Donny Fattah dan Editorial

metrotvnews.com
19 jam lalu
Cover Berita

Seribu badai silih menghempas

Seribu luka perih membekas

Ku tetap berdiri

ada di sini ada di sini

Meski letih lemah lunglai

Aku di sini menggenggam nilai

Merengguk nikmati nafas musisi'


Penggalan lirik lagu God Bless berjudul Kukuh itu kuat menggambarkan sikap penulisnya: Donny Fattah. Dalam badai sedahsyat apa pun, ia tak beringsut dari musik. Salah satu pendiri sekaligus pembetot bas grup rock God Bless itu punya nama asli Jidon Patta Onda Gagola.

Musikus legendaris yang lahir pada 24 September 1949 itu berpulang pada 7 Maret 2026 pada usia 76 tahun setelah berjuang melawan penyakit komplikasi. Ia sosok penting di God Bless dan dalam peta musik Tanah Air. Musik sudah seperti nyawa dalam tubuhnya. Saya menangkap kesan kuat itu pada pertemuan kali kedua dengan Donny Fattah.
 

Baca Juga :

Cerita Haru Anya Geraldine Nangis di Pesawat Saat Vidi Wafat


Hampir sembilan tahun lalu, saya berkesempatan bertemu salah satu sosok yang saya kagumi itu. Kami bertemu di Grand Studio Metro TV. Saat itu God Bless sedang melakukan geladi bersih, beberapa jam menjelang penampilan mengisi acara Mata Najwa.

Setelah mendengar ada God Bless, saya berusaha mencuri kesempatan menemui para personelnya. Saya sebenarnya sudah pernah berkenalan dengan Donny Fattah pada 1991, di balik panggung konser Kantata Takwa di Kota Surakarta (Solo). Namun, ketika itu, saya hanya bisa berfoto bersama dan meminta tanda tangan.

Karena itu, pertemuan pada 2017 di geladi bersih itu saya manfaatkan untuk ngobrol lebih mendalam dengan sosok yang rendah hati itu. Saat jeda, saya mengulurkan tangan memperkenalkan diri. Namun, tanpa diduga, Donny Fattah mengatakan, "Saya sudah mengenal Anda, Bung."

"Lo, dari mana Bang Donny Fattah mengenal saya?" tanya saya dengan hati 'berbunga-bunga' karena dikenali salah satu sosok idola.

"Saya penonton setia acara Editorial Media Indonesia pagi hari di Metro TV. Saya suka ulasan di acara itu. Saya bahkan pernah berusaha ikut berpartisipasi dengan menelepon, tapi susah masuk," kata Donny, ketika itu.

Bagi Donny, acara Editorial Media Indonesia mewakili keresahannya. Ia senang karena, kata dia, "Ada yang masih setia pada akal sehat. Ada yang menangkap keresahan masyarakat."

Donny bahkan bisa menyebut nama-nama pembedah Editorial di Metro TV itu. Ia menyebut nama Elman Saragih sebagai salah satu sosok yang ia sukai. "Orangnya dar der dor, ha ha ha," kata Donny.


Bassis God Bless, Donny Fattah. Foto: Instagram @godblessrocks.

Saya lalu mengelaborasi lebih jauh soal makna musik bagi seorang Donny. "Musik bagi saya sudah menjadi 'jalan hidup'. Saya tidak berpikir mencari jalan selain dari musik dan musik. Inilah jalan kami, jalan saya, jalan Mas Iyek (Ahmad Albar), jalan Ian Antono, jalan Abadi Soesman, jalan Fajar Satritama," kata Donny.

Ia menghormati musikus yang juga bisa 'menyambi' menjadi aktor, aktris, pebisnis, pejabat, dan bahkan menjadi politikus. Namun, itu tidak bisa ia lakukan. Baginya, musik ialah gabungan antara totalitas, kesungguhan, fokus, pengabdian, dan cinta.

Bagi Donny Fattah, musik bukan sekadar bunyi yang mengalun dari senar bas atau dentuman drum di panggung rock. Musik ialah bagian dari jiwanya. Ia bukan sekadar profesi yang memberikan penghidupan, melainkan juga jalan hidup yang dipilih dengan kesadaran penuh.

Bersama God Bless, Donny menapaki perjalanan panjang musik rock Indonesia sejak awal 1970-an. Di tengah perubahan zaman, pergantian selera musik, hingga pasang surut industri hiburan, ia tetap setia pada panggung. Bagi Donny, bermusik bukan sekadar mencari nafkah. Musik ialah ruang untuk mengekspresikan diri, merawat idealisme, dan merayakan kebebasan jiwa.

Pandangan Donny itu persis seperti bagian lirik yang ia tulis dalam 'lagu wajib' God Bless berjudul Musisi:

Pada gitar kupetikkan nada indah

Oh, damai di hati

Kan kutuangkan bisik hati dalam kata

Oh, cerita jiwa

Hamparan kisah hidup dan perih rasa

Alunan getar jiwa ke ujung jari

Dalam musik kutuangkan sanubari

Oh, luapan kalbu

Semua kata hati tercurahkan dalam lirik

Oh, alunan kisah

Dengarlah ketuk nada dalam birama

Inilah getar jiwa bagi musisi'


Perjalanan Donny Fattah bersama God Bless ialah kisah ketekunan dan konsistensi. Dari panggung kecil era 1970-an hingga konser besar lintas generasi, ia tetap menjadi denyut ritme yang menjaga nyala rock Indonesia.

Karena itulah, ia tidak pernah benar-benar meninggalkan musik. Bahkan, ketika usia menua dan generasi berganti, semangatnya tetap menyala. Bas yang ia petik menjadi saksi bahwa kesetiaan pada panggilan jiwa jauh lebih kuat daripada sekadar kalkulasi ekonomi.

Donny Fattah menunjukkan satu hal sederhana, tapi penting, yakni ketika musik sudah menjelma menjadi jalan hidup, yang tersisa hanyalah ketulusan untuk terus memainkan nada hingga akhir hayat.

Sama seperti acara Editorial Media Indonesia yang ia sukai, Donny ingin menjaga akal sehat lewat musik, 'jalan hidupnya'. Selamat berpulang, Bung Donny Fattah. Insya Allah husnulkhatimah, akhir yang baik.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kemenperin Perkuat Standar Pengujian Emas untuk Jaga Daya Saing Industri Perhiasan Nasional
• 12 jam lalupantau.com
thumb
Resmikan 218 Jembatan, Presiden Prabowo: Bukti Pemerintah Hadir Hingga Dusun Terpencil
• 5 jam lalutvrinews.com
thumb
Lyon vs Paris FC, Penalti Larut Corentin Tolisso Selamatkan Les Gones dari Kekalahan
• 19 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Askrindo Gandeng BTN Dorong Kepastian Usaha Sektor Konstruksi dan Non-Konstruksi
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
BMKG Ungkap Faktor Penyebab Hujan Ekstrem di Jakarta
• 14 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.