Washington: Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa pemimpin tertinggi Iran berikutnya tidak akan dapat bertahan lama tanpa persetujuan dari Washington.
Dalam wawancara dengan ABC News pada Minggu, Trump menyatakan bahwa siapa pun yang menggantikan posisi Pemimpin Tertinggi Iran harus mendapat persetujuan dari Amerika Serikat.
“Dia harus mendapatkan persetujuan dari kami. Jika tidak, dia tidak akan bertahan lama,” kata Trump, dikutip dari TRT World, Senin, 9 Maret 2026.
Trump mengatakan pernyataan tersebut dilandasi pertimbangan strategis agar Amerika Serikat tidak kembali terlibat konflik dengan Iran di masa depan.
“Saya tidak ingin dalam lima tahun kita harus melakukan hal yang sama lagi, atau lebih buruk lagi jika mereka memiliki senjata nuklir,” ujarnya.
Pernyataan Trump disampaikan sebelum Iran secara resmi menetapkan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru, menggantikan Ayatollah Ali Khamenei yang tewas dalam serangan AS-Israel pada 28 Februari lalu. Kecaman Iran Pernyataan Trump langsung dikecam oleh pejabat Iran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa pemilihan pemimpin tertinggi Iran sepenuhnya merupakan urusan rakyat Iran.
“Pemilihan pemimpin negara adalah urusan rakyat Iran dan tidak boleh ada campur tangan pihak asing,” katanya.
Ulama senior Iran Ahmad Alamolhoda juga mengatakan Majelis Ahli telah melakukan pemungutan suara untuk memilih pengganti Ayatollah Ali Khamenei, dan Mojtaba dinyatakan sebagai pemimpin tertinggi baru.
Trump sebelumnya juga mengatakan kepada portal Axios bahwa ia berharap dapat terlibat secara langsung dalam proses pemilihan pemimpin baru Iran. Ia bahkan meremehkan, Mojtaba Khamenei, putra dari Ayatollah Ali Khamenei.
Trump menyebut Mojtaba sebagai sosok “lembek” atau tidak cukup kuat untuk memimpin negara tersebut.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari.
Konflik yang telah memasuki hari kesembilan pada Minggu itu dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.200 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat.
Baca juga: Mojtaba Khamenei Terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang Baru




