Serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada 28 April 2026 lalu memicu perang besar yang melibatkan sejumlah negara Timur Tengah hingga kini. Perang itu menambah panjang pertempuran besar yang terjadi sejak pandemi Covid-19, selain Perang Rusia-Ukraina, Perang Gaza, dan berbagai konflik di belahan dunia lain.
Terlepas dari kehancuran yang ditimbulkan, kematian yang mengenaskan terutama anak, perempuan, dan warga sipil tidak berdosa, hingga pro-kontra yang menyertainya, perang adalah fenomena universal umat manusia. Hampir tidak ada kelompok masyarakat yang tidak pernah terlibat atau mengalami berbagai bentuk konflik kekerasan, baik di dalam komunitas mereka maupun dengan tetangga atau musuhnya.
Selama ini, penjelasan paling umum tentang penyebab perang dan konflik cenderung berpusat pada faktor sosial dan material, seperti perebutan sumber daya, wilayah, hingga penggantian rezim politik. Namun, faktor-faktor itu tidak cukup untuk menjelaskan alasan dari setiap perang yang terjadi. Dengan memahami akar perang pada manusia, diharapkan solusi yang lebih permanan untuk mencegah dan menyelesaikan perang bisa didapatkan.
Sebagian kalangan menilai, perang di dunia modern saat ini berakar jauh sebelum manusia ada. “Asal usul konflik pada manusia telah mendahului evolusi manusia,” tulis Profesor Hubungan Internasional Universitas Brown, Providence, AS Rose McDermott dalam jurnal Politics and the Life Sciences, 14 Juli 2025.
Kegilaan manusia untuk berperang diyakini berasal dari perilaku nenek moyang simpanse yang telah mempraktikkan berbagai bentuk konflik kekerasan sejak lebih dari 6 juta tahun yang lalu. Berbagai bukti menunjukkan, simpanse memiliki perilaku agresi yang terencana dan selektif dengan menargetkan anggota spesies yang lebih lemah dan terisolasi, baik dari kelompok mereka sendiri maupun dari kelompok lain.
Simpanse memiliki kemiripan genetik sebesar 96-99 persen dengan manusia. Karena itu, perilaku agresi dan naluri membunuh simpanse itu diyakini diwariskan kepada manusia maupun primata lain. Bedanya, sebagian besar manusia telah hidup dalam masyarakat yang terorganisasi yang bisa mencegah maupun mendukung kekerasan intragrup, sedangkan simpanse hidup dalam masyarakat yang saling memperebutkan sumber daya atau pasangan baik intragrup maupun intergrup mereka.
Semangat berperang akan selalu ada dalam diri manusia demi menjaga dan memperjuangkan akar mereka. Karena itu, pelopor psikologi evolusi asal AS, Edward O Wilson, menggambarkan perang sebagi ‘kutukan turun-temurun umat manusia’.
Tak hanya itu, simpanse dan manusia juga memiliki altruisme yang tinggi, yaitu sikap atau naluri tulus untuk mendahulukan kepentingan dan kesejahteraan orang lain di atas kepentingan pribadi tanpa pamrih. Altruisme itu memberikan kesiapan mental pada manusia untuk mengabdikan, bahkan mengorbankan diri, untuk membela ‘kebaikan yang lebih besar’ dalam kelompoknya.
Karena itu, altruisme dipercaya memberikan kecenderungan bawaan pada kelompok manusia untuk menyerang kelompok lain secara terorganisasi demi mencapai tujuan bersama. Kelompok itu bisa diikat dengan berbagai hal, mulai dari sebidang tanah, kesamaan suku, kewarganegaraan, hingga agama atau keyakinan.
Dari simpanse, hasrat berperang itu sudah muncul dalam kehidupan hominid alias kera besar. Pada 200.000-300.000 tahun yang lalu, Homo sapiens hanyalah satu dari berbagai jenis hominid yang ada. Pada 30.000-70.000 tahun lalu, Homo sapiens mulai memperluas ruang hidup, kawin mawin, dan berbaur dengan spesies yang lain hingga menyebabkan kepunahan sejumlah hominid, termasuk Neanderthal.
Sejarawan Israel Yuval Noah Harari dalam buku Sapiens (2011) menyebut keberhasilan Homo Sapiens menyingkirkan hominid yang lain ditopang oleh kekuatan pemikiran simbolis dan abstrak tentang leluhur, bangsa, hingga dewa-dewa. Kemampuan berpikir itu memungkinkan nenek moyang manusia berorganisasi dalam komunitas yang lebih besar.
Namun kekuatan pemikiran simbolis itu bisa dikalahkan oleh ‘realitas’ lintas batas yang lahir dari penemuan atau pemikiran manusia lainnya, yaitu uang. Sejak akhir Kekaisaran Romawi, lanjut McDermott, uang telah digunakan untuk menyuap mata-mata yang menyusup di lingkungan musuh.
Meski demikian, uang tak selamanya ampuh menahan laju peperagan. “Batasan inheren atas supremasi uang adalah enracinement, kebutuhan mendalam manusia dengan akar mereka, kebutuhan eksistensial untuk menjadi bagian dari komunitas yang berakar kuat pada masa lalu, realitas masa kini, dan aspirasi masa depan,” katanya.
Jika simpanse dianggap suka berperang, maka bonobo adalah kebalikannya. Bonobo yang memiliki kemiripan DNA dengan manusia hingga 98,7 persen dikenal sebagai sosok yang cinta damai.
Dengan demikian, semangat berperang akan selalu ada dalam diri manusia demi menjaga dan memperjuangkan akar mereka. Karena itu, pelopor psikologi evolusi asal AS, Edward O Wilson, menggambarkan perang sebagi ‘kutukan turun-temurun umat manusia’. Dengan kata lain, seperti disampaikan psikolog evolusioner Kanada Steven Pinker, ‘penyerangan dan permusuhan kronis merupakan ciri kehidupan yang alamiah.’
Walau demikian, banyak ilmuwan yang menolak pandangan bahwa perang adalah bawaan lahir manusia. Psikolog Universitas Leeds Beckett, Leeds, Inggris, Steve Taylor dalam bukunya The Fall (2005) justru berpandangan bahwa manusia prasejarah itu relatif harmonis. Fenomena peperangan, dominasi laki-laki, hierarki sosial, dan kemunculan agama-agama teistik baru ada sekitar 6.000 tahun lalu seiring berkembanganya perasaan individualis dan pemisahan yang kuat antarkelompok manusia.
Studi literatur arkeolog AS Jonathan Haas dan Matthew Piscitelli pada 2013 yang meneliti 2.900 kerangka manusia prasejarah menemukan sangat terbatasnya kerangka manusia korban peperangan. Selain dari satu situs pembantaian di Sudan dengan dua lusin korban, mereka hanya menemukan empat kerangka dengan tanda-tanda kekerasan pembunuhan. Namun, mereka bukan korban peperangan.
Ketidaksukaan manusia prasejarah pada konflik dan peperangan sebenarnya juga ditemukan pada primata, yaitu bonobo. Jika simpanse dianggap suka berperang, maka bonobo adalah kebalikannya. Bonobo yang memiliki kemiripan DNA dengan manusia hingga 98,7 persen dikenal sebagai sosok yang cinta damai. Para peneliti modern belum pernah sekalipun menemukan konflik kelompok atau pembunuhan di antara bonobo. Karena itu, jika kesukaan pada peperangan datang dari simpanse, maka sikap cinta damai bonobo seharusnya bisa juga diwariskan.
Kurangnya bukti manusia prasejarah korban peperangan itu seolah menegaskan bahwa kekerasan dan peperangan tidaklah identik dengan manusia. Kondisi itu, dinilai Taylor dalam tulisannya di Psychology Today, 25 September 2016, menunjukkan bahwa manusia prasejarah, kelompok pemburu-pengumpul, cenderung bersifat damai dan egaliter. Peperangan baru muncul di era yang lebih modern.
Dengan demikian, anggapan bahwa peperangan adalah warisan leluhur manusia itu tidak memiliki bukti empiris yang kuat. Bahkan, profesor emeritus psikologi dari Universitas Washington AS David Barash memandang sistem sosial pencari makan nomaden alias masyarakat pemburu-pengumpul cenderung menentang persaingan antarpribadi yang penuh kekerasan.
Peperangan menjadi lebih sering dilakukan manusia saat mereka mulai mengenal pertanian. Tinggal menetap dalam lingkungan yang permanen menumbukan hierarki sosial dan monopoli atas sumber daya. Sejak era Neolitikum atau Zaman Batu Muda, bentrokan dan pembantaian yang semula terjadi dalam skala kecil manusia telah berubah menjadi konflik yang panjang dan lebih canggih.
“Sebagian besar sejarah spesies kita, Homo Sapiens, peperangan yang terjadi hanya berupa serangan-serangan kecil yang tidak terorganisir dan terdesentralisasi, mirip dengan yang terjadi pada simpanse,” kata antropolog Universitas Boston, AS, Luke Glowacki di History, 27 Mei 2025.
Sekitar 12.000 tahun lalu, awal era Neolitikum, pertanian muncul di wilayah Bulan Sabit Subur, wilayah di Asia Barat yang berbentuk sebeperti Bulan sabit yang meliputi Irak, Suriah, Lebanon, Israel, Palestina, serta sebagian Turki dan Iran saat ini. Wilayah ini sering dianggap tempat lahirnya peradaban, tempat pertanian dan pemukiman menetap muncul pertama kali, hingga urbanisasi awal manusia meski di daerah non-pertanian.
Baca juga: Mengapa Tidak Semua Primata Berevolusi Jadi Manusia?
Studi antropolog Universitas Rutgers-Newark, AS, R Bryan Ferguson pada 2013 yang meneliti jejak prasejarah antara tahun 10000 sebelum Masehi (SM) hingga 2000 SM di Eropa dan Timur Dekat (Asia Barat dan Arab), sangat jarang menemukan adanya bukti peperangan. Dalam periode itu, peperangan baru umum terjadi sekitar tahun 3500 SM. “Pertanian memang tidak dibutuhkan untuk peperangan, tetapi mempermudah terjadinya peperangan,” katanya.
Bukti awal peperangan dasar di era Neolitikum itu diperoleh dari situs arkeologi di dekat Danau Turkana, Kenya pada 10.000 tahun lalu. Lokasi itu jadi tempat pembantaian sejumlah korban yang tangannya terikat, mengalami luka panah, dan tengkoraknya retak. Meski masyarakat di wilayah itu masih termasuk kelompok pemburu-pengumpul, namun memiliki penyimpanan makanan dan mobilitas rendah yang merupakan ciri masyarakat pertanian.
Pembantaian dinilai lebih butuh koordinasi dan perencanaan matang daripada sekadar penyerangan balas dendam. Selain dianggap sebagai bentuk konflik yang lebih parah dari perang, pembantaian juga cenderung terjadi ketika manusia beralih dari gaya hidup nomaden menjadi menetap.
Perang dan damai sejatinya merupakan cerminan rumitnya evolusi manusia yang merupakan spesies yang sangat sosial dan saling bergantung dengan manusia lain.
Di waktu yang bersamaan, pembantain juga ditemukan di wilayah Jerman modern yang terjadi sekitar 7.000 tahun lalu. Saat itu, kelompok penyerang menyiksa korbannya, salah satunya dengan mematahkan tulang kering mereka, sebelum akhirnya membunuhnya. Bukti serupa juga ditemukan di Austria, Kroasia, hingga Perancis. Bahkan penduduk Jericho, Palestina yang merupakan salah satu kota tertua di dunia, telah membangun tembok kota untuk mencegah masuknya penyerang sejak tahun 8000 SM.
Di masa Neolitikum awal itu, perang umumnya berbentuk penyerbuan singkat, serangan cepat, dan umumnya berlangsung hanya beberapa hari. Pesertanya pun umumnya hanya dalam skala puluhan orang saja. Namun sejak 5.000 tahun yang lalu, atau di era Neolitikum akhir, bentuk pertempuran semakin kompleks.
Perkiraan itu muncul dari analisis terhadap sisa-sisa kerangka dari 338 orang yang meninggal di utara Spanyol pada 5.400-5.500 tahun yang lalu. Kerangka yang ditemukan di situs itu menunjukkan luka-luka yang tidak proporsional dan sebagian besar tidak fatal. Hal itu berbeda dengan kondisi kerangka di situs-situs pembantaian di Eropa sebelumnya. Kondisi kerangka itu diyakini berasal dari peperangan yang berkepanjangan selama beberapa bulan hingga tahunan
“Itu adalah hasil dari konflik antarkelompok dalam skala regional. Persaingan memperoleh sumber daya dan kompleksitas sosial bisa menjadi sumber ketegangan yang meningkatkan terjadinya kekerasan yang mematikan,” kata arkeolog Universitas Valladolid Spanyol Teresa Fernández-Crespo yang menjadi kerangka tersebut.
Seiring berkembangnya pertanian, peperangan pun ikut berkembang. Kemajuan pertanian memunculkan kerja sama antarmanusia untuk mengairi lahan. Ide yang sama juga melahirkan kerja sama lain, termasuk membangun tentara. “Mereka memiliki banyak hal untuk dipertahankan demi lahan pertanian mereka,” kata ahli sejarah kuno Universitas Oklahoma AS dan penulis buku With Arrow, Sword, and Spear (2000), Alfred S Bradford.
Saat Zaman Perunggu tiba, sekitar tahun 3300 SM, mata panah, ujung tombak, bilah, dan kapak yang semula terbuat dari batu mulai digantikan dengan perkakas dan senjata dari tembaga. Di masa ini, peradaban awal Mesopotamia dan Afrika Utara telah mengembangkan militer atau pasukan perang yang besar dengan pemimpin formal, rantai komando jelas, hingga sistem perbekalan yang lengkap.
Tak hanya itu, oleh sebab peradaban mereka telah melek huruf dan cenderung artistik, maka mereka menggambarkan perang dalam gambaran di berbagai artefak dengan heroik. Beberapa artefak itu antara lain artefak Standar Ur yang berbentuk kayu berongga dan ditemukan di kota kuno Ur, Irak tahun 2500 SM dan menggambarkan pasukan Sumeria yang maju dengan kereta beroda dan infanteri. Ada juga Palet Narmer berbentuk lempengan batu berukir yang menunjukkan penaklukan Mesir kuno dari tahun 3000 SM.
Setelah itu, butuh waktu lama untuk peperangan besar itu menyebar ke Eropa, kecuali Yunani. Baru pada tahun 1200 SM, pertempuran besar ditemukan di tepi Sungai Tollense Jerman yang melibatkan sekitar 4.000 orang. Di era itu pula, pasukan perang ditemukan di berbagai tempat, termasuk Cina, Peru, dan Meksiko. Dari sinilah, peperangan besar mulai terlihat seperti yang terjadi di era sekarang.
Dari semua bukti yang ada tersebut, perang memang memiliki dua akar yang berbeda. Di satu sisi, perang memiliki akar evolusioner yang muncul sebelum asal usul spesies bahkan genus hominid ada. Di sisi lain, perang seperti yang terjadi sekarang memang baru muncul di era yang lebih modern, saat manusia mengenal kerja sama antar kelompok. Karena itu, perang dan damai sejatinya merupakan cerminan rumitnya evolusi manusia yang merupakan spesies yang sangat sosial dan saling bergantung dengan manusia lain.





