Pra Produksi Film “Sombalak Lopi”: Sebuah Catatan Lapangan dan Refleksi Atas Realitas 

harianfajar
3 jam lalu
Cover Berita

Oleh: Muhammad Fadhly Kurniawan / Transkrip Tradisi Lisan Indonesia

Dunia maritim punya banyak wacana yang tak terbatas untuk kita bahas. Apalagi konteks wilayah Sulawesi Selatan dan Barat. Dua wilayah ini terpisah secara administratif, namun disatukan oleh pengetahuan maritim, sehingga kini masing-masing memiliki identitas kebudayaan maritim. Adapun kebudayaan maritim yang dimaksud adalah wilayah pesisir selatan Sulawesi, yaitu Bulukumba, Galesong, dan Majene di bagian Barat. Kapal Pinisi dan Panrita Lopi di Bulukumba, nelayan Patorani di Galesong, serta kapal Sandeq dan pembuat layar tradisional Karoroq di Majene. Hingga saat ini identitas maritim mereka masih terus dinarasikan.

Tanggal 26 Februari lalu, tim riset film berjudul “Sombalak Lopi” berkunjung ke Pambusuang, Kab. Majene. Tujuan kami ialah melakukan pra produksi atau observasi awal mengenai pengetahuan maritim yang masih hidup di etnis Mandar, khususnya pengetahuan tentang pembuatan layar tradisional yang dikenal dengan Karoroq. Agenda kedepannya adalah hasil riset ini dijadikan sebagai satu konteks penting dalam film Sombalak Lopi yang disutradarai oleh M. Ikhwan Muharram. Sebelumnya, M. Ikhwan Muharram telah melahirkan dua film fiksi berkonteks realita sosial-budaya masyarakat pesisir Bulukumba yang berjudul Dendang Bantilang, dan Panrita Lopi. Kemudian, film Sombalak Lopi akan hadir menjadi trilogi film fiksi karya M. Ikhwan ini. Hal yang istimewa dari film ini adalah terungkapnya konektivitas pengetahuan maritim tiga wilayah, yaitu Bulukumba, Galesong, dan Mandar.

Selama riset di Pambusuang, kami mendatangi tiga lokasi penting, pertama yaitu di Nusa Pustaka yang merupakan perpustakaan dan galeri bahari milik seorang peneliti kenamaan di Majene, yaitu Muhammad Ridwan Alimuddin, sapaan akrabnya Iwan Mandar. Di lokasi ini kami berdiskusi banyak seputar kebudayaan maritim Mandar, misalnya tentang kepercayaan spiritual yang disebut dengan Ussul, dan bagaimana bentuk transformasi perahu layar tradisional hingga menggunakan mesin di era modern ini. Selain itu, kami juga larut mendengarkan berbagai pengalamannya saat mengarungi lintas negara dengan menggunakan perahu layar tradisional. 

Kemudian, lokasi selanjutnya adalah di kampung Lanu, Campalagian. Untuk sampai di lokasi ini, kami dipandu oleh Iwan Mandar, ia mengatakan bahwa secara toponimi, kampung Lanu berasal dari masifnya komoditas pohon Lanu (pohon Gebang) yang betebaran di kampung mereka sehingga diangkat menjadi identitas nama kampung. Pohon Lanu tidak ditanam melainkan tumbuh liar, bibitnya disebarkan oleh burung yang telah memakan buahnya. Dari segi manfaat,

Pohon Lanu fungsi utamanya adalah sebagai bahan pembuatan layar tradisional Karoroq. Selain itu, seratnya dapat dijadikan sebagai tali pengikat kuliner tradisional buras, tali pancing, dan bagian daunnya dapat dijadikan atap perahu, hingga menjadi selimut saat berlayar. Adapun batangnya juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan yang dapat diolah menjadi sagu. Betapa kayanya manfaat pohon ini. Namun, realita berkata lain. Hari ini, jumlah pohon Lanu tidak semasif dulu, bahkan cukup sulit lagi untuk menemukannya. Hal ini disebabkan telah dilakukan perluasan lahan yang kemudian dijadikan sawah. 

Di dunia ini, tersisa tiga orang pembuat layar tradisional Karoroq, salah satunya adalah Indo Sana yang berusia sekitar lima puluh tahun. Pengetahuan membuat Karoroq ini didapatkan dari lingkungan keluarganya, tidak heran bila dua orang pengrajin Karoroq lainnya merupakan keluarganya juga. Beliau sangat antusias menyambut kedatangan kami yang ingin mengetahui bagaimana proses, serta alat dan bahan yang digunakan saat melindan layar Karoroq. Indo Sana dibantu suaminya dalam menyediakan bahan sebab untuk mendapatkan bagian daun/pucuk mudanya membutuhkan tenaga yang ekstra, yaitu memanjat pohon Lanu yang memiliki ketinggian di atas empat meter. Setelah didapatkan pucuk mudanya, kemudian dikeringkan sampai menjadi serat yang diinginkan, bila untuk dijadikan layar tentu dipilih bagian terkuat dari tiap helai daunnya, inilah yang dinamakan pappas. Serat tali yang dihasilkan kemudian dipintal membentuk seperti ubi jalar, mereka menyebutnya dengan Kando Kandora. Saat bahan telah sedia, alat tenun pun difungsikan dan Karoroq siap ditenun. Estimasi pengerjaan Karoroq dapat dikerjakan selama tiga sampai enam hari, tergantung ukuran yang diinginkan. Seiring langkanya pohon Lanu membuat harga perlayarnya cukup tinggi, yaitu sekitar tujuh ratus ribu.

Ketersediaan bahan yang semakin langka, pengrajin yang terus berkurang, serta perahu berlayar Karoroq sudah hampir tidak ditemukan lagi, akhirnya kita dihadapkan realitas baru yakni kepunahan pengetahuan layar tradisional kini berada di depan mata. Hal ini terkonfirmasi oleh beberapa nelayan lokal yang mengatakan bahwa layar Karoroq tidak efektif dan efisien lagi untuk digunakan, mereka lebih memilih layar dari bahan sintetis yang kualiasnya jauh lebih awet dan harganya lebih hemat dibanding Karoroq. Tentu saja hal ini menggerus mata pencaharian Indo Sana sebagai pengrajin Karoroq. Kini, Karoroq tidak menjamin kesejahteraan hidupnya, olehnya itu akhirnya Ia beralih menjadi petani kebun dan beternak hewan di rumahnya.

Lokasi selanjutnya kami mendatangi tepian pantai Pambusuang yang merupakan tempat lahirnya perahu tercepat di dunia yaitu Sandeq. Di sini kami dipandu oleh Iwan Mandar untuk bertemu langsung dengan pelaut yang masih menggunakan perahu layar tradisional saat melaut, namun sayangnya, jumlahnya kini bisa dihitung jari. Artinya, pelaut yang memiliki pengetahuan berlayar menggunakan Karoroq tentu sudah terancam punah. Sebab, pada dasarnya, menurut Abd. Kadir, nelayan yang kami wawancarai mengatakan bahwa setengah pengetahuan berlayar itu ada pada pengetahuan layar tradisionalnya, apabila pelaut berlayar tanpa menggunakan Karoroq, artinya setengah pengetahuan berlayarnya tidak utuh lagi, sebab dari konteks layar kita dapat mengetahui arah angin, arus air, astrologi, dan mitologi yang hidup dalam dunia maritim.

Momen pra produksi di Majene ini akhirnya menjadi bahan refleksi besar bagi kami. Sungguh realitas yang harus dihadapi. Seketika saya langsung mencoba ingin menanyakan ulang tentang Panrita Lopi di Bulukumba, apakah mereka masih dapat dikata atau masih patut menyandang gelar sebagai cendikiawan kapal di tengah industrialisasi yang ugal-ugalan kini terjadi? Termasuk di Galesong, apakah nelayan Patorani masih memiliki pengetahuan melaut yang ulung? 

Berdasarkan dari seluruh argumentasi di atas, Film Sombalak Lopi akan mencoba mengulas realitas sosial-budaya maritim yang terjadi hari ini. Meskipun dikemas dalam bentuk fiksi, data yang akan disajikan merupakan berbasis riset sehingga kredibilitasnya dapat dipertanggungjawabkan. Proses alih media tradisi lisan menjadi bentuk film pendek ini merupakan bagian dari upaya kami dalam melanggengkan pengetahuan lokal, dan sebagai bentuk kepedulian kami pada kekayaan intelektual maritim yang berada di ambang kepunahan. (*)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tren Hijab Lebaran 2026: Pashmina Printed hingga Cashmere Jadi Favorit
• 16 jam lalugrid.id
thumb
Truk Nyangkut di Underpass Pramuka karena Sopir Tak Paham Jalanan Jakarta
• 10 jam laludetik.com
thumb
Rayco Bersinar! Persita Permalukan Madura United 4-1 di Kandang
• 2 jam laluviva.co.id
thumb
Perang Memanas! Arab Saudi Tembak Jatuh Empat Drone dan Rudal Balistik
• 15 jam laluokezone.com
thumb
Perjalanan Cinta Vidi Aldiano dan Sheila Dara yang Penuh Perjuangan, Kini Dipisahkan Maut
• 4 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.