London: Amerika Serikat mulai menggunakan pangkalan militer di Inggris untuk menjalankan apa yang disebut sebagai “operasi pertahanan khusus” terkait konflik dengan Iran.
Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan operasi tersebut bertujuan mencegah Iran meluncurkan rudal yang dapat membahayakan wilayah dan warga negara Inggris.
“Amerika Serikat telah mulai menggunakan pangkalan-pangkalan Inggris untuk operasi pertahanan khusus guna mencegah Iran menembakkan rudal ke wilayah tersebut, sehingga membahayakan nyawa warga Inggris,” kata Kementerian Pertahanan Inggris dalam pernyataan yang dikutip Sky News dan Antara, Minggu, 8 Februari 2026.
Selain itu, Inggris juga mengerahkan jet tempur Typhoon dan F-35 untuk operasi udara di Yordania, Qatar, dan Siprus. London juga dilaporkan mengirimkan helikopter Merlin ke kawasan tersebut sebagai bagian dari peningkatan kehadiran militernya.
Di tengah langkah militer tersebut, ratusan orang menggelar demonstrasi di pusat kota Nicosia, Siprus, untuk memprotes keberadaan pangkalan militer Inggris di negara itu.
Menurut laporan Cyprus Mail, para demonstran membawa spanduk bertuliskan “Siprus bukan landasan peluncuranmu” dan “Pangkalan Inggris keluar.”
Presiden Siprus Nikos Christodoulides sebelumnya juga menyatakan bahwa isu mengenai masa depan pangkalan militer Inggris di pulau tersebut dapat menjadi bahan pembahasan setelah konflik di Timur Tengah mereda. Iran vs AS-Israel Konflik regional meningkat sejak 28 Februari ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran.
Serangan tersebut menyebabkan kerusakan besar serta korban jiwa di kalangan warga sipil. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan ke wilayah Israel serta sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Awalnya, Amerika Serikat dan Israel menyatakan operasi militer tersebut merupakan langkah pencegahan terhadap ancaman yang mereka klaim berasal dari program nuklir Iran.
Namun kemudian muncul pernyataan dari sejumlah pejabat yang mengisyaratkan keinginan untuk melihat perubahan kepemimpinan di Iran.
Pada hari pertama operasi militer, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas. Pemerintah Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Presiden Rusia Vladimir Putin mengecam pembunuhan Khamenei dan menyebutnya sebagai pelanggaran hukum internasional. Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengutuk operasi militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Moskow menyerukan deeskalasi segera serta penghentian permusuhan di kawasan Timur Tengah.
Baca juga: Negara-Negara Eropa Terpecah Sikapi Serangan AS-Israel ke Iran




