Dalam beberapa waktu terakhir, wacana mengenai meningkatnya ketegangan geopolitik kembali mencuat. Mantan Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, pernah menyampaikan kekhawatiran bahwa situasi dunia saat ini memiliki kemiripan dengan kondisi menjelang Perang Dunia Pertama dan Perang Dunia Kedua. Dalam pernyataannya di platform X (@SBYudhoyono) pada Senin (19/1/2026), ia menegaskan bahwa ancaman krisis global bukanlah isapan jempol belaka. Mengutip pernyataannya:
Pernyataan tersebut tidak berdiri di ruang kosong alias bersandar pada bukti yang koheren. Konflik antarnegara, persaingan kekuatan militer, serta ketidakstabilan ekonomi global memang menunjukkan dinamika yang semakin kompleks untuk menuju meledaknya Perang Dunia III.
Di saat yang sama, masyarakat juga menghadapi ancaman lain yang tidak kalah serius. Perubahan iklim, bencana alam, dan krisis lingkungan semakin sering terjadi. Banjir besar yang melanda wilayah Kabupaten Tangerang, misalnya, menjadi pengingat bahwa bencana dapat terjadi di wilayah yang selama ini dianggap aman. Generasi muda pun semakin menyadari bahwa masa depan mereka tidak hanya ditentukan oleh perkembangan teknologi atau ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan manusia menghadapi berbagai krisis yang tidak terduga.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan penting bagi dunia pendidikan. Apakah sekolah masih cukup jika hanya mengajarkan pengetahuan akademik, sementara realitas kehidupan menuntut kemampuan untuk bertahan, beradaptasi, dan mengambil keputusan dalam kondisi darurat.
Pendidikan yang Membentuk Ketangguhan
Selama beberapa dekade, sistem pendidikan cenderung menempatkan sekolah sebagai tempat mempersiapkan siswa memasuki dunia kerja formal. Pengetahuan akademik menjadi fokus utama, sementara keterampilan praktis sering dianggap sebagai pelengkap. Pendekatan ini memang berhasil melahirkan banyak tenaga profesional. Namun dunia yang semakin tidak pasti menuntut sesuatu yang dari hanya sekedar menelan teori tanpa menyentuh tanah lapangan.
Indonesia merupakan negara yang memiliki risiko bencana yang tinggi. Gempa bumi, banjir, longsor, hingga kebakaran hutan merupakan peristiwa yang berulang terjadi. Banyak sekolah bahkan berdiri di wilayah yang secara geografis tergolong rawan bencana. Dalam situasi seperti ini, pendidikan tidak bisa hanya berfokus pada kemampuan kognitif semata.
Upaya pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang mulai memasukkan panduan kebencanaan ke dalam kegiatan sekolah merupakan langkah yang patut diapresiasi. Namun kebijakan tersebut seharusnya tidak berhenti pada sosialisasi atau simulasi sesekali. Pendidikan kebencanaan perlu dikembangkan menjadi bagian dari kecakapan hidup yang lebih luas.
Pemikir kontemporer Nassim Nicholas Taleb dalam bukunya Antifragile: Things That Gain from Disorder menjelaskan bahwa dunia modern dipenuhi ketidakpastian. Dalam kondisi seperti ini, manusia tidak cukup hanya menjadi kuat atau tahan banting. Taleb memperkenalkan konsep antifragile, yaitu kemampuan untuk berkembang justru ketika menghadapi tekanan dan kekacauan.
Jika konsep ini diterapkan dalam pendidikan, maka sekolah tidak hanya bertugas menyampaikan informasi. Sekolah juga harus melatih siswa untuk berpikir adaptif, mengambil keputusan dalam kondisi terbatas, serta memahami cara bertahan dalam situasi darurat. Keterampilan seperti pertolongan pertama, manajemen krisis sederhana, membaca kondisi lingkungan, hingga kemampuan bekerja sama dalam situasi sulit menjadi semakin relevan.
Gagasan ini sebenarnya tidak bertentangan dengan pemikiran pendidikan humanis. Paulo Freire dalam buku Pendidikan Kaum Tertindas menekankan bahwa pendidikan sejati adalah proses pembebasan manusia dari ketidakberdayaan. Pendidikan tidak seharusnya membuat manusia pasif dan hanya menunggu solusi dari pihak lain. Sebaliknya, pendidikan harus membuat manusia mampu memahami realitas dan bertindak secara sadar di dalamnya.
Pandangan serupa dapat ditemukan dalam pemikiran tokoh intelektual Indonesia Soe Hok Gie. Dalam Catatan Seorang Demonstran, ia menulis bahwa hidup adalah keberanian menghadapi tanda tanya. Kalimat tersebut menggambarkan bahwa kehidupan selalu menghadirkan ketidakpastian, dan manusia perlu memiliki keberanian serta kesiapan mental untuk menghadapinya.
Dalam konteks pendidikan, keberanian itu tidak muncul secara tiba tiba. Ia perlu dibangun melalui proses pembelajaran yang memberi ruang pada pengalaman nyata. Mengajarkan siswa bagaimana melakukan pertolongan pertama ketika terjadi luka, bagaimana mencari air bersih dalam kondisi darurat, atau bagaimana bekerja sama dalam situasi krisis bukan berarti menanamkan rasa takut. Justru sebaliknya, keterampilan tersebut membangun rasa percaya diri dan kesiapan mental.
Beberapa survei juga menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia memiliki tingkat kepedulian sosial yang cukup tinggi. Sebuah survei bahkan menunjukkan bahwa 77 persen pemuda menyatakan kepedulian mereka terhadap penderitaan korban perang. Kepedulian ini merupakan potensi besar yang dapat dikembangkan melalui pendidikan. Empati yang dimiliki generasi muda akan menjadi lebih bermakna jika disertai kemampuan nyata untuk membantu orang lain ketika krisis terjadi.
Dalam konteks inilah gagasan mengenai kurikulum bertahan hidup menjadi relevan. Kurikulum tersebut tidak harus berbentuk mata pelajaran baru yang kaku. Ia dapat hadir dalam bentuk kegiatan praktis, pelatihan lapangan, ataupun integrasi dengan pendidikan kebencanaan dan pendidikan karakter.
Menyiapkan Generasi untuk Masa Depan
Pendidikan selalu berkaitan dengan masa depan. Apa yang diajarkan di sekolah hari ini akan menentukan bagaimana generasi mendatang menghadapi dunia mereka.
Sosiolog klasik Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menjelaskan bahwa kekuatan sebuah peradaban bergantung pada ashabiyyah, yaitu solidaritas sosial yang kuat di antara anggotanya. Pendidikan memiliki peran penting dalam menumbuhkan solidaritas tersebut. Ketika siswa belajar bekerja sama, saling membantu, dan memahami pentingnya keselamatan bersama, mereka sedang membangun fondasi sosial yang kuat bagi masyarakat.
Sejarawan Jared Diamond dalam bukunya Upheaval: Turning Points for Nations in Crisis juga menunjukkan bahwa bangsa bangsa yang berhasil melewati masa krisis adalah bangsa yang mampu mengenali ancaman dan berani melakukan perubahan. Kemampuan beradaptasi menjadi kunci keberlangsungan sebuah masyarakat.
Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, pendidikan tidak lagi cukup hanya menghasilkan individu yang pintar secara akademik. Dunia juga membutuhkan manusia yang tangguh, adaptif, dan mampu bertindak dalam situasi darurat.
Sekolah memiliki kesempatan besar untuk menyiapkan generasi seperti itu. Dengan memperkuat pendidikan kebencanaan, kecakapan hidup, serta kemampuan bekerja sama, sekolah tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan. Sekolah juga membentuk manusia yang siap menghadapi realitas dunia yang kompleks.
Pertanyaan yang tersisa bagi kita cukup sederhana. Apakah kita ingin generasi muda hanya menguasai teori tentang masa lalu, atau kita ingin mereka juga memiliki kesiapan menghadapi masa depan yang penuh tantangan.





