Jakarta: Bank of England (BoE) menghadapi ancaman inflasi baru karena melonjaknya harga energi, yang dipicu oleh meningkatnya konflik Amerika Serikat (AS)-Iran, mengancam untuk menggagalkan kemajuan disinflasi Inggris.
Menurut analisis dari Deutsche Bank, mengutip Investing.com, Minggu, 8 Maret 2026, guncangan minyak yang diakibatkan oleh penutupan Selat Hormuz dapat mendorong inflasi utama Inggris kembali mendekati level tiga persen pada akhir 2026.
Adapun indeks FTSE 100 tetap berada di bawah tekanan pada Senin, diperdagangkan turun 0,85 persen karena investor mempertimbangkan dampak kenaikan biaya input.
Para analis mencatat meskipun inflasi Inggris berada di jalur menuju target dua persen Bank of England (BoE), lonjakan tiba-tiba harga minyak mentah Brent, yang diperdagangkan mendekati USD95 per barel, telah menimbulkan bias pro-inflasi yang signifikan.
Kondisi ini membuat Komite Kebijakan Moneter (MPC) BoE berada dalam skenario yang kompleks, karena sekarang harus menyeimbangkan pertumbuhan yang melambat dengan inflasi akibat kenaikan biaya impor.
Baca juga: Gejolak Harga Minyak Imbas Perang AS-Israel Vs Iran Bikin Dolar AS 'Untung'
(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
Risiko inflasi tembus 3%
Kekhawatiran utama bagi Threadneedle Street adalah kecepatan kenaikan harga energi grosir yang berdampak pada Indeks Harga Konsumen (CPI). Pemodelan Deutsche Bank menunjukkan kenaikan harga minyak sebesar 10 persen secara berkelanjutan biasanya menambah sekitar 0,2 hingga 0,3 poin persentase pada inflasi utama Inggris dalam jangka waktu enam hingga 12 bulan.
Selat Hormuz merupakan jalur transit LNG dan minyak bumi yang signifikan di dunia. Gangguan yang berkepanjangan dapat menyebabkan lonjakan tagihan utilitas domestik dan biaya transportasi.
Berbeda dengan krisis pada 2022 yang dipicu oleh gas alam, guncangan terbaru ini berpusat pada minyak mentah dan logistik maritim. Inflasi barang di Inggris diperkirakan akan terpukul sangat keras, berpotensi mengimbangi pendinginan sektor jasa baru-baru ini.
Para ahli strategi menekankan jika harga minyak stabil di atas USD100, Bank of England mungkin terpaksa meninggalkan siklus pelonggaran yang direncanakan untuk mencegah efek putaran kedua dalam negosiasi upah.
Guncangan geopolitik juga telah secara signifikan mengubah ekspektasi pasar terhadap suku bunga bank sentral. Pasar swap sekarang memperkirakan probabilitas yang lebih tinggi dimana Bank of England akan mempertahankan tingkat suku bunga yang ketat hingga 2027.
Guncangan 'stagflasi' ini, di mana harga naik sementara produksi melambat, menimbulkan ancaman langsung terhadap PDB Inggris, yang menurut proyeksi Deutsche Bank dapat terhambat sebesar 0,4 persen pada 2026 jika biaya energi tetap tinggi.
Sementara pasangan GBP/USD menunjukkan ketahanan, didukung oleh prospek Bank of England yang lebih hawkish. Namun, analis memperingatkan penguatan Sterling mungkin hanya sementara jika guncangan energi menyebabkan kontraksi yang lebih dalam dalam produksi industri.




