SEOUL, KOMPAS.TV - Sikap pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, terhadap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump usai penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei, menjadi sorotan para pakar.
Penculikan Maduro dan pembunuhan Khamenei diyakini akan berdampak pada sikap Kim Jong-un.
Selama ini, Korea Utara mengambil sikap yang bermusuhan dengan AS, yang merupakan sekutu Korea Selatan, negara tetangga yang kini dianggap musuh abadi Pyongyang.
Korea Utara telah mengecam serangan AS-Israel ke Iran, dan menyebutnya sebagai agresi perang terhadap Teheran.
Namun, para pakar meyakini Kim Jong-un mulai berpikir mengenai hubungannya dengan AS.
Baca Juga: Kim Jong-un Pelajari Konflik Iran vs AS-Israel, Yakin Korea Utara Tak Akan Bernasib Sama.
Pasalnya, langkah AS di bawah Trump kerap tak bisa ditebak, khususnya setelah serangan terhadap Venezuela dan Iran.
CEO dan pendiri Grup Risiko Korea, Chad O’Carrol, menilai Kim Jong-un berkemungkinan akan mulai berpikir untuk bertemu Trump.
“Saya (jika menjadi Kim Jong-un), akan merasa sangat berkepentingan untuk terlibat dalam beberapa bentuk pembicaraan dengan Trump tahun ini, meski bersifat dangkal,” ujarnya, seperti dilansir CNN, Minggu (8/3/2026).
O’Carroll mengatakan logika tersebut lebih berkaitan dengan bagaimana Kim mengelola ketidakpastian Trump.
Penulis : Haryo Jati Editor : Edy-A.-Putra
Sumber : CNN
- kim jong-un
- donald trump
- korea utara
- nicolas maduro
- iran
- Ayatullah Ali Khamenei





