JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Presiden (Wapres) ke-10 dan 12 RI Jusuf Kalla (JK) berdiskusi dengan sejumlah tokoh lintas generasi di kawasan Jakarta Selatan, pada Sabtu (7/3/2026) kemarin.
Jusuf Kalla mengatakan, pertemuan tersebut semata-mata bertujuan mencari gagasan agar penyelenggaraan negara dapat berjalan lebih baik.
“Intinya bagaimana negara lebih baik. Tidak ada pembicaraan menjatuhkan pemerintah,” tegas JK berdasarkan keterangan yang diterima, Minggu (8/3/2026).
Adapun, beberapa tokoh yang hadir dalam diskusi di antaranya adalah pakar hukum tata negara Feri Amsari, Titi Anggraini (Pendiri Perludem), Mandira Bienna (Ketua Forum Indonesia Muda), Diah Saminarsih (Founder CISDI), Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto, Yanuar Nugroho (STF Driyarkara), serta Andhyta Utami (Founder Think Policy).
Baca juga: JK Minta Pemerintah Antisipasi Terbatasnya Stok BBM Imbas Konflik AS-Iran
Diskusi tersebut mempertemukan kalangan akademisi, aktivis, pengusaha, dan mahasiswa untuk bertukar pandangan mengenai masa depan Indonesia.
JK turut menambahkan berbagai aspek dibahas dalam diskusi tersebut, mulai dari kebijakan ekonomi, pengelolaan keuangan negara, pendidikan, hingga dunia usaha.
JK juga mengingatkan bahwa Indonesia berpotensi menghadapi persoalan ekonomi dalam beberapa waktu ke depan jika tidak dilakukan langkah-langkah perbaikan.
“Dibutuhkan tindakan bersama, baik dari pemerintah maupun masyarakat, agar situasi ekonomi tidak memburuk,” katanya.
Pakar hukum tata negara Feri Amsari yang hadir di diskusi itu mengatakan, pertemuan itu bertujuan belajar dari pengalaman Jusuf Kalla yang pernah menjabat sebagai wakil presiden, menteri, ketua partai, hingga juru damai di berbagai konflik.
“Penyelenggaraan negara tidak boleh menggunakan insting dan cara instan. Itu yang kami pelajari dari konsep dan pengalaman Pak JK,” ujar Feri.
Baca juga: Jusuf Kalla Wanti-wanti Subsidi Bisa Bengkak akibat Perang Iran
Menurut Feri, pengalaman tersebut penting dalam konteks krisis kepemimpinan global yang saat ini terjadi di berbagai negara.
Selain membahas kepemimpinan, Feri juga mengungkapkan para peserta berdiskusi mengenai berbagai persoalan ekonomi yang berkaitan dengan penyelenggaraan negara.
Dalam kesempatan itu, Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto juga menyoroti sejumlah isu, termasuk dugaan kriminalisasi terhadap aktivis.
Tiyo menyebut, terdapat ratusan aktivis yang saat ini masih berstatus tersangka.
Tiyo lantas mengibaratkan Indonesia sebagai 'bus besar' yang membawa sekitar 280 juta rakyat sebagai penumpang.





