jpnn.com, JAKARTA - Ketua Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) PKS Mulyanto menolak rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, karena akan menekan daya beli masyarakat serta memicu inflasi.
Hal demikian dikatakan Mulyanto menyikapi pernyataan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa untuk membuka opsi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
BACA JUGA: Soal Stok BBM 20 Hari, Masyarakat Diharapkan Tetap Tenang
"Kebijakan ini tentu akan menyulitkan masyarakat, karenanya harus dihindari pemerintah," kata dia melalui layanan pesan, Minggu (8/3).
Diketahui, opsi menaikkan BBM dibuka menyusul melonjaknya harga minyak dunia akibat konflik Iran vs Amerika Serikat (AS)-Israel.
BACA JUGA: Nurdin Halid DPR Dorong Ketersediaan BBM di SPBU Menjelang Arus Mudik Lebaran 2026
Mulyanto menyebut pemerintah perlu membeberkan rencana penyesuaian kebijakan fiskal secara terbuka dan transparan demi mencegah menaikkan BBM bersubsidi seperti solar dan pertalite.
Kemudian, kata eks anggota Komisi Energi DPR RI periode 2019-2024 itu, pemerintah perlu menyesuaikan kembali pengaluaran tak tepat sasaran untuk mencegah harga BBM dinaikkan.
BACA JUGA: Pertamina Patra Niaga JBB Jamin Pasokan BBM Selama Ramadan & Idulfitri 2026
"Pemerintah mesti meninjau dan menyesuaikan kembali pos-pos pengeluaran anggaran yang tidak tepat sasaran atau tidak efisien," lanjutnya.
Menurut dia, sudah semestinya pemerintah melakukan rasionalisasi dan realokasi belanja negara yang tidak prioritas.
Dia mengatakan peninjauan kembali program yang menekan APBN, penjadwalan ulang proyek kursng mendesak, serta peningkatan efisiensi belanja negara bisa membuka ruang fiskal tanpa membebani masyarakat.
"Mengoptimalkan tambahan pemasukan dari windfall profit ekspor komoditas seperti batubara, CPO, nikel, dan lainnya," kata Mulyanto.
Adapun, pemerintah menetapkan belanja harga minyak sebesar US$70/barel dalam asumsi makro APBN 2026.
Belakangan, harga minyak global melonjak mulai dari Brent mencapai US$93,34 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) ditutup pada US$90,9 per barel. (ast/jpnn)
Redaktur : Budianto Hutahaean
Reporter : Aristo Setiawan




