Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tidak hanya memberikan manfaat bagi anak-anak sekolah, tetapi juga membuka kesempatan kerja bagi masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.
Salah satu kisah datang dari Emilia Widyastuti, perempuan berusia 33 tahun penyandang tunarungu wicara yang kini bekerja di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gempeng, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Dengan bahasa isyarat, Emilia yang akrab disapa Emi memperkenalkan dirinya.
“Namanya saya Esti Emilia Widyastuti, umur 33 tahun. Sebelum kerja di sini saya (bekerja) di Sragen,” kata Emi didampingi ibunya, dikutip Minggu (8/3).
Sebelumnya, Emi bekerja di sebuah perusahaan plastik di Sragen selama dua tahun. Namun, ia memutuskan berhenti setelah mengalami sakit dan merasa kesulitan bekerja sendirian, terlebih setelah teman dekatnya meninggal dunia.
Tempat bekerjanya pun jauh dari rumah, jarak Sragen ke rumahnya di Sukoharjo mencapai 50 kilometer.
Kini, Emi merasa lebih nyaman bekerja di SPPG Gempeng karena lokasinya dekat dengan rumah. Lingkungan kerjanya pun mendukung. Ibunda Emi mengaku bersyukur anaknya mendapatkan kesempatan bekerja di tempat tersebut.
“Alhamdulillah dia bisa diterima di (dapur) MBG sini. SPPG Gempeng ini dekat dengan rumah kami,” ujar sang ibu.
Menurutnya, keberadaan program MBG tidak hanya memberikan manfaat bagi penerima makanan bergizi, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi keluarga dengan kondisi terbatas.
“Saya berterima kasih sekali kepada Bapak Presiden Prabowo yang telah membuat program MBG ini karena ini sangat bermanfaat bagi kami yang ekonominya lemah,” tuturnya.
Kesempatan kerja bagi Emi berawal dari proses pendaftaran seperti pelamar pada umumnya. Sang ibu mengatakan mereka hanya melengkapi persyaratan administrasi seperti surat keterangan catatan kepolisian (SKCK) dan dokumen lain yang diminta.
“Saya mencoba saja, kalau memang Emi bisa ya dilanjutkan. Kalau tidak mampu juga tidak apa-apa. Ternyata dia mampu bekerja di sini,” jelasnya.
Bagi Emi sendiri, lingkungan kerja yang ramah menjadi alasan utama ia merasa betah. Saat ditanya oleh ibunya apakah ia senang bekerja di sana, Emi mengaku bahagia karena memiliki banyak teman yang baik.
Ketika ditanya mengenai gajinya, Emi juga mengungkapkan bahwa penghasilannya dapat ditabung dan digunakan untuk membantu keluarganya.
“Untuk ditabung, sebagian juga untuk keperluan sendiri dan membantu adiknya,” kata ibunya membantu menjelaskan jawaban Emi.
Di akhir percakapan, Emi menyampaikan pesan jika suatu hari dapat bertemu langsung dengan Presiden Prabowo.
“Terima kasih Bapak Presiden Prabowo yang sudah menciptakan MBG untuk kesejahteraan masyarakat dan anak-anak sekolah,” ucapnya.
Produksi UMKM MeroketProgram Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto dirasakan langsung manfaatnya oleh pelaku usaha kecil di berbagai daerah.
Salah satunya datang dari usaha roti milik Rahmat (42 tahun), pelaku UMKM bakery di Dusun Dukuh Sepat, Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.
Sebelum program MBG berjalan, usaha roti milik Rahmat rata-rata memproduksi sekitar 1.000 roti per hari. Namun, sejak dipercaya menyuplai roti untuk MBG, produksinya melonjak.
"Setelah ada pesanan MBG ini, sekitar 2.500 pesanan per hari. Sebelumnya paling 1.000-an. Kami melayani dua dapur produksi, yaitu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gempeng Bulu dan SPPG Kelurahan Bulu," kata Rahmat dikutip Minggu (8/3).
Untuk kebutuhan MBG, Rahmat memproduksi varian roti kecil dengan harga terjangkau, berkisar Rp2.000 hingga Rp2.500, yang dikemas dengan standar gizi yang ditentukan.
Rekrut Pegawai BaruLonjakan pesanan ini berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja di lingkungan sekitarnya. Rahmat kini menjalankan tokonya dengan lima orang pegawai, termasuk ia dan istrinya, sementara tiga lainnya adalah pegawai baru yang direkrut khusus untuk menangani pesanan MBG.
"Otomatis menambah pegawai karena kalau ditangani sendiri tidak mampu. Kami juga bisa memberdayakan ibu-ibu rumah tangga yang biasanya menganggur di rumah, hari ini bisa diberdayakan untuk membantu. Dan itu mudah-mudahan bisa memberikan nilai lebih," jelasnya.
Bagi Rahmat pribadi, tambahan penghasilan ini sangat membantu biaya pendidikan ketiga anaknya. "Dengan adanya orderan MBG ini secara otomatis bisa menambah penghasilan kami. Kebutuhan yang biasanya itu tidak bisa ter-cover, dengan adanya orderan MBG ini Alhamdulillah bisa untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari."
Kisah Rahmat di Sukoharjo adalah satu dari jutaan bukti nyata dampak ekonomi program MBG secara nasional. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menegaskan bahwa per Februari 2026, program ini telah berhasil menciptakan satu juta lapangan kerja melalui operasional dapur MBG di seluruh Indonesia.
"Dengan 22.000 (dapur) saja sekarang, kita sudah menciptakan lapangan kerja 1 juta. 22.000 kali 50 orang yang digaji tiap hari. Sudah kita ciptakan lapangan kerja 1 juta," ujar Presiden Prabowo dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Februari lalu.
Rahmat berharap program ini terus berlanjut karena sangat membantu UMKM kecil bertahan di tengah persaingan pasar yang ketat.
"Seandainya bisa bertemu Pak Prabowo, ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada Pak Prabowo atas program MBG ini. Karena betul program ini membantu kami, khususnya UMKM kecil-kecil ini untuk bisa bertahan. Karena di roti, kompetitornya itu sangat luar biasa. Dengan adanya MBG ini bisa bertahan," tutupnya.





