TABLOIDBINTANG.COM - PT Sarihusada Generasi Mahardhika kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung tumbuh kembang anak Indonesia.
Bertepatan dengan momentum Hari Gizi Nasional 2026, perusahaan ini meluncurkan kampanye “Pejuang Berat Badan Anak” untuk meningkatkan kesadaran orang tua tentang pentingnya pemantauan berat badan anak secara rutin.
Kampanye ini hadir sebagai kelanjutan dari gerakan Generasi Maju Bebas Stunting (GMBS) yang pada 2025 lalu berhasil mencatatkan dua Rekor MURI.
Rekor tersebut meliputi skrining stunting daring dengan peserta terbanyak mencapai 1.155.524 orang serta penyuluhan dan skrining stunting luring kepada 10.195 peserta di seluruh Indonesia.
"Pada tahun 2026 ini, komitmen tersebut terus kami lanjutkan dan diperkuat melalui kampanye 'Pejuang Berat Badan Anak', yang diharapkan dapat semakin memperluas upaya edukasi kepada masyarakat, mendorong deteksi dini, serta mendukung keluarga dalam mengoptimalkan tumbuh kembang anak yang hebat di masa depan," ujar CEO PT. Sarihusada Generasi Mahardika (Sarihusada), Joris Bernard, kepada awak media di kawasan Jakarta Pusat, Jumat (6/3) sore.
Pentingnya Protein Hewani
Dalam masa pertumbuhan, berat badan ideal menjadi indikator penting untuk menilai status gizi anak. Jika anak mengalami berat badan kurang atau sulit naik, risiko gangguan pertumbuhan fisik dan kognitif bisa meningkat.
Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan prevalensi anak balita dengan berat badan kurang masih berada di angka 16,8 persen, naik dari 15,9 persen pada 2023.
Kondisi ini dinilai perlu mendapat perhatian serius karena dapat meningkatkan risiko stunting.
Dokter Spesialis Anak dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med.Sc, Sp.A menjelaskan berat badan dan tinggi badan merupakan parameter utama dalam menilai status gizi anak.
Ia menyarankan orang tua menimbang berat badan anak secara rutin agar potensi gangguan pertumbuhan bisa terdeteksi lebih awal.
“Jika asupan nutrisi tercukupi, tumbuh kembang anak akan optimal. Namun jika berat badan sulit naik atau ‘BB seret’, kondisi ini perlu diwaspadai karena bisa menjadi tanda adanya gangguan pertumbuhan,” jelasnya.
Untuk mencegah berat badan kurang, orang tua dianjurkan memastikan anak mendapatkan menu gizi seimbang yang mencakup karbohidrat, protein hewani, sayur, dan lemak sehat.
Protein hewani seperti telur, ikan, ayam, daging, serta susu berperan penting dalam mendukung pertumbuhan.
Aktris sekaligus ibu dua anak, Cut Meyriska alias Chika, juga mengaku memahami kekhawatiran orang tua ketika berat badan anak sulit naik.
Menurutnya, orang tua tidak perlu panik, tetapi tetap memantau pertumbuhan anak secara rutin dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika diperlukan.
"Pengalaman saya saat anak mengalami BB seret, terpenting adalah tetap tenang, pantau pertumbuhan anak secara rutin, penuhi kebutuhan gizinya dengan optimal, dan jangan ragu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan penanganan yang tepat," jelas Cut Meyriska.
Melalui kampanye “Pejuang Berat Badan Anak”, Sarihusada berharap semakin banyak orang tua yang melakukan deteksi dini risiko gangguan pertumbuhan serta memastikan anak mendapatkan intervensi gizi yang tepat sejak dini.




