Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi mendesak Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran untuk segera menghentikan perang dengan memprioritaskan gencatan senjata.
Ia menegaskan bahwa senjata merupakan sumber malapetaka, untuk menggunakannya harus melalui pertimbangan matang. Ini disampaikan Wang Yi dalam konferensi pers soal "Kebijakan diplomasi dan hubungan luar negeri China" di Beijing, China, dikutip dari ANTARA, Senin (9/3).
Baca Juga: Rusia Serukan Gencatan Senjata, tapi Intelijen AS Ungkap Moskow Bantu Iran Bidik Kapal Perang Amerika
Menghadapi Timur Tengah yang kini masuk dalam pusaran konflik antara AS dengan Iran, Wang Yi Wang Yi menilai perang tidak membawa manfaat bagi pihak mana pun dan justru berpotensi menimbulkan masalah baru.
"Perang juga yang tidak membawa manfaat bagi pihak mana pun. Sejarah Timur Tengah berulang kali mengungkapkan kepaa dunia bahwa kekuatan militer bukanlah cara untuk menyelesaikan masalah, pertempuran senjata hanya akan menambah kebencian baru dan menumbuhkan krisis baru," jelas Wang Yi.
Untuk mencegah eskalasi lebih besar, China menekankan pentingnya penghentian operasi militer dan mengajukan lima prinsip dasar.
"Kami berpendapat bahwa dalam menangani secara benar dan tepat masalah Iran serta masalah terkait Timur Tengah, ada lima prinsip dasar harus dipegang teguh yaitu pertama, menghormati kedaulatan negara," kata Wang Yi.
Menurutnya, kedaulatan merupakan landasan tatanan internasional. "Kami berpendapat bahwa kedaulatan, keamanan, dan keutuhan wilayah Iran serta negara-negara di kawasan Teluk harus dihormati dan tidak boleh dilanggar," tegasnya.
Kedua, menolak penyalahgunaan kekuatan. "Kepalan tangan yang keras tidak berarti kebenaran juga keras, dunia tidak boleh kembali pada hukum rimba. Sering kali menggunakan kekuatan bukanlah bukti kekuatan diri sendiri, dan rakyat tidak boleh menjadi korban tak berdosa dari perang," tambahnya.
Ketiga, tidak mengintervensi urusan dalam negeri. "Urusan Timur Tengah seharusnya diputuskan sendiri oleh negara-negara di kawasan. Merancang revolusi dan melakukan pergantian rezim tidak akan mendapat dukungan rakyat," ungkapnya.
Baca Juga: Menemukan Solusi Dampak Perang US-Israel vs Iran bagi Indonesia
Keempat, menyelesaikan masalah melalui jalur politik. "China sejak dulu berpendapat bahwa perdamaian harus dijunjung tinggi. Semua pihak harus secepat mungkin kembali ke meja perundingan, menyelesaikan perbedaan melalui dialog yang setara, dan berupaya mewujudkan keamanan bersama," tambahnya.
Dan terakhir, mendorong peran konstruktif negara besar dalam menjaga perdamaian. "China memiliki pepatah kuno lain: bila kebajikan dan keadilan tidak dijalankan, maka situasi menyerang dan bertahan akan berubah. Negara besar semestinya menjunjung keadilan, menempuh jalan yang benar, dan lebih banyak menyumbangkan energi positif bagi perdamaian dan pembangunan Timur Tengah," tambahnya.




