Legislator minta pemerintah rumuskan peta jalan ekspor beras

antaranews.com
19 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Alex Indra Lukman meminta pemerintah merumuskan peta jalan ekspor beras produksi petani dalam negeri karena berlimpahnya stok beras yang mencapai angka 3,53 juta ton di akhir Desember 2025.

“Tantangan kita hari ini menurunkan biaya produksi dan memperbaiki mutu sehingga dapat bersaing dengan negara produsen beras lainnya dalam merebut potensi pasar global,” kata dia di Jakarta, Minggu

Ia mengatakan untuk faktor menurunkan biaya produksi, seorang petani inovatif dari Sumatera Barat, Ir Djoni telah menemukan metode Sawah Pokok Murah.

Menurut dia, dengan metode Sawah Pokok Murah telah diuji coba di seluruh kabupaten dan kota di Sumbar dan hasil panen tidak kalah dengan metode konvensional.

Baca juga: Akademisi: Ekspor beras 2.280 ton ke Arab, keberlanjutan swasembada

Baca juga: CORE: Produktivitas dan efisiensi jadi kunci perluas ekspor beras RI

Padahal metode ini, katanya, tidak melalui pengolahan tanah yang merupakan komponen biaya terbesar dalam bercocok tanam.

Selain itu, metode Sawah Pokok Murah juga tak butuh pemupukan kimia serta penyemprotan pestisida maupun fungsida.

Bahkan, lanjutnya, cuaca kemarau juga tak terlalu jadi rintangan sehingga makin memperkecil potensi gagal panen karena faktor cuaca.

“Walaupun topografi daerahnya perbukitan sehingga tidak memiliki hamparan sawah yang luas, Sumatera Barat ini sudah mampu swasembada beras sejak lama,” kata dia.

Menurut dia, dengan adanya inovasi Sawah Pokok Murah yang telah dilaksanakan secara masif di Kabupaten Agam, Pesisir Selatan dan Dharmasraya.

Ia mengatakan biaya produksi sudah bisa dipastikan akan jauh berkurang jika dibandingkan dengan metode konvensional sebagaimana telah diterapkan petani selama ini.

Tersisa, cara mengatasi persoalan angka patahan (broken) ataupun menir (pecahan kecil) beras.

Menurut dia, masalah ini memerlukan campur tangan pemerintah melalui BRIN dan dunia perguruan tinggi melalui riset-riset berkelanjutan.

Ia menambahkan kondisi saat ini, beras Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), mengandung patahan (broken) atau menir (pecahan kecil) berada di angka 25-40 persen.

Sementara, beras dari negara-negara produsen beras lainnya di Asia Tenggara, kadar broken-nya telah berada di angka 5 persen.

“Jika kondisi ini tak segera diatasi, pasar beras global akan sulit ditembus,” kata Alex yang juga Ketua Panja Penyerapan Gabah dan Jagung Komisi IV DPR RI.

Ia mengatakan jika pasar global tak bisa ditembus, program swasembada pangan yang merupakan bagian dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto akan menghadapi kendala cukup pelik.

“Saat ini, bapak presiden telah mencanangkan peningkatan produksi baik itu melalui ekstensifikasi maupun intensifikasi pertanian.

Sementara, daya serap dalam negeri, tidak bertambah signifikan.

“Mau diapakan stok melimpah itu nantinya. Ini tantangan yang harus segera dijawab,” kata dia.

Baca juga: Bapanas pastikan beras ekspor ke Arab Saudi kantongi dokumen "HC"

Baca juga: Komisi IV DPR pacu ekspor beras RI ke negara selain Arab Saudi


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Naikkan Daya Tampung Sekolah 15% Lewat Swasta, Semarang Sabet Penghargaan BBPMP
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
All England: Kalahkan Tunggal India, Lin Chun-Yi Juara!
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Ini Dia Perjalanan Vidi Aldiano Melawan Kanker Ginjal: Dari Operasi, Kemoterapi, hingga Tutup Usia di Usia 35 Tahun
• 5 jam lalugrid.id
thumb
Jadwal Imsakiyah Tangerang Selatan Senin 9 Maret 2026
• 16 jam lalukompas.com
thumb
Apa Maksud Panglima TNI Menginstruksikan Status Siaga 1?
• 11 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.