JAKARTA, DISWAY.ID - Kedatangan ulama sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al Bahjah, Cirebon, Yahya Zainul Ma'arif alias Buya Yahya ke Istana menemui Presiden Prabowo Subianto membuat Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto tersulut.
Hal itu lantaran Buya Yahya menyebut menjadi Presiden itu berat maka rakyat harus mendoakannya.
Tiyo menilai kalau menjadi presiden itu memang berat, namun Prabowo yang memintanya untuk dipilih.
Tiyo juga menyinggung aksi kampanye Prabowo Subianto pada 2024 lalu berjoget dengan julukan gemoy untuk meraih simpati rakyat.
BACA JUGA:Ora Sepele, Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Serukan Revolusi Terbukti Dimulai dari Pati!
Tiyo menyebut kalau Prabowo yang mengemis suara rakyat.
“JADI PRESIDEN ITU BERAT. Maaf, Buya, sejak awal Rakyat tidak pernah meminta Bapak Prabowo jadi Presiden. Beliau sendiri yang berkali-kali menawarkan diri sambil ngemis suara Rakyat,” tulisnya.
Buya Yahya mengajak masyarakat untuk memanjatkan doa bagi Presiden RI Prabowo Subianto--Anisha Aprilia
Tiyo menegaskan tiga kali sudah Rakyat menolak beliau jadi Presiden. Sekalinya Rakyat kasih kesempatan, itu karena kasihan saja lihat beliau yang gagah rela joget-joget demi menang.
BACA JUGA:Kuasai Bahasa Jawa Kromo Inggil, Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Merasa Kritik ke Prabowo Justru Sangat Santun
Tiyo juga menyebut kata iba.
“Rakyat Indonesia ini, kan, memang paling tidak bisa kalau sudah soal iba…” katanya.
Tiyo juga menyinggung bagaimana jalan Prabowo untuk menjadikan dirinya sebagai presiden harus ada campur tangan segala cara agar Gibran Rakabuming Raka lolos sebagai cawapres.
“Bagaimana mungkin bela Presiden sambil mengeluhkan tanggung jawabnya: wong untuk mendapatkannya saja beliau menghalalkan segala cara termasuk lakukan perzinahan-politik demi Gibran jadi Cawapres.
Jadi Presiden itu mungkin berat, tapi, ya, lebih berat lagi jadi WNI, to?,” tulis Tiyo Ardianto Ketua BEM UGM
- 1
- 2
- »




