Bank sentral China membeli lebih banyak emas pada Februari 2026, memperpanjang rangkaian pembelian menjadi 16 bulan, di tengah kenaikan harga emas yang dipicu meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Mengutip Bloomberg pada Minggu (8/3), cadangan emas yang dimiliki People’s Bank of China (PBOC) naik sebesar 30.000 troy ounce bulan lalu menjadi 74,22 juta troy ounce. Pembelian ini memperpanjang fase akumulasi emas yang dimulai pada November 2024.
Meski sempat mengalami penurunan, harga emas kembali menguat dalam beberapa pekan terakhir dan kembali menembus level di atas USD 5.000 per ounce. Investor mencari aset yang lebih aman setelah AS dan Israel menyerang Iran, yang meningkatkan risiko geopolitik di Timur Tengah.
Pembelian emas oleh bank sentral global sempat melambat pada awal tahun karena volatilitas pasar yang tinggi. Menurut catatan dari World Gold Council (WGC), pembelian bersih emas pada Januari mencapai lima ton, dipimpin oleh negara-negara di Asia Tengah dan Asia Timur, lebih rendah dibandingkan rata-rata 12 bulan sebesar 27 ton.
"Fluktuasi harga emas dan musim liburan mungkin telah membuat beberapa bank sentral ragu-ragu," kata Analis WGC, Marissa Salim, dalam keterangannya.
"Meskipun ketegangan geopolitik, yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, kemungkinan akan terus mendorong akumulasi kekayaan hingga tahun 2026 dan seterusnya," sambungnya.
Beberapa negara juga tercatat menjual emas dalam beberapa waktu terakhir, namun pembelian masih lebih besar dibandingkan penjualan.
Kepala bank sentral Polandia yang merupakan pembeli emas terbesar di dunia, mengajukan proposal untuk menjual cadangan emas guna membiayai belanja pertahanan, sementara bank sentral Rusia dan Venezuela juga menjual emas dalam beberapa bulan terakhir.





