AKSES internet di seluruh wilayah Iran masih mengalami pembatasan ketat hingga Minggu (8/3). Pemadaman jaringan berskala nasional ini kini resmi memasuki pekan kedua, menurut laporan terbaru dari lembaga pemantau internet global.
NetBlocks, dalam unggahannya di platform media sosial X pada Minggu (8/3) pagi, mengonfirmasi bahwa gangguan ini telah berlangsung selama sembilan hari berturut-turut tanpa tanda-tanda pemulihan penuh.
“Pembaruan: Ini Minggu pagi di Iran di mana pemadaman internet berlanjut memasuki pekan kedua, dengan insiden ini memasuki hari kesembilan pada jam ke-192,” tulis NetBlocks.
Baca juga : Telepon Putin, Presiden Iran Minta Rusia Gunakan Pengaruh Redam AS-Israel
Meskipun infrastruktur teknis jaringan di Iran dilaporkan masih berfungsi, organisasi tersebut mencatat bahwa warga hanya diberikan akses ke jaringan domestik (intranet) yang sangat terbatas, sehingga memutus komunikasi dengan dunia luar.
Dampak Serangan AS-IsraelPemutusan akses informasi ini terjadi di tengah situasi keamanan yang mencekam. Berdasarkan data resmi dari otoritas Teheran, lebih dari 1.200 orang dilaporkan tewas sejak serangan udara Amerika Serikat (AS) dan Israel melanda Iran pada 28 Februari lalu.
Korban tewas termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta sejumlah pejabat militer senior. Selain itu, lebih dari 10.000 orang dilaporkan mengalami luka-luka akibat rangkaian serangan tersebut.
Baca juga : Iran Negara ke-8 yang Diserang AS Selama Trump Jadi Presiden
Sebagai bentuk pertahanan diri, Teheran melakukan aksi balasan dengan meluncurkan gelombang serangan drone dan rudal yang menargetkan posisi militer Israel serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.
Ancaman Pasokan Energi DuniaEskalasi konflik ini tidak hanya melumpuhkan komunikasi domestik, tetapi juga mengguncang ekonomi global. Dunia kini mencemaskan stabilitas pasokan energi menyusul penurunan tajam lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.
Jalur strategis tersebut merupakan urat nadi energi dunia yang setiap harinya dilalui sekitar 20 juta barel minyak. Gangguan di wilayah ini dikhawatirkan akan memicu lonjakan harga minyak mentah secara signifikan. (Ant/Anadolu/P-4)





