Angka kematian ibu dan bayi masih menjadi persoalan yang dihadapi di Indonesia. Angka kematian ibu di Indonesia bahkan merupakan yang tertinggi kedua di Asia Tenggara setelah Myanmar.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, angka kematian ibu (AKI) pada 2023 tercatat sekitar 305 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Itu jauh dari target nasional pada 2024 sebesar 183 per 100.000 kelahiran hidup.
Secara absolut, data kematian ibu yang tercatat dalam sistem pencatatan kematian maternal yang dikelola Kementerian Kesehatan menunjukkan ada 4.005 kasus kematian ibu yang terjadi pada 2022. Angka itu meningkat menjadi 4.129 kasus pada 2023.
Kondisi serupa juga terjadi pada angka kematian bayi. Angka kematian bayi meningkat dari sekitar 20.882 kasus pada 2022 menjadi hampir 29.945 kasus pada 2023. Data-data tersebut memperlihatkan bahwa upaya untuk menekan kematian ibu dan bayi masih menghadapi tantangan.
Salah satu penyebab utama dari masih tingginya angka kematian ibu dan bayi di Indonesia yakni keterlambatan dalam mendeteksi komplikasi dalam kehamilan. Selain itu, kesenjangan akses layanan kesehatan, terutama di daerah terpencil, membuat banyak ibu hamil yang tidak mendapatkan pemantauan kehamilan yang cukup.
Faktor lainnya, kurangnya kunjungan antenatal atau pemeriksaan kehamilan, keterbatasan tenaga kesehatan, dan rendahnya kesadaran dalam mengenali tanda bahaya dalam kehamilan. Adapun tanda bahaya dalam kehamilan yang sering terjadi, yakni perdarahan, hipertensi, dan infeksi.
Menjawab tantangan tersebut, peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menggagas sebuah inovasi yang diberikan nama DetectMe. Alat ini dapat membantu tenaga kesehatan dalam memantau kondisi janin dan ibu hamil dari jarak jauh. Lewat perangkat kecil yang ditempelkan di perut ibu hamil ini, pemeriksaan detak jantung bayi yang selama ini harus dilakukan di fasilitas kesehatan bisa dilakukan cukup dari rumah.
Ketua Pusat Teknologi Kesehatan dan Keolahragaan (PTKK) ITB, Hasballah Zakaria saat dihubungi Sabtu (7/3/2026) mengatakan, ide mengembangkan inovasi tersebut muncul dari target pemerintah dalam penurunan angka kematian ibu dan bayi. Lebih dari satu dekade target tersebut ditetapkan, kematian ibu dan bayi tetap masih menjadi tantangan.
“Dulu ada target Millennium Development Goals (pada 2015) untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Tapi sampai berubah menjadi SDGs (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan pada 2030) pun angkanya masih cukup tinggi,” tuturnya.
Ia menyampaikan, keterbatasan layanan serta tenaga kesehatan di sejumlah daerah, seperti jarak yang jauh, kurangnya tenaga kesehatan, dan kondisi geografis yang sulit membuat pemeriksaan ibu hamil tidak bisa rutin dilakukan. Hal itu membuat masalah pada kehamilan terlambat diketahui dan ditangani.
DetectMe hadir sebagai solusi awal untuk menjembatani berbagai tantangan tersebut. Alat yang menggunakan sistem ultralight ini memungkinkan ibu hamil melakukan pemantauan sederhana terkait kondisi dirinya dan janin secara mandiri dari rumah. Data dari hasil pemantauan tersebut dapat dilihat pula secara langsung oleh tenaga kesehatan dari jarak jauh.
Secara bentuk, perangkat DetectMe didesain berukuran kecil dan portabel. Perangkat ini dilengkapi dengan sensor elektroda sederhana yang digunakan dengan cara ditempelkan pada perut ibu hamil.
Sensor tersebut akan menangkap sinyal listrik dari detak jantung ibu dan janin. Proses pemantauan biasanya dilakukan selama 30 menit. Dalam waktu tersebut, sensor akan merekam aktivitas jantung ibu dan janin.
Hasballah menuturkan, teknologi tersebut mirip dengan metode yang digunakan untuk pemeriksaan elektrokardiogram (EKG). Namun, pada DetectMe, pengukuran detak jantung dilakukan dari permukaan perut ibu hamil yang paling dekat dengan posisi janin. Sinyal yang ditangkap oleh sensor dapat membaca aktivitas jantung ibu dan janin.
“Kalau kita menaruh sensor di perut ibu hamil, sinyalnya akan diolah secara algoritma dengan teknologi AI (kecerdasan artifisial). Itu memungkinkan untuk menangkap dua jantung sekaligus dan bisa memisahkan antara detak jantung ibu dan detak jantung janinnya,” ujarnya.
Sistem pada DetectMe juga dilengkapi dengan aplikasi khusus yang dapat diunduh pada telepon pintar (smartphone). Aplikasi tersebut berfungsi untuk merekam dan mengirimkan data hasil dari pengukuran detak jantung. Selain detak jantung, alat ini juga dapat mendeteksi gerakan janin, kontraksi, dan suhu ibu hamil.
Data yang terkumpul nantinya akan dikirimkan ke server berbasis komputasi awan (cloud). Data itu bisa diakses oleh tenaga kesehatan lewat dashboard khusus sehingga kondisi pasien bisa dipantau secara langsung. Sistem tersebut juga dapat menyimpan riwayat data pasien untuk dianalisis lebih lanjut.
Hasbullah menuturkan, sistem pada DetectMe dilengkapi pula dengan sistem peringatan dini. Jika sistem mendeteksi adanya pola detak jantung yang tidak normal, aplikasi akan memberikan notifikasi pada ibu hamil dan tenaga kesehatan.
Alat ini direkomendasikan untuk digunakan oleh ibu hamil pada trimester akhir. Pada periode tersebut, risiko komplikasi pada kehamilan cukup tinggi
Lewat notifikasi tersebut, pasien akan diberikan peringatan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan. Dengan cara itu, proses skrining dan deteksi dini gangguan pada kehamilan diharapkan bisa dilakukan dengan baik sehingga risiko komplikasi bisa dicegah.
Dalam penggunaanya, alat ini direkomendasikan untuk digunakan oleh ibu hamil pada trimester akhir. Pada periode tersebut, risiko komplikasi pada kehamilan cukup tinggi. Banyak komplikasi dalam kehamilan terjadi pada trimester akhir.
Hasballah menjelaskan, sistem DetectMe mulai dikembangkan sekitar tahun 2021. Setelah melalui beberapa penelitian, alat ini akhirnya masuk dalam tahap uji coba. Saat ini, alat yang sudah mendapatkan nomor paten dan nomor merek ini telah diuji coba pada 20 ibu hamil di Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Ibu hamil yang diuji merupakan ibu hamil dengan kondisi rentan. Selain itu, Garut dipilih karena berdasarkan data menunjukkan angka kematian ibu dan bayi yang cukup tinggi. Pengujian akan dilakukan setidaknya selama satu bulan penuh. Sementara saat ini sudah berjalan sampai minggu ketiga.
Selain Garut, uji coba rencananya juga akan dilakukan pada sekitar 50 ibu hamul di Kupang, Nusa Tenggara Timur dan Ambon, Maluku. Daerah tersebut dipilih untuk menguji apakah teknologi ini dapat bekerja di wilayah dengan keterbatasan infrastruktur. “Kenapa kita pilih daerah yang jauh, karena kita ingin melihat apakah teknologi ini bisa bekerja di daerah terpencil,” ucapnya.
Dalam proses pengembangan inovasi DetectMe, banyak institusi yang turut terlibat. Lembaga-lembaga tersebut antara lain, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, Rumah Sakit Hasan Sadikin, Telkom University, dan PT Xirka Dama Persada. Kerja sama lintas sektor ini diharapkan dapat mendukung upaya hilirisasi dari inovasi DetectMe.
Hasballah menyebutkan, berbagai pengembangan akan terus dilakukan. Sejumlah tantangan yang dihadapi juga akan diatasi, termasuk pada saat penggunaannya di lapangan.
Dengan keragaman tingkat literasi teknologi pada masyarakat, alat DetectMe terkadang tidak dapat terbaca dengan baik karena sensor yang disematkan oleh ibu hamil tidak terpasang sempurna. Karena itu, edukasi masih harus terus dilakukan.
Ia juga berharap agar pemerintah bisa mendukung penggunaan inovasi tersebut lewat regulasi tertentu. Perangkat yang sudah dihasilkan perlu diadopsi oleh sistem kesehatan pemerintah agar dapat digunakan secara luas.
“Alat ini punya satu tujuan utama yakni menekan angka kematian ibu dan bayi lewat skrining dan deteksi dini. Karena itu, dukungan dari berbagai pihak, terutama pemerintah sangat dibutuhkan,” kata Hasballah.
Secara terpisah, Dosen Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran Restuning Widiasih yang juga salah satu anggota tim pengembangan inovasi DetectMe, dalam siaran pers di laman resmi Universitas Padjadjaran, menyampaikan, inovasi tersebut diharapkan turut meningkatkan kesadaran ibu hamil untuk memeriksakan kondisi kesehatannya dan janinnya. Alat ini akan sangat membantu ibu hamil yang bermukim jauh dari fasilitas pelayanan kesehatan.
Selain itu, alat ini akan membantu bagi ibu hamil yang memiliki kehamilan dengan risiko tinggi yang sewaktu-waktu dapat mengancam diri dan janinnya. “Alat ini akan membantu memantau untuk ibu-ibu yang hamil dengan resiko tinggi atau kondisi janinnya mungkin teridentifikasi akan resiko tinggi, juga untuk daerah-daerah yang akses ke pelayanan kesehatan itu jauh,” tuturnya.





