Cucu Pendiri NU Buka Suara soal Perang Iran Vs AS-Israel dan Posisi Indonesia di BoP

liputan6.com
2 jam lalu
Cover Berita

Liputan6.com, Jakarta - Cucu pendiri NU KH. Abdussalam Shohib menyoroti situasi geopolitik dunia yang memanas akibat konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat. Hal tersebut disampaikannya dalam Peringatan Nuzulul Qur’an yang dirangkaikan dengan penutupan khataman kitab Ramadan serta doa untuk bangsa Iran di Denanyar, Jombang.

Dia menilai kegiatan tersebut bukan sekadar agenda keagamaan, melainkan juga wujud empati dan solidaritas kemanusiaan terhadap rakyat Iran dan Palestina yang menjadi korban konflik di Timur Tengah.

Advertisement

BACA JUGA: Kecam Serangan AS-Israel ke Iran, Dewan Profesor Unpad Dorong Pemerintah Ambil Sikap Tegas

“Kegiatan ini bukan hanya ungkapan empati untuk rakyat Iran dan Palestina, tetapi juga bentuk dukungan atas nama kemanusiaan dan keadilan, terutama kepada sesama saudara muslim di dunia,” ujar Gus Salam dalam keterangannya, Sabtu (7/3/2026).

Menurutnya, konflik yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir telah menimbulkan banyak korban sipil dan memperburuk situasi kemanusiaan di kawasan Timur Tengah. Dia menyebut serangan militer yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat ke wilayah Iran pada akhir Februari 2026 telah menewaskan banyak korban, termasuk pemimpin tertinggi Iran, Ali Hosseini Khamenei, beserta keluarganya serta ribuan warga sipil.

Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang ini menilai serangan tersebut sebagai tindakan brutal yang tidak hanya melanggar prinsip kemanusiaan, tetapi juga mencederai hukum internasional. Terlebih, serangan dilakukan di tengah upaya mediasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang dimediasi oleh Oman.

“Serangan dilakukan saat umat Islam menjalankan ibadah Ramadan dan telah menelan banyak korban sipil, terutama anak-anak. Ini tindakan yang sulit diterima oleh akal sehat,” katanya.

Selain Iran, dia juga menyoroti kondisi di Palestina, khususnya di wilayah Gaza Strip dan Tepi Barat yang hingga kini masih mengalami kekerasan akibat operasi militer Israel. Menurutnya, tragedi kemanusiaan di kawasan tersebut semakin memperlihatkan krisis keadilan global.

“Eskalasi konflik saat ini berpotensi meluas karena keterlibatan sejumlah negara di Timur Tengah. Hal ini tidak lepas dari keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat di berbagai negara kawasan Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Irak, dan Kuwait yang menjadi sasaran serangan balasan Iran,” terangnya.

Selain itu, konflik juga berpotensi meluas ke negara lain di kawasan seperti Lebanon melalui kelompok Hizbullah serta memicu ketegangan baru di kawasan Kaukasus, termasuk di Azerbaijan.

“Konflik global tersebut tidak terlepas dari peran dua tokoh politik dunia, yakni Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai aktor utama di balik berbagai konflik di kawasan Timur Tengah,” jelasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Comeback Manis Jayson Tatum: Celtics Hajar Mavericks di TD Garden
• 11 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Tokio Marine Indonesia Bidik Premi Asuransi Kendaraan Bermotor Tumbuh 9,3% pada 2026
• 11 jam lalubisnis.com
thumb
Tornado Raksasa Terjang AS: Rumah-Rumah Beterbangan, Empat Nyawa Melayang dalam Hitungan Menit
• 15 jam lalurepublika.co.id
thumb
Gibran Tinjau Proyek Dermaga SIG (SMGR) Senilai Rp14 Triliun
• 4 jam laluidxchannel.com
thumb
3 Pemain Muda yang Layak Dipromosikan John Herdman ke Timnas Indonesia untuk Atasi Badai Cedera
• 18 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.