Penulis: Fityan
TVRINews – Washington DC
Transformasi kebijakan luar negeri Amerika Serikat menandai babak baru ketegangan di Timur Tengah melalui "Operation Epic Fury".
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, resmi memerintahkan dimulainya operasi militer terhadap Iran padasabtu 7 Maret 2026.
Keputusan strategis yang dikenal dengan sandi "Operation Epic Fury" tersebut ditandatangani di atas pesawat kepresidenan Air Force One saat menuju Corpus Christi, Texas.
Langkah ini menandai pergeseran drastis sosok yang sebelumnya memosisikan diri sebagai "Presiden Perdamaian" yang bertekad mengakhiri perang tanpa akhir (forever wars). Namun, dalam beberapa bulan terakhir, eskalasi di kawasan menunjukkan arah kebijakan yang berbeda.
Momentum di Balik Keputusan
Keputusan penyerangan ini muncul setelah serangkaian peristiwa krusial, termasuk keberhasilan operasi penangkapan pemimpin Venezuela, Nicolás Maduro, awal tahun ini.
Keberhasilan tersebut dilaporkan meningkatkan kepercayaan diri Gedung Putih terhadap efektivitas serangan presisi.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan bahwa tindakan tersebut bersifat preventif.
"Kami mengetahui akan ada aksi dari pihak Israel dan menyadari hal itu akan memicu serangan balasan terhadap pasukan Amerika.
Kami bertindak lebih dulu untuk mencegah jatuhnya korban yang lebih besar di pihak kami," ujar Rubio kepada media pada Senin lalu.
Diplomasi yang Buntu
Meskipun Trump sempat mengutus Steve Witkoff dan Jared Kushner untuk berdialog dengan diplomat Iran di Jenewa, kesenjangan posisi antara kedua belah pihak dinilai terlalu lebar.
Washington menuntut penghentian permanen pengayaan uranium dan pembatasan ketat program rudal, syarat yang gagal dipenuhi oleh Teheran.
Witkoff memberikan pernyataan kepada Fox News mengenai situasi tersebut:
"Presiden tidak habis pikir mengapa mereka (Iran) belum juga menyerah di meja perundingan."
Skala Operasi dan Dampaknya
Operasi yang melibatkan lebih dari 100 jet tempur dan rudal Tomahawk ini menyasar lebih dari 1.000 target dalam 24 jam pertama. Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan, mendeskripsikan serangan ini sebagai operasi yang masif dan meliputi seluruh domain peperangan.
Laporan intelijen menyebutkan bahwa serangan udara tersebut juga menyasar kompleks pemimpin tertinggi Iran di Teheran.
Hingga kini, dampak jangka panjang dari operasi ini terhadap stabilitas regional masih menjadi sorotan komunitas internasional.
Trump, yang kini menghadapi realitas konflik besar di periode keduanya, menyatakan bahwa persediaan persenjataan AS hampir tidak terbatas. Peristiwa ini mencerminkan dinamika rumit dalam politik luar negeri AS, di mana retorika anti-intervensi kini berhadapan dengan penggunaan kekuatan militer berskala besar.
Editor: Redaksi TVRINews





