Malam di kawasan sekitar Kampus Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) biasanya dipenuhi lalu lalang kendaraan dan aktivitas mahasiswa. Namun selama bulan Ramadan tahun ini, suasana di depan kampus yang berada di kawasan Ciumbuleuit itu terasa sedikit berbeda.
Sekelompok mahasiswa dan warga terlihat berkumpul di tepi jalan. Sebagian mengenakan pakaian olahraga, sebagian lagi berdiri menonton sambil berbincang. Sesekali terdengar sorakan kecil ketika sepasang pelari melintas di jalur yang telah disepakati bersama.
Kegiatan itu diberi nama Runmadhan, sebuah kegiatan balap lari malam yang digagas oleh sekelompok mahasiswa Unpar bersama warga sekitar untuk mengisi waktu Ramadan dengan aktivitas yang lebih positif.
Muhammad Attila, salah satu mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan ini, mengatakan ide Runmadhan muncul secara spontan dari obrolan santai di antara teman-temannya.
“Awalnya kita teman-teman mahasiswa lagi gabut di bulan puasa, pengen isi waktu. Dari obrolan itu kepikiran, ‘ngapain ya?’ akhirnya muncul ide buat acara lari,” kata Attila.
Namun, mereka tidak ingin kegiatan itu hanya diikuti mahasiswa. Attila dan teman-temannya justru ingin mengajak warga sekitar untuk terlibat bersama.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi cara sederhana untuk mendekatkan mahasiswa dengan masyarakat di sekitar kampus.
“Karena kadang Unpar punya image yang elitis. Jadi kita pengen mendekatkan diri juga dengan warga sekitar, tanpa lembaga apa pun, tapi bisa bareng-bareng,” ujarnya.
Kegiatan Runmadhan pertama kali dimulai pada Sabtu, 28 Februari lalu. Kini, acara tersebut telah memasuki pelaksanaan kedua dengan jumlah peserta yang terus bertambah.
Mochammad Vinton, mahasiswa lain yang turut menginisiasi kegiatan ini, menyebut antusiasme masyarakat cukup tinggi.
“Respon masyarakat baik banget. Bahkan kalau dilihat yang nonton di sini mayoritas justru warga sekitar,” kata Vinton.
Dalam satu malam kegiatan, jumlah peserta lari bisa mencapai sekitar 30 pasangan pelari yang berasal dari mahasiswa maupun warga sekitar.
Tidak hanya lomba lari, Runmadhan juga diramaikan dengan kegiatan sosial lain. Di salah satu sisi area kegiatan, tampak sebuah lapak berisi pakaian yang bisa diambil secara gratis oleh siapa saja yang membutuhkan.
Attila menjelaskan, ide tersebut muncul dari teman-temannya yang ingin berbagi selama Ramadan.
“Kita barengin juga sama teman-teman yang pengen bikin lapakan baju gratis. Jadi baju-baju yang masih layak pakai kita taruh di sini, siapa pun boleh ambil,” ujarnya.
Karena kegiatan berlangsung di tepi jalan, mahasiswa juga melakukan koordinasi dengan pihak kampus dan kepolisian demi menjaga keamanan.
“Kita sudah koordinasi dengan pihak kepolisian dan kampus. Kita juga menghimbau warga supaya jalan umum tetap bisa dipakai, makanya kegiatan kita di depan kampus saja,” kata Vinton.
Untuk menambah semangat peserta, sesekali mahasiswa juga menyediakan hadiah sederhana. Pada pelaksanaan kali ini, salah satu kedai kopi ikut berpartisipasi dengan menyediakan minuman bagi peserta.
Meski demikian, menurut Vinton, kegiatan ini pada dasarnya lahir dari inisiatif bersama dan semangat kebersamaan.
“Kalau untuk hadiah kadang ada kalau ada rezekinya. Tapi kegiatan ini lebih ke keinginan bersama saja,” ujarnya.
Bagi warga sekitar, Runmadhan menjadi kegiatan yang disambut dengan sangat positif. Dio Rama, salah satu warga yang ikut menyaksikan kegiatan tersebut, menilai acara ini mampu menghadirkan alternatif kegiatan malam Ramadan yang lebih bermanfaat.
“Untuk kegiatan ini sih sangat mendukung ya, soalnya positif. Biasanya kan ada anak-anak yang perang sarung atau main petasan yang cukup berbahaya,” kata Dio.
Ia menilai kegiatan olahraga seperti ini bisa menjadi wadah bagi anak-anak dan remaja untuk berkumpul dengan cara yang lebih sehat.
“Jadi lebih cair dan lebih positif dari olahraganya juga,” ujarnya.
Menurut Dio, sebagian besar peserta dari kalangan warga justru berasal dari anak-anak dan remaja yang terlihat sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut.
“Kalau dari warga, anak-anak mungkin sekitar 60 persen, sisanya remaja. Mereka antusias banget,” katanya.
Meski Runmadhan dirancang sebagai kegiatan khusus Ramadan, para penggagasnya berharap semangat kebersamaan yang tercipta bisa terus berlanjut bahkan setelah bulan puasa berakhir.
“Pengennya tetap ada kegiatan yang mendekatkan mahasiswa dan masyarakat. Mungkin nanti bukan cuma lari, tapi bisa ada kegiatan lain juga,” kata Vinton.
Di tengah suasana malam Ramadan yang biasanya diisi dengan obrolan santai atau sekadar menunggu waktu sahur, Runmadhan menghadirkan warna berbeda di kawasan Kampus Unpar, sebuah pertemuan sederhana antara mahasiswa dan warga yang berlari bersama, berbagi ruang, dan membangun kedekatan.





