Bisnis.com, JAKARTA — Organisasi Angkutan Darat (Organda) menyoroti ketersediaan BBM jenis solar di SPBU, yang menjadi tantangan utama pelaku usaha bus menjelang Angkutan Lebaran 2026.
Ketua Bidang Angkutan Orang DPP Organda Kurnia Lesani Adnan mengungkapkan, pada dasarnya isu BBM bukanlah hal rutin setiap masa peak season seperti Lebaran. Melainkan, isu yang sejak lama belum terselesaikan.
“Pemerintah jangan beralasan imbas perang AS-Iran karena ini masalah yang tidak terselesaikan dan menjadi halangan terbesar kami di operasional,” ujarnya kepada Bisnis, dikutip Minggu (8/3/2026).
Sani, sapaannya, mengeluhkan bahwa masalah ini merupakan agenda tahunan dan terjadi pada hari-hari biasa hingga mengganggu operasional. Bahkan, di SPBU sepanjang Tol Trans Sumatra dan Tol Trans Jawa pun kerap terjadi kelangkaan BBM Solar.
Anehnya, solar justru tersedia di penjual eceran pinggir jalan. Alhasil, pengemudi mau tidak mau membelinya dengan harga yang lebih tinggi.
Permasalahan pembelian Solar pun bukan hanya berhenti di situ. Persoalan kode bar atau barcode di MyPertamina kerap terblokir sehingga bus tak dapat mengisi bahan bakar.
Baca Juga
- Pelni Siapkan 55 Kapal Angkutan Lebaran 2026, Batam-Belawan Rute Terpadat
- Armada Pelni Siap Layani Angkutan Lebaran 2026, Tersedia 751.550 Tiket
- Menhub Proyeksi Kepadatan Angkutan Lebaran 2026 Lebih Longgar Berkat WFA
Pihaknya berulang kali gagal melakukan pembukaan blokir, terdapat oknum pihak SPBU yang menawarkan bantuan pembukaan blokir, tetapi berbayar.
Masalah lainnya, yakni sering terjadi kuota solar habis dalam keterangan aplikasi MyPertamina, padahal pemilik kendaraan belum melakukan pengisian bahan bakar.
“Kami sebagai pengguna bahan bakar minyak bersubsidi ini sangat resah dengan dinamika dan permasalahan ini karena sangat mengganggu operasional dalam melayani kebutuhan transportasi masyarakat sehari hari,” tegasnya.
Sani yang juga merupakan bos PO. SAN tersebut menuturkan, tantangan operasional semakin menjadi dengan proyeksi jumlah penumpang yang menggunakan bus tidak akan meningkat secara siginifikan pada tahun ini.
Kondisi ini sejalan dengan tren penurunan jumlah pemudik menggunakan bus sejak 2023. Meski pelaku usaha telah menambah unit bus hingga 30%, tetapi jumlah penumpang justru turun hingga 40% pada periode 2024—2025.
“Untuk lonjakan ada dimulai tanggal 16- 17-18 Maret, itupun tidak signifikan kalau di banding musim Lebaran 2025 lalu,” lanjutnya.
Adapun menjelang masa Angkutan Lebaran 2026, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah melakukan ramp check terhadap 27.664 unit bus sejak 23 Februari 2026.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 17.516 unit diizinkan beroperasi, sedangkan sisanya diberikan peringatan perbaikan, dilarang beroperasi, hingga dikenakan sanksi tilang.





