JAKARTA, DISWAY.ID - Kebijakan pemerintah yang melarang truk sumbu 3 beroperasi selama 17 hari menjelang Lebaran menimbulkan kekhawatiran di kalangan keluarga sopir truk.
Sejumlah istri sopir mengaku cemas karena kebijakan tersebut berpotensi menghentikan sumber penghasilan keluarga mereka.
Larangan operasional truk sumbu tiga atau lebih tersebut rencananya berlaku mulai 13 hingga 29 Maret 2026 dalam rangka mengantisipasi lonjakan arus mudik Lebaran.
Namun bagi keluarga sopir truk, kebijakan ini justru menimbulkan persoalan baru, terutama terkait keuangan rumah tangga.
BACA JUGA:Telegram Siaga 1 Panglima TNI, Ini 6 Poin Penting Antisipasi Konflik Timur Tengah
Istri Sopir Truk Bingung Soal PenghasilanTeh Maya, istri seorang sopir truk yang tinggal di Cigombong, Kabupaten Bogor, mengaku kaget saat mengetahui adanya kebijakan tersebut.
Saat ditemui di rumah kontrakannya, ia sedang menggendong anak bungsunya yang masih bayi. Wajahnya tampak cemas ketika membicarakan kemungkinan suaminya tidak bisa bekerja selama lebih dari dua minggu.
“Kalau truk dilarang beroperasi, suami saya otomatis tidak bisa bekerja. Artinya kami juga tidak punya pemasukan. Padahal Lebaran sudah dekat,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa penghasilan keluarga sepenuhnya bergantung pada pekerjaan suaminya sebagai sopir truk. Sementara dirinya hanya mengurus rumah tangga dan anak-anak.
Suaminya sendiri telah bekerja sebagai sopir truk sejak tahun 2010 dan tidak memiliki keahlian lain di bidang pekerjaan berbeda.
BACA JUGA:Ramadan di SRMA 1 Aceh Besar: Sahur Bersama hingga Kultum Bergantian
Menurut Maya, penghasilan suaminya pun tidak tetap karena bekerja sebagai sopir harian lepas.
“Kalau ada orderan baru dapat uang. Kalau tidak ada pekerjaan ya tidak ada penghasilan. Tapi selama ini masih cukup untuk bayar kontrakan, makan, dan kebutuhan anak,” katanya.
Kekhawatiran Ekonomi KeluargaMaya mengaku tidak memiliki tabungan karena penghasilan suaminya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, larangan operasional truk selama 17 hari membuatnya khawatir terhadap kondisi ekonomi keluarga.
- 1
- 2
- »





