Bisnis.com, JAKARTA — Kekacauan yang melanda pasar minyak global diperkirakan semakin dalam seiring pemangkasan produksi oleh sejumlah negara Teluk setelah perang AS-Israel dengan Iran menyebabkan penutupan jalur pelayaran Selat Hormuz.
Dilansir dari Bloomberg, Uni Emirat Arab dan Kuwait telah mulai menurunkan produksi minyak karena fasilitas penyimpanan penuh. Langkah itu mengikuti Irak yang produksinya kini anjlok sekitar 60%.
Negara lain berpotensi melakukan hal serupa karena kapal tanker terus menghindari Selat Hormuz, sehingga jumlah kapal kosong untuk memuat minyak semakin terbatas. Ketika seluruh kapal yang tersedia telah terisi, kapasitas penyimpanan darat di kawasan tersebut akan cepat mencapai batas.
Perang yang kini memasuki hari kesembilan itu belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Akibatnya, jalur laut yang biasanya menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dunia menjadi praktis tidak dapat dilalui.
Sementara itu, Arab Saudi mengalihkan volume minyak mentah dalam jumlah rekor ke terminal ekspor di pesisir Laut Merah guna mengurangi tekanan terhadap pasokan.
Iran menegaskan tidak akan mundur menghadapi Amerika Serikat (AS) dan Israel yang memulai perang pada 28 Februari 2026 dengan meluncurkan serangan ke Teheran.
Baca Juga
- Pertama Kali, Serangan Udara Israel Hantam Fasilitas Minyak Iran
- Daftar Negara yang Paling Terdampak Penutupan Selat Hormuz, dari Jepang, China, hingga Qatar
Sementara itu, AS mempertimbangkan memperluas target serangan di negara tersebut.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Sabtu (7/3/2026) bahwa pihaknya kini mempertimbangkan untuk menargetkan wilayah dan kelompok baru di Iran yang sebelumnya tidak menjadi sasaran.
"Serangan akan terus berlanjut sampai mereka menyerah atau—kemungkinan besar—benar-benar runtuh," tulis Trump di media sosial.
Bagi analis dan pelaku pasar energi, eskalasi perang semakin mendekatkan harga minyak pada titik kritis, mendekati ambang psikologis US$100 per barel. Harga minyak acuan Brent crude telah melonjak sekitar 30% pekan lalu, menjadi kenaikan terbesar dalam enam tahun, dan kini hanya terpaut beberapa dolar dari level tersebut.
Beberapa acuan minyak yang terkait erat dengan kawasan Teluk bahkan telah melampaui angka itu. Kontrak berjangka minyak Murban crude ditutup pada US$103 per barel pada perdagangan Jumat (6/3/2026), sementara futures minyak Oman mencapai US$107 per barel. Kontrak minyak mentah di Shanghai International Energy Exchange bahkan berakhir di sekitar US$109 per barel dalam denominasi dolar AS.
"Setiap hari tambahan gangguan menambah tekanan, dan dalam skenario seperti itu secara efektif tidak ada batas atas harga dalam jangka pendek," ujar Stefano Grasso, mantan trader energi yang kini menjadi manajer portofolio senior di perusahaan investasi 8VantEdge Pte.
Risiko juga meningkat terhadap infrastruktur energi kawasan. Arab Saudi dilaporkan mencegat drone yang menuju ladang minyak Shaybah Oil Field berkapasitas sekitar 1 juta barel per hari pada akhir pekan. Serangan juga dilaporkan terjadi di Bahrain dan Qatar.
Sementara itu, penutupan efektif Selat Hormuz terus berlanjut. Dalam beberapa hari terakhir, hanya tanker yang terkait Iran serta dua kapal curah milik perusahaan China yang terlihat melintas.
Kondisi tersebut menyebabkan produksi Irak turun menjadi sekitar 1,7—1,8 juta barel per hari dari sekitar 4,3 juta barel per hari sebelum konflik.
Di sisi lain, Arab Saudi meningkatkan pengiriman minyak dari terminal di pesisir Laut Merah. Data pelacakan kapal yang dihimpun Bloomberg menunjukkan pengiriman dari pelabuhan barat negara tersebut mencapai sekitar 2,3 juta barel per hari bulan ini.
Meskipun meningkat sekitar 50% dibandingkan bulan mana pun sejak akhir 2016, angka itu masih jauh di bawah sekitar 6 juta barel per hari yang biasanya diekspor dari Teluk Persia.
Kawasan Asia yang sangat bergantung pada minyak Timur Tengah merasakan dampak paling cepat.
Di Jepang, yang mengimpor lebih dari 90% minyaknya dari kawasan tersebut, perusahaan kilang meminta opsi untuk menggunakan cadangan minyak nasional. Negara lain, termasuk China, mulai membatasi ekspor bahan bakar guna menjaga pasokan domestik dan menahan harga.
Korea Selatan bahkan mempertimbangkan kembali penerapan batas harga minyak untuk pertama kalinya dalam 30 tahun, menurut laporan kantor berita Yonhap.
Berdasarkan data General Index, di Eropa Barat Laut, harga bahan bakar jet melonjak ke rekor US$1.528 per ton, setara lebih dari US$190 per barel. Dampak terhadap bahan bakar pesawat sangat terasa karena sekitar setengah impor Uni Eropa biasanya melewati Selat Hormuz.
Analis dan Kepala Strategi Komoditas di ING Groep NV, Warren Patterson memperkirakan gangguan pasokan akan berlangsung sekitar empat pekan, yakni dua pekan gangguan penuh dan dua pekan berikutnya dengan gangguan sekitar 50%.
"Ini tidak berarti konflik akan berakhir dalam periode tersebut. Namun jika serangan AS dan Israel mampu melemahkan kemampuan Iran menyerang kapal dan menutup Selat Hormuz, maka arus pasokan bisa mulai kembali normal," ujar Patterson.
Dalam skenario paling ekstrem, analis ING memperkirakan gangguan penuh terhadap aliran minyak dan LNG selama tiga bulan yang berpotensi mendorong harga minyak melonjak ke rekor baru pada kuartal II/2026.





