CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Majelis Ahli Iran secara resmi menunjuk Ayatollah Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru Republik Islam Iran.
Ia menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang wafat setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Melansir CNN Indonesia, keputusan tersebut diumumkan oleh Majelis Ahli pada Senin (9/3) dini hari, sekitar sepekan setelah kematian pemimpin tertinggi sebelumnya.
Lembaga ulama tertinggi Iran itu menetapkan Mojtaba Khamenei untuk memegang posisi paling berpengaruh dalam struktur pemerintahan negara tersebut.
Selain Mojtaba Khamenei, sejumlah nama lain sempat mencuat sebagai kandidat pengganti. Mereka antara lain Alireza Arafi yang merupakan anggota dewan sementara pemimpin negara, tokoh garis keras Mohsen Araki, serta Hassan Khomeini yang merupakan cucu pendiri Republik Islam Iran pada 1979.
Namun pada akhirnya Majelis Ahli menjatuhkan pilihan kepada Mojtaba Khamenei untuk menduduki jabatan tertinggi di Iran.
Majelis Ahli sendiri merupakan lembaga yang beranggotakan 88 ulama senior. Dalam sejarah Republik Islam Iran, badan ini baru sekali mengawasi transisi kepemimpinan, yakni ketika Ali Khamenei terpilih pada 1989 setelah wafatnya Ruhollah Khomeini.
Sosok Mojtaba Khamenei
Mojtaba Khamenei lahir pada 8 September 1969 di kota suci Mashhad, Iran bagian timur. Ia merupakan salah satu dari enam anak Ayatollah Ali Khamenei.
Berbeda dengan banyak tokoh politik Iran lainnya, Mojtaba dikenal memiliki kepribadian yang sangat tertutup. Ia jarang tampil di hadapan publik maupun media, bahkan dalam acara resmi.
Meski demikian, pria berusia 56 tahun itu telah lama disebut-sebut sebagai calon kuat penerus ayahnya.
Mojtaba Khamenei juga menjadi satu-satunya anak mantan pemimpin tertinggi Iran yang memiliki peran publik, meskipun selama ini ia tidak memegang jabatan resmi dalam struktur pemerintahan.
Dengan janggut yang mulai beruban dan sorban hitam khas ulama Syiah, Mojtaba diketahui memiliki garis keturunan dari Nabi Muhammad. Beberapa pihak menilai latar belakang tersebut turut memberi pengaruh dalam dinamika kekuasaan di Iran.
Dalam peta politik Iran, Mojtaba Khamenei dikenal dekat dengan kelompok konservatif. Kedekatan itu juga terlihat dari hubungannya dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), yang merupakan kekuatan militer ideologis Republik Islam Iran.
Hubungan tersebut bermula ketika Mojtaba terlibat dalam unit tempur pada akhir perang Iran–Irak yang berlangsung dari 1980 hingga 1988.
Pengalaman tersebut kemudian memperkuat relasinya dengan kalangan militer dan kelompok konservatif yang memiliki pengaruh besar dalam politik Iran hingga saat ini.




