Terkini, Makassar — Bagi sebagian orang, Hari Perempuan Sedunia mungkin hanya hadir sebagai ucapan selamat atau rangkaian kampanye di media sosial. Namun bagi Rosdianah Rosi, momentum ini menyimpan makna yang jauh lebih dalam.
Perempuan yang bertugas di Polda Sulawesi Selatan itu melihat Hari Perempuan bukan sekadar perayaan simbolik. Baginya, hari tersebut adalah pengingat tentang nilai kesetaraan, keberanian, serta kontribusi perempuan di berbagai ruang kehidupan, mulai dari rumah tangga hingga panggung kepemimpinan.
Di tengah dinamika tugas kepolisian yang selama ini kerap dipandang sebagai dunia maskulin, Rosdianah justru melihat Hari Perempuan sebagai kesempatan untuk menghadirkan kembali cerita-cerita perempuan yang sering luput dari sorotan.
“Momentum ini mengingatkan kita bahwa perempuan punya peran besar di berbagai bidang. Bukan hanya di rumah, tetapi juga di ruang publik, dunia kerja, hingga kepemimpinan,” ujarnya.
Namun bagi Rosdianah, makna Hari Perempuan tidak berhenti pada simbol atau seremoni tahunan.
Ia percaya, penghormatan terhadap perempuan harus diwujudkan dalam langkah nyata mulai dari kebijakan yang adil hingga lingkungan kerja yang memberikan ruang setara bagi semua.
Ia menilai, di berbagai sektor masih terdapat tantangan yang dihadapi perempuan. Mulai dari kesenjangan kesempatan, akses pendidikan, hingga beban ganda yang sering kali harus dipikul antara peran profesional dan keluarga.
Karena itu, ia berharap momentum Hari Perempuan dapat menjadi pengingat sekaligus dorongan bagi semua pihak untuk menghadirkan perubahan yang lebih konkret.
Termasuk memastikan adanya perlindungan dari kekerasan dan pelecehan, serta kesempatan yang sama bagi perempuan untuk berkembang dan memimpin.
Bagi perempuan yang mengabdi di institusi kepolisian, harapan tersebut terasa semakin relevan.
Rosdianah menilai perempuan polisi perlu memperoleh akses pelatihan, kesempatan penugasan, serta ruang pengembangan karier yang setara.
Menurutnya, perempuan tidak seharusnya hanya ditempatkan pada pekerjaan administratif atau penanganan kasus tertentu, tetapi juga diberi kepercayaan dalam berbagai tugas strategis.
Selain itu, lingkungan kerja yang aman dan suportif menjadi hal penting agar perempuan polisi dapat menjalankan tugas secara profesional tanpa harus menghadapi bias maupun diskriminasi.
Ia juga berharap semakin banyak perempuan yang tampil sebagai pemimpin di tubuh kepolisian. Kehadiran figur-figur tersebut diyakini dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda yang ingin mengabdikan diri sebagai anggota Polri.
Rosdianah percaya, perempuan memiliki pendekatan yang sering kali membawa warna berbeda dalam kerja kepolisian mulai dari empati, kemampuan bernegosiasi, hingga komunikasi yang menenangkan.
Pendekatan itu, menurutnya, menjadi kekuatan tersendiri dalam membangun hubungan antara polisi dan masyarakat.
Di Makassar dan berbagai daerah di Sulawesi Selatan, Rosdianah membayangkan peran polisi perempuan akan semakin terasa melalui berbagai program berbasis komunitas.
Dalam ruang-ruang interaksi seperti itu, kehadiran polisi perempuan tidak hanya menjalankan fungsi keamanan, tetapi juga membangun kepercayaan dan kedekatan dengan warga.
Pada akhirnya, bagi Rosdianah, Hari Perempuan adalah pengingat bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar.
Terkadang, perubahan justru lahir dari komitmen-komitmen kecil yang dilakukan secara konsisten—di lingkungan kerja, di dalam institusi, maupun di tengah masyarakat.




