyak ketidaknyamanan, termasuk rendahnya edukasi deteksi mandiri sehingga, dirinya mencoba membuat alternatif pemeriksaan yang dapat dilakukan sendiri di rumah.
Dastino menjelaskan cara kerja aplikasi ini cukup sederhana, pertama, pengguna diminta mengisi survey, kedua, pasien akan difoto menggunakan kamera termal dengan jarak 60 cm secara horizontal dari payudara, ketiga, data tersebut akan dikirim ke sistem BUDDY melalui server hosting.
Selanjutnya, kecerdasaan buatan (AI) yang telah dilatih menggunakan ribuan foto sampel dari DMR, anotasi roboflow, dan AI YOLO v8 akan menunjukan hasilnya. Deteksi melingkupi lokasi, ukuran, dan jenis stadium kanker payudara.
“Secara garis besar, aplikasi ini dibagi menjadi dua bagian yakni mata untuk melihat ide adalah kamera termal, lalu otaknya adalah perangkat lunak. Aplikasi ini juga disertai AI yang telah dilatih,” tambahnya.
Baca Juga
- AI Mulai Digunakan untuk Deteksi Kanker Payudara di Indonesia
- Perempuan Menstruasi Sebelum Usia 12 Tahun Berisiko Kena Sakit Jantung dan Kanker Payudara
- AstraZeneca dan Siloam Tingkatkan Akurasi Diagnosis Kanker Payudara dengan AI
Menurutnya, dirinya dan tim sempat kesusahan menutupi biaya registrasi finalis. Meskipun demikian, dia sangat bersyukur, fakultasnya dan timnya memberi bantuan dana meski hanya sebagian dari total.
“Agar mahasiswa berani untuk mengikuti lomba international, kami berharap pihak kampus dapat memberikan bantuan lebih banyak khususnya di bagian dana,” tuturnya,
Dia berpesan, jangan takut mencoba segala macam lomba nasional/internasional, satu-satunya kemenangan hanya dapat dicapai lewat keberanian mencoba terlebih dahulu. Dastino juga berharap untuk kedepannya, ide ini dapat dikomersialisasikan atau dibantu pengembangannya oleh pemerintah.
Aplikasi tersebut berhasil menjadi juara kedua (runner up) dalam kompetisi International Student Competition 2026 yang diselenggarakan oleh CEM UPM Malaysia.





