KEMENTERIAN Kesehatan Republik Indonesia mencatat 8.244 kasus suspek campak 2026 sejak 1 Januari hingga 23 Februari. Dalam periode tersebut, tercatat 21 kejadian luar biasa (KLB) di 17 kabupaten atau kota di 11 provinsi. Provinsi dengan KLB terbanyak adalah Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
Sebagian besar kasus ditemukan di wilayah dengan cakupan imunisasi rendah dan distribusi vaksin yang menantang karena kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari banyak pulau.
Dr. dr. Rr. Ratni Indrawanti, Sp.A(K), Dosen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM, menekankan bahwa meski jumlah kasus meningkat, situasi masih bisa dikendalikan melalui sistem kesehatan yang efektif.
Baca juga : Bukan Sekadar Ruam, Ini Alasan Vaksin Campak Jadi 'Penyelamat' di Tahun 2026
“Situasi ini serius dan harus ditangani dengan cepat. Dengan surveilans yang baik, penanganan kasus yang cepat, serta peningkatan cakupan vaksinasi, kasus suspek campak 2026 masih dapat dikendalikan dan tidak menimbulkan darurat kesehatan,” ujarnya di UGM, Minggu (8/3).
Menurut Dr. Ratni, penyebab utama meningkatnya suspek campak antara lain cakupan vaksinasi yang rendah akibat keterbatasan akses layanan kesehatan dan jarak yang jauh, menurunnya kegiatan imunisasi di tingkat masyarakat, serta misinformasi mengenai vaksin di media sosial yang menurunkan kepercayaan masyarakat.
Campak merupakan penyakit yang sangat menular dan dapat menyebar melalui udara atau droplet. Satu anak yang terinfeksi berpotensi menularkan virus kepada hingga 18 orang lainnya, terutama di ruangan tertutup, di mana virus dapat bertahan hingga dua jam.
Baca juga : Kemenkes Buka Layanan Vaksin Campak di Posko Mudik Lebaran 2026
Campak dapat menimbulkan komplikasi serius seperti pneumonia, radang otak (ensefalitis), kejang, bahkan kematian. Selain itu, orang yang sembuh dari campak dapat mengalami immune amnesia, kondisi di mana sistem kekebalan tubuh “melupakan” sebagian perlindungan terhadap penyakit sebelumnya sehingga rentan terhadap infeksi lain.
Untuk pencegahan, Dr. Ratni menekankan pentingnya mengikuti jadwal vaksinasi campak 2026, yaitu pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan 5 tahun. Vaksinasi berulang diperlukan karena virus dalam vaksin memiliki kekuatan yang lebih lemah dibanding virus campak liar sehingga beberapa tahap diperlukan agar kekebalan tubuh terbentuk optimal.
Upaya pencegahan tambahan yang penting dilakukan oleh masyarakat mencakup penggunaan masker saat batuk atau pilek, mencuci tangan secara rutin, serta peningkatan edukasi kesehatan. “Penundaan vaksinasi meningkatkan risiko penularan dan dapat memicu KLB. Imunisasi harus diberikan saat anak sehat,” tegas Ratni.
Sebagian besar kasus suspek campak 2026 ditemukan di wilayah dengan cakupan imunisasi rendah, dan distribusi vaksin yang menantang menjadi faktor tambahan risiko penyebaran.
Dengan peningkatan cakupan vaksinasi, penanganan cepat, dan edukasi kesehatan yang memadai, kasus campak masih dapat dikendalikan sehingga tidak menimbulkan darurat kesehatan. Masyarakat dihimbau untuk tetap waspada dan mendukung imunisasi sebagai langkah pencegahan utama. (AU/I-1)





