Konflik geopolitik di Timur Tengah memasuki babak paling mematikan dalam satu dekade terakhir. Gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akibat gempuran Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu telah memicu gelombang pembalasan berskala masif dari Teheran.
Sirene peringatan bahaya meraung di Tel Aviv saat Iran meluncurkan rentetan rudal balistik hipersonik andalannya, seperti Khaibar, Khorramshahr-4, dan Fattah. Serangan presisi tinggi tersebut langsung menyasar sejumlah titik strategis di Israel serta pangkalan militer AS, memicu kepanikan warga di permukiman Zionis yang berlarian mencari perlindungan darurat. Di sisi lain, AS dan Israel juga terus membombardir Teheran Timur, memaksa ribuan warga sipil mengungsi.
Di Washington, Presiden AS Donald Trump bersikeras melanjutkan agresi dengan kekuatan penuh hingga militer Iran menyerah. Upaya untuk menghentikan manuver perang Trump sempat disuarakan melalui Kongres AS, tapi kandas karena kubu pro-Trump memegang mayoritas 53 berbanding 47 suara.
Baca juga:
Kapal Induk USS Abraham Lincoln Mundur usai Diserang Drone IRGC
Kendati demikian, ambisi perang Trump mulai memicu keretakan di antara sekutu Barat. Penolakan terang-terangan muncul dari Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, dan Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, yang enggan terseret lebih jauh dalam eskalasi ini.
Situasi kian rumit dengan munculnya rentetan serangan drone misterius yang menyasar fasilitas vital di Azerbaijan, Arab Saudi, hingga pangkalan Inggris di Siprus. Meski tudingan awal diarahkan ke Teheran, pihak Iran membantah keras dan menduga adanya operasi false flag. Operasi gelap ini disinyalir sengaja dirancang oleh pihak ketiga demi memancing konfrontasi militer yang lebih luas.
Kondisi kritis ini mendesak para pemimpin dunia untuk bertindak bijak. Komunitas internasional diharapkan tidak mudah terprovokasi oleh intrik pihak-pihak yang mencari keuntungan geopolitik, dan kembali menempatkan perdamaian dunia sebagai prioritas utama.




