Tahun ini, pangan berada dalam cengkeraman perang dan cuaca ekstrem. Perang di Timur Tengah kian memanas. Dialog damai Rusia-Ukraina macet. Duet La Nina dan El Nino sedang dan berpotensi melanda.
Perang di Timur Tengah telah memasuki hari kesembilan pada Minggu (8/3/2026). Belum ada tanda-tanda berakhirnya jual beli serangan jet tempur dan rudal antara duet Amerika Serikat-Israel versus Iran.
Di tengah gejolak Timur Tengah itu, Rusia-Ukraina kembali bertikai. Negosiasi damai kedua negara yang berkonflik sejak Februari 2022 tertunda. Bahkan, Rusia kembali menyerang Ukraina pada Sabtu (7/3/2026).
Kedua konflik itu telah menyumbat dua jalur vital perdagangan maritim dunia. Iran menutup Selat Hormuz sejak 28 Februari 2026. Berakhirnya masa genjatan senjata Rusia-Ukraina memicu kembali gejolak di Laut Hitam.
Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan sekitar 30 persen minyak mentah, 20 persen gas alam cair, dan 40 persen pupuk urea dunia. Sementara Laut Hitam adalah jalur perdagangan 20-30 persen gandum, jagung, dan minyak nabati dunia, serta 40 persen pupuk dunia.
Di sisi lain, La Nina telah memicu hujan intensitas tinggi di sejumlah daerah, termasuk Indonesia. Bahkan, seusai La Nina mereda, El Nino berpotensi muncul. Fenomena pemicu kemarau panjang itu diperkirakan bakal terjadi pada Juli 2026-Juli 2027 (Kompas, 4/3/2026).
Wakil Presiden Bidang Industri dan Riset Regional di PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Dendi Ramdani, Minggu (8/3/2026), mengatakan, konflik geopolitik dan cuaca ekstrem berpotensi memicu gejolak stok dan harga pangan pada 2026. Konflik di Timur Tengah telah memicu lonjakan harga minyak mentah dunia hingga di atas 80 dolar AS per barel.
Jika konflik itu berlangsung selama 3-6 bulan, harga minyak mentah Brent diperkirakan bisa tembus di kisaran 99,3-132,8 dolar AS per barel. Lonjakan harga minyak mentah itu dapat memicu kenaikan harga minyak nabati dunia, termasuk minyak sawit mentah (CPO).
Kenaikan harga CPO itu dapat menguntungkan sekaligus menjadi bumerang bagi Indonesia.
Menurut Dendi, per 6 Maret 2026, harga CPO sudah tembus 1.052 dolar AS per ton. Dalam skenario perang Timur Tengah, harganya bisa mencapai 1.177-1.409 dolar AS per ton. Kenaikan harga CPO itu dapat menguntungkan sekaligus menjadi bumerang bagi Indonesia.
”Nilai ekspor CPO bisa meningkat. Namun, ada potensi pengalihan konsumsi negara mitra dagang apabila harga CPO lebih tinggi dibandingkan dengan minyak nabati lain. Di dalam negeri, harga minyak goreng juga berpotensi naik,” ujarnya ketika dihubungi dari Jakarta.
Dendi juga mengungkapkan, skala intens perang di Timur Tengah bisa jadi berlangsung paling lama 3-6 bulan. Ini merujuk pada perang Rusia-Ukraina serta kemampuan ketahanan logistik dan persenjataan AS, Israel, dan Iran.
Kala perang mereda, kenaikan harga pangan pun turut melandai. Namun, masih ada faktor pemicu lain yang berpotensi membuat harga pangan bergejolak, yakni La Nina dan El Nino.
Beberapa komoditas pangan dunia yang rentan terhadap dampak cuaca ekstrem itu antara lain gandum, jagung, beras, kedelai, gula dari tebu, dan minyak nabati, termasuk CPO.
Tim Ekonom Bank Mandiri pernah menyajikan riset tentang dampak El Nino ekstrem pada 2023-2024 terhadap penurunan produksi sejumlah komoditas pangan. Setiap kenaikan suhu sebesar 1 derajat celsius, diperkirakan akan menurunkan produksi beras sebesar 3,2 persen, jagung 7,4 persen, dan gandum 5 persen (Kompas, 27/9/2023).
Serial Artikel
Tiga Komoditas Ekspor RI Terdampak El Nino
El Nino akan menurunkan produksi CPO, karet, dan kopi. Di sisi lain, setiap kenaikan suhu sebesar 1 derajat celsius diperkirakan akan menurunkan produksi beras sebesar 3,2 persen, jagung 7,4 persen, dan gandum 5 persen.
Pada 3 dan 6 Maret 2026, Bank Dunia dan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menunjukkan, harga sejumlah komoditas pangan dan pupuk dunia mulai merangkak naik. Meskipun belum tecermin sepenuhnya, dampak konflik geopolitik dan cuaca ekstrem turut berpengaruh terhadap kenaikan harga sejumlah komoditas itu.
Berdasarkan Data Harga Komoditas (The Pink Sheet) yang dirilis Bank Dunia pada 3 Maret 2026, indeks harga pangan dunia naik dari 111 pada Januari 2026 menjadi 113,3 pada Februari 2026. Kenaikan indeks itu terkerek kenaikan harga CPO, minyak kedelai, kedelai, dan gandum.
Indeks harga pupuk dunia juga naik 136,1 pada Januari 2026 menjadi 145 pada Februari 2026.
Dalam periode perbandingan yang sama, harga CPO naik 3,55 persen menjadi 1.042 dolar AS per ton dan harga minyak kedelai naik 9,13 persen menjadi 1.270 dolar AS. Sementara harga gandum naik 2,97 persen menjadi 257,6 dolar AS per ton dan harga kedelai naik 6,59 persen menjadi 455 dolar AS per ton.
Indeks harga pupuk dunia juga naik 136,1 pada Januari 2026 menjadi 145 pada Februari 2026. Kenaikan indeks itu dipicu kenaikan harga semua jenis pupuk, yakni urea, diammonium phosphate (DAP), triple super phosphate (TSP), kalium (potassium chloride), dan fosfor (phosphate rock).
Pupuk urea, misalnya, harganya naik dari 415,4 dolar AS per ton pada Januari 2026 menjadi 472 dolar AS per ton pada Februari 2026. Kenaikan harga pupuk itu dipengaruhi eskalasi konflik Rusia-Ukraina dan sentimen negatif awal konflik Timur Tengah.
Berdasarkan salah satu sumbernya, Reuters menginformasikan, Rusia yang merupakan eksportir pupuk terbesar dunia tidak akan mampu menutupi potensi kekurangan pupuk dunia akibat penutupan Selat Hormuz (Reuters, 6/3/2026).
FAO bahkan menyebutkan kenaikan indeks harga pangan FAO (FFPI) pada Februari 2026 mengakhiri tren penurunan indeks selama lima bulan terakhir. FFPI pada Februari 2026 sebesar 125,3 atau naik 0,9 persen secara bulanan dan 1 persen secara tahunan.
Kenaikan indeks itu terutama dipicu kenaikan harga gandum dan minyak nabati, termasuk CPO. Menurut FAO, harga gandum dunia naik 1,8 persen secara bulanan pada Februari 2026 akibat dampak embun beku dan musim dingin di Eropa dan AS, serta gangguan logistik di Laut Hitam.
Di India, prospek produksi gandum pada 2026 secara umum menguntungkan. Ini berkat program perluasan penanaman gandum berbasis insentif yang digulirkan Pemerintah India. Meskipun demikian, perkembangan sebagian tanaman gandum terhambat kekeringan dan suhu tinggi di beberapa daerah bagian utara India.
Di Iran, produksi gandum diperkirakan turun lantaran luas lahan gandum menyusut. Penyusutan lahan gandum itu tidak hanya akibat lonjakan biaya produksi, tetapi juga dampak konflik Iran dengan AS-Israel. Secara keseluruhan, FAO memperkirakan produksi gandum global turun hampir 3 persen menjadi 810 juta ton pada 2026.
Sementara itu, Pemerintah RI berupaya memitigasi dampak konflik geopolitik dan cuaca ekstrem terhadap ketahanan pangan nasional. PT Pupuk Indonesia (Persero) juga menjamin bahan baku pupuk tidak terganggu konflik geopolitik.
Menteri Pertanian dan Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman, Jumat (6/3/2026), mengatakan, cadangan pangan nasional, termasuk beras, cukup hingga 324 hari ke depan. Sepanjang dan setelah periode itu, produksi pangan juga terus berlangsung.
Proses rehabilitasi sawah-sawah yang terdampak bencana di Sumatera juga terus berjalan. Sawah yang terdampak banjir di sejumlah daerah lain juga sedang dan akan dipulihkan. Cetak sawah-sawah baru juga terus digulirkan.
”Untuk memitigasi dampak El Nino, kami juga sudah punya pengalaman pada 2015, 2023, dan 2024. Salah satunya melalui pompanisasi sumber-sumber air yang masih tersedia di sekitar sawah tadah hujan,” ujarnya dalam konferensi pers yang digelar secara hibrida di Jakarta.
Menurut Amran, kala El Nino melanda pada 2023-2024, Kementerian Pertanian (Kementan) mampu mengurangi dampaknya melalui pompanisasi di 1,2 juta hektar sawah. Untuk mengantisipasi El Nino pada tahun ini, Kementan akan menambah pompanisasi bagi 1 juta hektar sawah sehingga totalnya memjadi 2,2 juta hektar.
”Kami juga mempercepat pembangunan dan rehabilitasi saluran-saluran irigasi, serta membangun embung untuk memanen air hujan,” katanya.
Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Fadjry Djufry menambahkan, Kementan telah mendorong penerapan teknologi panen air sebagai solusi pengelolaan air hujan di lahan pertanian. Teknologi ini dirancang untuk menampung kelebihan air saat musim hujan agar tidak terbuang, sekaligus dimanfaatkan kembali sebagai sumber air pada musim kemarau.
Beberapa teknologi panen air yang telah banyak diterapkan di lapangan antara lain embung, dam parit, dan long storage atau kanal air. Infrastruktur ini relatif tidak membutuhkan lahan luas dan dapat dibangun di sekitar area usaha tani sehingga mudah diadopsi petani.
”Berdasarkan kajian teknis, pembangunan unit panen air secara berjenjang mampu menurunkan volume limpasan permukaan hingga 30-40 persen. Dampaknya, genangan di lahan sawah yang rawan banjir dapat berkurang,” kata Fadjry.
Ia mencontohkan penerapan teknologi tersebut di Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Pembangunan dam parit di wilayah tersebut tidak hanya berfungsi sebagai mitigasi banjir, tetapi juga mampu meningkatkan indeks pertanaman. Lahan yang semula hanya memiliki satu siklus tanam (IP 100) dapat ditingkatkan menjadi IP 200 atau lebih.
Terkait dengan pupuk, Sekretaris Perusahaan PT Pupuk Indonesia Yehezkiel Adiperwira mengemukakan, penutupan Selat Hormuz tidak berdampak langsung terhadap produksi pupuk urea dan NPK. Dari sisi ketersedian gas untuk bahan bakar produksi pupuk, telah terpenuhi dari dalam negeri.
Dari sisi bahan baku, memang ada sebagian yang masih impor, khususnya untuk memproduksi pupuk NPK. Namun, impor bahan baku pupuk tersebut tidak mengandalkan negara-negara di kawasan teluk.
Ia menjelaskan, NPK dibuat dari nitrogen, kalium, dan fosfor. Fosfor diimpor dari Afrika bagian utara, seperti Maroko dan Aljazair, sedangkan kalium dari Belarus, Rusia, dan Kanada. Adapun pupuk urea, bahan bakunya sudah terpenuhi dari dalam negeri.
”Jadi produksi pupuk nasional masih aman. Stok bahan baku juga masih tersedia sampai bahkan enam sampai tujuh bulan ke depan,” katanya.
Kendati begitu, Yehezkiel mengungkap potensi kenaikan biaya logistik akibat dampak konflik di Timur Tengah. Kenaikan biaya logistik itu dapat dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah dunia dan peralihan jalur perdagangan maritim dunia.
Bahkan, kenaikan harga minyak mentah dunia berpotensi menyebabkan harga bahan bakar minyak di Indonesia naik. Hal itu akan berpengaruh pada biaya distribusi pupuk di dalam negeri.





