Menteri Perang AS Serukan Rakyat Iran: “Tetap di Rumah, Tunggu Sampai Penindas Dibom Habis” 

erabaru.net
10 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Dalam pernyataannya pada 5 Maret, Menteri Perang AS Pete Hegseth menyampaikan pesan kepada rakyat Iran:  “Tetaplah di rumah. Kami sedang mengebom orang-orang yang menindas kalian. Tetap tenang dulu, tunggu sampai para penindas itu kami habisi.”

Konferensi pers tersebut digelar di markas CENTCOM di Florida, Amerika Serikat, untuk mengumumkan perkembangan terbaru operasi militer terhadap Iran.

Hegseth mengatakan bahwa serangan balasan Iran terhadap negara-negara di sekitarnya merupakan kesalahan strategis yang serius. Menurutnya, langkah itu tidak berhasil mengisolasi Amerika Serikat, tetapi justru mendorong negara-negara Teluk yang sebelumnya ingin netral untuk lebih dekat ke kubu Amerika.

Ia juga menegaskan bahwa persediaan amunisi militer AS sangat cukup, dan kekuatan serangan yang akan diluncurkan selanjutnya bisa mencapai beberapa kali lipat dari serangan saat ini.

Serangan B-2 dan Target Militer Iran

Satu jam sebelum konferensi pers, militer AS mengerahkan B-2 Spirit, pesawat pengebom siluman, yang menjatuhkan puluhan bom penghancur bunker seberat 2.000 pon untuk menghancurkan peluncur rudal balistik Iran yang tertanam jauh di bawah tanah.

Laksamana Cooper mengkonfirmasi bahwa tujuan strategis militer AS kini telah bergeser menjadi “melumpuhkan secara sistematis industri produksi rudal Iran.”

Dalam 72 jam terakhir, pasukan gabungan telah menyerang sekitar 200 target di wilayah Iran.

Ia mengatakan : “Kami tidak hanya menyerang peralatan yang mereka miliki sekarang, tetapi juga menghancurkan kemampuan mereka untuk membangun kembali.”

Cooper juga menyebut bahwa militer AS menyerang lembaga Iran yang setara dengan Komando Luar Angkasa AS, yang menurutnya melemahkan kemampuan Iran untuk mengancam warga Amerika.

Pesan kepada rakyat Iran

Mengenai cara melindungi warga sipil selama serangan, Hegseth menyampaikan pesan kepada rakyat Iran agar tidak turun ke jalan untuk melakukan protes.

Ia mengatakan: “Tidak ada yang telah melakukan lebih banyak daripada Presiden Donald Trump untuk menciptakan kembali peluang bagi rakyat Iran yang menginginkan kebebasan.”

Ia menambahkan: “Pada akhirnya, seperti yang sudah ia katakan sejak awal—ini adalah akal sehat. Ketika bom jatuh di Tehran dan tempat lain, jangan keluar untuk berdemonstrasi.”

Hegseth mengatakan bahwa suatu hari nanti Presiden Trump atau rakyat Iran mungkin akan merasa waktunya telah tiba untuk memanfaatkan kesempatan tersebut dan bangkit melawan pemerintah saat ini.

Ia menambahkan: “Kami melakukan banyak hal, begitu juga militer Israel, yang secara khusus menargetkan orang-orang yang menindas para demonstran. Semakin banyak yang Anda lakukan untuk melemahkan kemauan dan kemampuan mereka, semakin besar peluang bagi rakyat untuk berani berdiri melawan.”

Cooper juga menekankan bahwa target prioritas serangan adalah markas dan pemimpin aparat yang menindas demonstran.

Ia mengatakan:  “Saya sepenuhnya setuju dengan pesan Presiden Trump kepada rakyat Iran: tetaplah di rumah, tetap tenang, dan untuk sementara jangan keluar.”

Menurutnya, Amerika Serikat dan Israel telah mengerahkan kekuatan militer besar dan menyerang banyak target, sehingga langkah terbaik bagi rakyat Iran saat ini adalah tetap rendah hati dan tidak keluar rumah.

Reaksi di media sosial

Di platform X (Twitter), beredar video yang memperlihatkan warga Iran berdiri di balkon rumah mereka pada malam hari sambil menyaksikan serangan udara gabungan AS-Israel. Ketika melihat ledakan yang mengenai target, sebagian warga terdengar bersorak “Wow!”, karena menurut mereka rezim yang menindas mereka sedang dihancurkan.

Beberapa pengguna internet memuji operasi tersebut dengan komentar: “Inilah ciri perang di dunia modern: perang tidak ditujukan kepada rakyat. Hanya orang yang pantas mati yang disingkirkan. Menghancurkan para pelaku kejahatan bisa membuat dunia menjadi lebih baik.”

Ada juga yang berkomentar:  “Kota itu terlihat hampir tidak rusak sama sekali, bahkan tidak ada pemadaman lampu. Sepertinya model perang di masa depan akan benar-benar berbeda.”

Sebagian netizen Tiongkok juga menyatakan harapan bahwa rakyat Tiongkok suatu hari nanti juga dapat menyambut kebebasan, dengan menulis:  “Semoga suatu hari nanti setiap rumah yang pernah ikut gerakan kertas putih (2022) juga bisa berdiri di balkon dan bersorak menyaksikan kembang api kebebasan.”

Reporter: Luo Tingting  Editor: Wen Hui – NTDTV.com


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Khofifah Percepat Normalisasi Kendaraan, Wujudkan Zero ODOL 2027
• 15 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Pemerintah Batasi Anak Pakai Medsos, Sri Gusni: Langkah Preventif Lindungi Generasi Muda!
• 13 jam lalurctiplus.com
thumb
Konsolidasi, NasDem Jabar Target di Urutan Ketiga pada 2029
• 4 jam laludetik.com
thumb
Lestari Moerdijat: Penundaan Akses Akun Anak Bagian dari Upaya Menjaga Masa Depan
• 11 jam lalujpnn.com
thumb
Harga Emas Batangan UBS dan Galeri24 Anjlok Sabtu Ini
• 18 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.