Aroma Lebaran mulai terasa di lorong-lorong Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Pada pekan terakhir sebelum musim mudik, arus manusia mengalir tanpa henti menuju pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara itu.
Di antara langkah yang bergegas dan kantong belanja yang mulai penuh, ada satu tujuan yang sama: membawa pulang baju baru untuk merayakan Idul Fitri.
Di Pasar Tanah Abang, terutama di Blok B yang dikenal sebagai pusat pakaian muslim dan busana jadi, suasana terasa riuh sejak siang hari. Suara para pedagang saling bersahutan memanggil pembeli yang melintas.
"Yang mau belanja gamis boleh, kaka!" teriak seorang penjual dari balik tumpukan baju berwarna pastel.
Tak jauh dari sana, pedagang lain menimpali dengan suara lantang, "Seratus ribu dapat tiga!"
Teriakan itu seperti irama yang terus berulang di lorong pasar seakan menciptakan simfoni khas Tanah Abang menjelang Lebaran.
Di bawah papan merah besar bertuliskan "Blok B-Pusat Grosir", arus manusia mengalir seperti sungai yang tak pernah benar-benar surut. Ada yang menenteng kantong plastik besar berisi kerudung, ada pula yang berhenti sejenak menawar harga sambil memeriksa kualitas kain.
Di tangga utama blok tersebut, sejumlah orang tampak duduk bersandar. Ada yang menunggu keluarga yang masih berburu pakaian, ada yang sekadar mengatur napas setelah berkeliling dari satu kios ke kios lain. Sebagian lainnya menatap ponsel sambil memegang kantong belanja yang mulai terasa berat.
Di antara kerumunan itu, Hurrem (40) baru saja selesai memilih beberapa potong pakaian dan kerudung. Perempuan asal Cilegon itu datang jauh-jauh ke Tanah Abang bersama sembilan orang temannya.
"Aku Cilegon," katanya singkat saat diwawancara di lokasi, Minggu (8/3).
Perjalanan menuju pasar itu bukan perkara mudah. Mereka menempuh perjalanan dengan travel menggunakan mobil Hiace yang diisi sepuluh penumpang.
"Travel. Hiace hanya sepuluh orang," ujarnya.
Rombongan itu sebenarnya berencana berangkat sejak subuh. Namun hujan deras dan banjir membuat rencana berubah.
"Karena tadi kondisinya hujan, jadi berangkat kurang lebih jam sembilanan. Harusnya sih berangkatnya jam enam ya, cuma karena kondisinya banjir, mobil nggak bisa lewat kita tunggu surut dulu, makanya langsung ke sini," terang dia.
Bagi Hurrem, Tanah Abang selalu menjadi tujuan utama setiap kali ingin membeli pakaian dalam jumlah banyak. Selain dikenal sebagai pusat mode, harga di sini dianggap jauh lebih terjangkau karena langsung dari distributor atau pedagang besar.
"Ya karena memang ini pusat mode ya, kemudian juga harganya juga memang murah karena kan memang dari pedagang langsung, distributor langsung gitu. Kemudian agen-agen juga," imbuh Hurrem.
Di tangannya kini sudah ada beberapa kantong plastik berisi belanjaan.
"Aku belanja kerudung, ada baju, dan masih... sebetulnya titipan, ada barang titipan juga gitu," kata dia sambil tertawa.
Tak hanya dari luar kota, pembeli juga datang dari berbagai sudut Jakarta. Syaiful (48), misalnya, datang bersama istri dan anaknya dari kawasan Karet.
"Asal dari Tanah... ini, Karet," kata Syaiful.
Perjalanan mereka jauh lebih singkat dibanding Hurrem. Syaiful datang dengan sepeda motor.
"Naik motor. Sama istri, sama anak," ujarnya.
Baginya, belanja ke Tanah Abang menjelang Lebaran sudah menjadi kebiasaan tahunan. Barang yang ia beli sebagian besar untuk keluarganya.
"Buat... buat anak, buat bini, buat ini... keluarga," ucap dia.
Meski kini tinggal di Jakarta, Syaiful sebenarnya berasal dari Pekalongan, Jawa Tengah. Tahun ini ia juga berencana pulang kampung setelah Lebaran semakin dekat.
"Iya, entar mudik. Tanggal 17," kata Syaiful.
Menurutnya, Tanah Abang tetap menjadi pilihan utama karena harga yang lebih murah dan pilihan barang yang beragam.
"Lebih murah. Lebih... sekalian entar di rumah nggak usah belanja lagi. Sekalian," terang dia.
Sebagai pedagang bubur ayam, Syaiful sudah menyiapkan uang jauh-jauh hari untuk kebutuhan Lebaran keluarganya.
"Udah... udah nyimpen duluan," kata Syaiful.
Meski THR dari pemasok tempat ia membeli ayam belum turun, kebutuhan Lebaran tetap harus dipenuhi.
"Ada. Dari (tempat) aku belanja... belanja ayam entar dapet THR, tapi belum... belum turun THR-nya," tandas dia
Di tengah lorong-lorong padat Blok B, cerita seperti Hurrem dan Syaiful seolah menjadi potret kecil dari tradisi yang terus berulang setiap tahun.
Tanah Abang bukan sekadar pasar. Ia menjadi persimpangan harapan menjelang hari raya, tempat orang-orang datang dari berbagai kota, membawa daftar belanja, pulang dengan kantong penuh, dan mungkin juga sedikit rasa lega.





