DI RUANG ruang kelas sekolah dasar di Jakarta, sepiring makanan bergizi diletakkan di meja siswa. Nasi, lauk, sayur, dan buah tersaji rapi dalam kotak makan yang didistribusikan melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Program ini lahir dari niat baik negara: memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan asupan gizi yang cukup demi masa depan lebih sehat dan produktif.
Namun, realitas di lapangan menghadirkan ironi yang tidak kecil. Di banyak kelas, makanan itu tidak habis dimakan. Sebagiannya bahkan berakhir di tempat sampah.
Penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti Universitas Indonesia, khususnya dari Departemen Antropologi FISIP UI, memberikan gambaran yang cukup mengejutkan tentang fenomena ini.
Penelitian tersebut dilakukan melalui observasi langsung di lima sekolah dasar di lima wilayah Jakarta Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Utara.
Para peneliti mengikuti secara langsung proses distribusi makanan, mengamati perilaku siswa ketika makan, serta melakukan wawancara dengan guru, siswa, dan pihak sekolah.
Baca juga: Terpinggirnya UMKM Dalam Program MBG
Temuan utamanya sederhana, tetapi sangat mencolok. Mayoritas siswa tidak menghabiskan makanan yang diberikan melalui program MBG.
Dalam satu kelas yang berisi sekitar 32-34 siswa, penelitian tersebut menemukan bahwa hanya sekitar empat anak yang benar-benar menghabiskan makanan mereka hingga habis.
Sisanya menyisakan makanan di piring, ada yang hanya memakan sebagian nasi, ada yang meninggalkan sayur, bahkan ada pula yang hanya mencicipi sedikit lalu berhenti makan.
Angka ini bukan sekadar statistik kecil dalam laporan akademik. Ini adalah gambaran nyata tentang potensi food waste dalam program kebijakan publik berskala besar.
Sepiring makanan yang tidak dimakan bukan hanya berarti gizi yang tidak terserap oleh anak-anak, tetapi juga berarti terbuangnya sumber daya.
.
Penelitian UI juga mencoba memahami mengapa fenomena ini terjadi. Salah satu temuan penting adalah soal selera dan kebiasaan makan anak-anak.
Banyak siswa menganggap menu yang diberikan tidak sesuai dengan selera mereka. Beberapa anak menyebut makanan terasa hambar atau kurang menarik dibandingkan makanan yang biasa mereka makan di rumah atau yang dijual di kantin sekolah.
Faktor kedua adalah waktu distribusi makanan. Dalam beberapa kasus, makanan dibagikan ketika siswa belum merasa lapar, misalnya, terlalu pagi setelah mereka sarapan di rumah.
Dalam situasi seperti ini, kotak makanan yang seharusnya menjadi sumber energi tambahan justru menjadi sesuatu yang “terpaksa” harus dimakan.
Faktor lain yang juga muncul dalam penelitian tersebut adalah perbedaan kebiasaan makan. Bagi sebagian anak, beberapa jenis makanan dalam menu MBG terasa asing atau tidak familiar.
Baca juga: Besar Pasak daripada Tiang





