Bila boleh saya mengumpamakan hasil terjemahan karya sastra prosa itu merupakan bangunan narasi. Maka, Google Translate adalah pemasok “bahan bangunan, seperti semen, pasir, hebel atau bata ringan (autoclaved aerated concrete/AAC)”. Dan, manusia penerjemah menduduki peran sebagai “arsitek dan desainer interior”. Menyusun bahan-bahan tersebut sehingga nantinya terbentuklah rumah yang berarsitektur indah dan menyamankan pihak yang menempatinya.
Analogi metaforis manusia penerjemah karya sastra prosa sebagai arsitek sungguh sangat relevan. Sebab, bahasa (termasuk di dalamnya bahasa hasil terjemahan) tidak hanya deretan atau uraian kata-kata sebagaimana hasil yang menjadi berkat adanya proses Google Translate yang mekanis.
Akan tetapi di dalam bahasa, terkandung di dalamnya struktur, estetika, dan rasa. Sisi inilah yang masih berada dalam ranah kompetensi manusia penerjemah. Begitulah adanya, jasa manusia penerjemah masih menemukan fungsinya di era Google Translate begitu membantu dalam mencairkan kendala bahasa. Dan, secara teknologi terus menyempurnakan diri.
Mau tidak mau memang harus mendapatkan pengakuan, mesin penerjemah boleh terbilang memang relatif unggul untuk memenuhi kebutuhan yang cepat dan umum. Kendatipun demikian, keberadaan manusia penerjemah memang masih menjadi kebutuhan mutlak untuk materi terjemahan yang memerlukan akurasi tinggi. Dalam artian, tidak boleh mengandung kesalahan makna sekecil apa pun. Sebab, kesalahan penerjemahan dapat menimbulkan risiko fatal.
Kesalahan menerjemahkan dokumen medis, seperti terkait dengan kekeliruan kata pada dosis obat atau panduan pengoperasian mesin untuk kesehatan dapat menimbulkan cedera serius atau bahkan kematian. Kesalahan menerjemahkan dokumen hukum bisa mengusung akibat kontrak mengalami pembatalan. Atau, bisa melahirkan masalah hukum berikutnya.
Kesalahan menerjemahkan terminologi pemasaran atau laporan keuangan bisa mendestruksi kredibilitas dan menyebabkan perusahaan kehilangan keuntungan. Dalam karya sastra prosa, juga terdapat kata yang memiliki akurasi tinggi. Kesalahan menerjemahkannya dapat menghajar habis-habisan hingga babak belur raut estetika yang tersaji.
Pergeseran Karakterisasi
Ketidaktepatan penerjemahan kata yang memiliki akurasi tinggi dalam karya sastra prosa tidak berhenti pada sekadar kasus “salah pilih kata”. Akan tetapi bisa lebih parah daripada itu. Memicu efek domino yang mendestruksi keseluruhan struktur cerita. Memunculkan sejumlah konsekuensi serius akibat kasus kekeliruan penerjemahan pada kata dengan akurasi tinggi tersebut.
Salah satu efek negatif yang bisa menderakan akibat adalah pergeseran karakterisasi (character distortion). Pembentukan karakter dalam karya sastra prosa melalui dialog dan pilihan kata. Jika kata yang menunjukkan sikap atau status sosial keliru menerima realisasi penerjemahan, pergeseran karakterisasi tersebut bisa terjadi.
Esensi masalah dalam kasus ini mengemuka manakala kata dengan akurasi tinggi mendapatkan sentuhan penerjemahan dengan makna kamus yang benar, namun rasa bahasanya kurang pas kalau mengacu pada konteks budaya. Misalnya pengalihbahasaan kata bahasa Inggris ambitious menjadi kata bahasa Indonesia “ambisius”.
Misalnya ada karya sastra prosa dalam bahasa Inggris terdapat narasi tentang seorang bos (atau kalau mau memakai istilah para ibu-ibu penggemar berat drama Cina, sebut saja CEO) lelaki muda yang begitu tertarik dengan seorang karyawatinya (tentu saja gadis muda berparas ayu menawan) hingga kemudian muncul dialog. Sang CEO mengatakan kepada si jelita, “You are so ambitious!”
Dalam bahasa Inggris, konotasi positif menyertai kata ambitious. Ia merupakan adjective (adjektiva/kata sifat) yang mengatributi seseorang dengan kualitas pribadi yang mempunyai dorongan kuat untuk menggapai suatu tujuan atau rencana yang memerlukan usaha besar. Dalam konteks karyawati tadi, dalam pandangan sang CEO, adalah pekerja keras yang mempunyai visi progresif.
Dengan demikian, dalam bahasa Inggris, kata ambitious, dengan noun (nomina/kata benda) ambition dan adverb (adverba/kata keterangan) ambitiously merupakan kualitas kemanusiaan yang dari segala sisi memenuhi kriteria konotasi positif. Akan tetapi dalam bahasa Indonesia, ada dua pendulum yang mengarahkan ke kutub konotasi masing-masing.
Kata “ambisius”, dengan nomina “ambisi” dan adverba “secara ambisius”, dalam bahasa Indonesia dapat bergerak ke pendulum konotasi positif ketika mewadahi makna seperti dalam konsep bahasa dan budaya penutur bahasa Inggris. Akan tetapi, dalam tatapan budaya di Tanah Air ada kecenderungan hegemoni arah pendulumnya ke konotasi negatif.
Untuk mendeskripsikan seseorang yang memiliki ambisi secara berlebihan, haus kekuasaan, dan menganut prinsip machiavelis dengan menghalalkan segala cara demi raihan suatu tujuan. Terkadang juga memperoleh pengaitan dengan sifat serakah dan sikap tidak mau kalah.
Itulah fakta dalam pemakaian bahasa sehari-hari di kalangan penutur bahasa Indonesia. Sesungguhnya kata “ambisius” tidak selalu bermakna negatif. Tergantung pada konteks kalimatnya. Namun, fakta bahwa ia cenderung memiliki pendulum makna yang bergerak ke arah konotasi makna yang tidak begitu positif, bukan hal yang dapat menerima pengabaian begitu saja. Di sinilah, letak keunikan bahasa itu.
Oleh karena itu, dalam kasus penerjemahan dialog “You are so ambitious”, memang memerlukan kehati-hatian dalam menerjemahkan. Bisa jadi, kita dapat memilih penerjemahan bebas (bukan kata per kata), “Kau begitu bersemangat” atau “Kau memiliki cita-cita yang tinggi”.
Hal ini untuk menghindari pergeseran karakterisasi karyawati tersebut yang semula (dalam bahasa Inggris) berada dalam ranah deskripsi sosok inspiratif, dalam versi terjemahan (bahasa Indonesia) malahan berkesan menjadi sosok antagonis yang licik.
Kemudian persoalan tentang penerjemahan pronoun atau pronomina (kata ganti orang) kedua tunggal. Dalam bahasa Inggris hanya dikenal satu, yaitu you. Penerjemah perlu menetapkan pilihan, apakah akan mengalihbahasa dengan “kau”, “kamu”, atau “Anda”.
“Kau” merupakan klitik atau bentuk ringkas dari “engkau”. Pemakaiannya bisa dalam percakapan santai. Juga dalam puisi, lirik lagu yang menekankan emosi. Terasa sangat akrab untuk teman sebaya. Tidak jarang penulisannya berangkai dengan verba (kata kerja) yang mengikutinya, seperti “kaugenggam” dan “kaubawa”.
“Kamu” muncul dalam percakapan dengan situasi di lingkungan komunitas yang saling mengenal relatif lama, biasanya antarteman sebaya. Menunjukkan relasi yang penuh dengan keakraban.
Sementara itu, pronomina “Anda” lebih terdengar lazim dalam situasi formal, resmi, atau ketika berkomunikasi dengan orang belum lama berada di rengkuh pengenalan seseorang. Relatif sopan. Kepada orang yang lebih tua, dalam bahasa Indonesia kata sapaan hormat, seperti “bapak” atau “ibu” (bukan sapaan karena pertalian darah keturunan), kiranya lebih sesuai dengan penerapan pragmatisme berbahasa.
Misalnya dalam sebuah novel populer berbahasa Inggris genre romansa atau fantasi terpampang kalimat “I told you, I will never let you go”. Bila kalimat meluncur dari seorang lelaki muda untuk kekasihnya pada suatu situasi dramatis, romantis, atau sarat dengan adonan liat emosi.
Maka pemakaian kata “kau”, biasanya juga mendapat imbangan keselarasan dengan pemakaian pronomina pertama tunggal “aku”, menerbitkan kesan yang pas dengan balutan dramatis, puitis, intens, dan posesif. Hal itu dapat terasakan dalam kalimat “Sudah kubilang, aku tidak akan pernah melepaskan kau”.
Selanjutnya dengan kalimat yang sama, manusia penerjemah bisa memilih pronomina “kamu” untuk you, bahkan dengan paduan pilihan terjemahan yang lebih terkoneksi dengan bahasa gaul yang lebih kuat, seperti kata "nggak", “lepasin”. Kalimat yang tersaji akan lebih tepat untuk mendeskripsikan dialog santai antarteman.
Bisa juga pasangan kekasih muda yang salah satu sedang marah dan yang lain berupaya menenangkan atau membujuknya. Dan, itu relatif tampak pada pilihan versi terjemahan “Aku sudah bilang ke kamu, aku nggak akan pernah lepasin kamu”.
Lain lagi, jika pronomina “Anda” yang memainkan peran untuk menempati posisi alih bahasa sebagai you. Ada unsur sikap formal dan penghormatan yang menyertai konotasinya. Selain terhadap orang yang baru saja bertemu, bisa juga dalam konteks adanya jarak sosial yang mengantarainya. Misalnya pengawal kepada majikannya atau bawahan kepada atasannya.
Kalimat “Sudah saya katakan pada Anda, saya tidak akan pernah melepaskan (pengawalan saya kepada) Anda (saat bertemu dengan pesaing bisnis kelas kakap itu)” (tambahan kata dalam tanda (...) hanya untuk memberikan warna konteks dialog dan tidak terucapkan dalam dialog).
Dari contoh ini, pronomina “Anda” juga lazim disulihi dengan kata sapaan hormat “Bapak/Ibu” (dengan huruf “B” dan “I” kapital). “Sudah saya katakan pada Bapak/Ibu, saya tidak akan pernah melepaskan (pengawalan saya kepada) Bapak/Ibu (saat bertemu dengan pesaing bisnis kelas kakap itu)
Pergeseran karakterisasi bisa terjadi akibat ketidaktepatan pemakaian pronomina “Anda”, padahal seharusnya versi yang lebih sesuai dengan kebutuhan adalah ‘kau” atau “kamu” untuk penerjemahan dialog antarkarakter yang merupakan teman sebaya dan sudah saling mengenal akrab.
Betapa akan hilang kesan naturalnya, jika dialog yang semestinya berlangsung santai, muncul sapaan “Anda” yang berkesan formal. Efek yang muncul, para karakter dalam karya sastra prosa populer itu yang aslinya hangat berubah menjadi dingin, kaku, dan formal. Kekariban hubungan emosional dalam pergaulan antarkarakter yang bersahabat baik pun akan hilang dalam resepsi (penerimaan) khalayak audiens.
Metafora dan Simbolisme
Berlandaskan tren perkembangan teknologi hingga awal Maret 2026 ini, dalam sejumlah kasus, Google Translate masih kurang fasih mengalihbahasakan secara natural beberapa metafora, simbolisme, idiom, personifikasi.
Misalnya dalam metafora idiomatik (figuratif) yang merujuk pada konsep budaya tertentu. Misalnya break a leg, yang hingga 1 Maret 2026, hasil konfirmasi saya ke Google Translate masih menunjukkan kekurangfasihannya mengetengahkan hasil alih bahasa yang lebih natural. Berikut buktinya.
Dalam kasus ini metafora break a leg, masih mengalami proses penerjemahan kata demi kata menjadi “patahkan satu kaki”. Tentu saja hasil terjemahan ini tidak sesuai dengan pemakaian yang natural.
Metafora yang sesungguhnya bermakna “semoga sukses” atau “semoga berhasil” ini dalam konteks paling lazim biasanya merupakan ucapan seseorang kepada aktor, penari, atau musikus sebelum naik ke atas panggung pertunjukan.
Metafora break a leg juga relatif kontekstual realisasi pemakaiannya dalam konversasi keseharian, sebagai semacam ungkapan dukungan moral atau tindakan mendoakan dari seseorang kepada sahabat dekatnya agar meraih kesuksesan manakala menghadapi suatu situasi yang begitu menegangkan yang menguras pikiran dan perasaan, antara lain ujian kelulusan sekolah, wawancara kerja, atau presentasi yang memengaruhi masa depan karier seseorang.
Adapun contoh kalimat, seperti “I know you’ve practiced for weeks. Break a leg tonight!” (“Aku tahu kamu telah berlatih selama berminggu-minggu. Semoga sukses malam ini”). Atau, kalimat “You’ve got an interview? Break a leg!” (“Kamu ada wawancara? Semoga berhasil!”).
Google Translate juga acapkali kerepotan mendudah metafora frasa verba (phrasal verbs). Gabungan verba (kata kerja) dengan preposisi (kata depan) atau adverbia (kata keterangan) yang membentuk satu kesatuan makna baru dan kerap berlainan dari makna kata aslinya.
Contohnya metafora frasa verba call on yang memiliki makna idiomatik “mengunjungi atau meminta bantuan kepada seseorang secara formal”. Namun, Google Translate menerjemahkannya dengan “menelepon” seperti tampak pada bukti yang saya screenshot pada 1 Maret 2026 berikut.
Oleh karena itu tidak mengherankan jika Google Translate menerjemahkan kalimat “I will call on my professor” secara kurang tepat menjadi “Saya akan menelepon profesor saya”. Padahal, seharusnya kalimat yang lebih sesuai dengan realitas intenai yang sesungguhnya adalah “Saya akan mengunjungi profesor saya”.
Contoh lain, yaitu metafora frasa verba flip out yang mempunyai makna idiomatik “marah sekali, terkejut, atau panik”. Akan tetapi, Google Translate mengalihbahasannya dengan kata “membalik keluar” sebagaimana bukti tangkapan layar di bawah ini yang saya ambil pada 1 Maret 2026.
Nah, ketika menerjemahkan kalimat “She flipped out when she saw the bill”, Google Translate kemudian terjerat hasil yang kurang begitu tepat, yaitu “Dia membalik keluar ketika melihat tagihan itu”. Padahal, semestinya kalimat yang lebih tepat adalah “Dia panik ketika melihat tagihan itu.” Di sini, memang peran manusia penerjemah tidak dapat dipandang sebelah mata.
Lalu kesulitan yang sama juga terjadi ketika Google Translate mengalihbahasakan metafora kompleks/kiasan sastra yang relatif panjang. Hasilnya kadang tampak aneh dan kaku, seperti untuk kalimat “He is a shining star in our team” dengan hasil terjemahan dari Google Translate sebagai berikut:
Kendatipun hasil terjemahan tersebut dapat dipahami. Tidak dapat dimungkiri, terasa kurang begitu luwes. Kata "adalah" sebagai terjemahan bentuk to be dapat dihilangkan karena relatif zero makna dalam bahasa Indonesia.
Nilai rasa terjemahan yang dapat lebih terasa wajar, tanpa harus berupa alih bahasa kata per kata, yaitu “Dia aset utama di tim kami” atau “Dia bintang utama di tim kami”.
Mengapa hingga Maret 2026 ini Google Translate masih kurang fasih memahami dengan tepat metafora? Yang utama terkait dengan konteks dan budaya. Walaupun bertumpu pada kecerdasan buatan atau intelegensi artifisial (AI), ia masih dalam proses berjuang memahami sisi budaya dan konteks internal yang mendalam.
Masih ada pertempuran sengit aspek literal versus figuratif yang belum tiba pada titik kompromi yang kondusif. Mesin penerjemah seperti Google Translate kerap kali mengambil jalur yang harafiah untuk kata-kata, bukan makna metaforis yang terkandung di belakangnya.
Demikian pula dengan metafora sastra atau slang yang kerap meleset dari konteks aslinya. Oleh karena itu, untuk mengatasi persoalan tersebut, perlu pencarian padanan idiom dalam bahasa target atau dengan memahami konteks kalimatnya.
Simbolisme budaya nan spesifik yang berada dalam kalimat bahasa asal dan hendak “diseberangkan” ke bahasa target, juga terkadang memunculkan kendala tersendiri bagi Google Translate.
Kalimat “The cold winter of her heart began to thaw” memperoleh perlakuan yang literal, sehingga menghasilkan alih bahasa yang tidak begitu maksimal. “Dinginnya musim dingin di hatinya mulai mencair.”
Masalah yang hadir dalam Google Translate, yaitu penerjemahan yang mengulang adjektiva sehingga terjadi redudansi (kemubaziran), dalam kasus ini "the cold winter" menjadi “dinginnya musim dingin”. Di samping itu, penerjemahan simbolisme "thaw" dengan “mencair” relatif kehilangan daya magisnya dalam bahasa Indonesia.
Manusia penerjemah berperan di kasus ini. Dia dapat mengolahnya dengan presisi rasa, misalnya dengan mengerahkan jurus alih bahasa “Kebekuan hatinya mulai luruh”.
Kemudian terkait dengan penerjemahan majas personifikasi. Contoh teks asalnya, yakni “The stars danced playfully in the moonlit sky”. Menurut versi terjemahan Google Translate “Bintang-bintang menari riang di langit yang diterangi cahaya bulan”.
Letak permasalahannya, kendatipun terjemahannya "danced playfully" relatif benar secara gramatika, “menari dengan riang” menjadi terasa datar.
Dalam sastra Indonesia, personifikasi seperti ini dapat mengalami pengolahan yang lebih estetis, misalnya dengan ekspresi terjemahan “Bintang-bintang berkerlip manja di bawah langit yang tengah memeluk terang cahaya rembulan”.
Tujuannya, agar tidak berkesan bintang tersebut menerima sentuhan personifikasi, seperti melakukan gerakan tarian secara fisik. Google Translate kadang beroperasi bukan berdasarkan pemahaman estetika atau kepekaan rasa (sense of art).
Kendatipun sistem Neural Machine Translation (NMT) dan AI telah membenahi akurasi terjemahan secara umum, karya sastra tetap menuntut adanya pemahaman konteks budaya dan kandungan makna tersirat yang kerap kali terlepas musnah lewat proses alih bahasa mesin.
Oleh karena itu, tidak terlalu keliru jika keberadaan Google Translate ketika berperan serta dalam proses terjemahan, relatif relevan untuk menangkap garis besar cerita. Akan tetapi, untuk mengundang sensasi pengalaman membaca yang berkualitas, partisipasi manusia penerjemah masih belum tergusur posisi pentingnya.
Adapun strategi kolaborasi, hasil terjemahan mesin tidak hanya mendapatkan perbaikan dari aspek gramatikalnya. Manusia penerjemah juga “menghidupkan” hasil terjemahan mesin agar memenuhi aspek kelancaran dan kenaturalan gaya bahasa.
Tidak kurang penting peran manusia penerjemah, yaitu memastikan lelucon, atau referensi lokal bahasa sumber tidak kehilangan makna saat bermigrasi ke bahasa target.
Adaptasi humor dan permainan kata (puns) misalnya dari permainan kata “Why did the scarecrow win an award? Because he was outstanding in his field!” ("Mengapa orang-orangan sawah memenangi penghargaan? Karena dia luar biasa di bidangnya!").
Dari hasil terjemahan literal Google Translate, bisa jadi khalayak audiens bahasa target (Indonesia) akan kehilangan kepekaannya untuk memahami sisi yang menawarkan humor segar.
Manusia penerjemah bisa menggantinya dengan humor yang sepadan nilai humoristisnya dalam bahasa Indonesia. Misalnya “Kenapa hantu suka baca buku? Karena mereka ingin menambah wawasan, bukan sekadar bergentayangan!”
Bisa pula adaptasi itu berupa makanan dan budaya keseharian. Contohnya mengalihbahasakan "He was eating an apple pie with vanilla ice cream" dengan menyesuaikan jenis makanan yang akrab dengan pengenalan khalayak audiens Indonesia, seperti “Dia sedang makan pisang goreng cokelat keju.”
Bentuk lainnya adalah adaptasi referensi tokoh/ budaya populer. Dari kalimat "He’s as famous as Elvis in this town", dapat memperoleh penerjemahan dengan menggantinya dengan tokoh ikonik Indonesia agar khalayak audiens langsung memahami tingkat kepopulerannya “Dia terkenal banget di kota ini, udah kayak Iwan Fals”.
Lalu adaptasi idiom, seperti kalimat "It’s as white as snow" dengan alih bahasa yang lebih familier lewat hasil alih bahasa “Putih seperti kapas”. Kemudian ada adaptasi ironi, salah satunya ironi pengetahuan (socratic irony) lewat ungkapan “Oh, please enlighten me with your infinite wisdom” yang menemukan adaptasi lewat terjemahan “Iya deh, ampun si paling tahu semua” yang efektif untuk menyindir.
Demikianlah adaptasi budaya memang perlu untuk mendapatkan realisasi pada bagian yang memang membutuhkan sentuhan perlakuan tersebut agar bahasa target karya sastra prosa dalam realisasi terjemahan terasa natural dan mengalir dengan enak. Dengan demikian, khalayak audiens bahasa target dapat merasakan efek emosional atau komedi yang sama dengan khalayak audiens bahasa asal.
Sebagai penutup, ada baiknya tulisan ini mendeskripsikan teknik Machine Translatiob Post-Editing (MTPE) dengan mengambil fragmen kalinat puitis sebagai berikut:
“The sun dipped below the horizon, painting the sky in hues of bruised violet and burning gold. It was a silent goodbye to a day that would never return.”
Hasil kerja Google Translate sebagai kerangka kasar di bawah ini:
“Matahari terbenam di bawah cakrawala, melukis langit dengan warna ungu memar dan emas yang terbakar. Itu adalah ucapan selamat tinggal yang sunyi untuk hari yang tidak akan pernah kembali.”
Bentukan “warna ungu memar" merupakan alih bahada literal dari bruised violet. Namun dalam bahasa Indonesia terdengar aneh dan kurang puitis. Juga bentukan “emas yang terbakar” dari burning gold belum menawarkan pesona estetika bahasa yang optimal. Dan, It was yang menjadi pemicu kehadiran bagian depan kalimat kedua “Itu adalah …” sangat mengindikasikan adanya jejak terjemahan mesin.
Di sini hadir peran serta manusia penerjemah. Dia datang untuk meniupkan “nyawa” dan memainkan rasa bahasa yang memenuhi asas kesesuaian maksimal. Selebihnya, lahirlah hasil terjemahan hasil kolaborasi antara manusia dan mesin penerjemah.
"Matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala, menyapu langit dengan semburat ungu pekat dan pijar keemasan. Sebuah salam perpisahan senyap bagi hari yang takkan pernah kembali."
Dalam proses ini, manusia penerjemah menyulihi kata “melukis” menjadi “menyapu” dan “warna” bersalin bentuk “semburat” sehingga menimbulkan efek bahasa yang lebih artistik. Ini yang dinamai modulasi diksi.
Manusia penerjemah juga melakukan lokalisasi rasa. Dia menukar bentukan “ungu memar” yang terdengar seperti warna tubuh yang mengalami luka menjadi “ungu pekat”. Ini lebih tepat untuk mendeskripsikan suasana senja yang dramatis.
Manusia penerjemah tidak ketinggalan melakukan perbaikan ritme. Dia menghapus bentukan “Itu adalah ucapan” dan langsung mengawalinya dengan bagian yang substantif, yaitu “Sebuah salam perpisahan”, agar alur narasi lebih mengalir dan menimbulkan efek dramatis. ***





