PERDANA Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, akhirnya berbicara secara langsung melalui telepon dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ini merupakan komunikasi pertama mereka setelah sebelumnya Trump melontarkan kritik tajam terhadap respons Inggris dalam konflik di Timur Tengah.
Hubungan kedua pemimpin ini sempat mendingin setelah Trump menyindir Starmer "bukan sosok Winston Churchill" dan menyebut Inggris bukan lagi sekutu yang hebat. Kritik tersebut dipicu penolakan Starmer atas permintaan AS untuk menggunakan pangkalan militer Inggris guna melancarkan serangan ofensif awal terhadap situs rudal Iran.
Fokus Kerjasama Pertahanan dan Bela Diri KolektifDowning Street merilis detail terbatas mengenai panggilan tersebut, dengan menyatakan bahwa kedua pemimpin membahas situasi terkini di Timur Tengah. Meski ada perselisihan, Starmer sepakat mengizinkan AS menggunakan pangkalan Inggris untuk aksi pertahanan, bukan ofensif.
Baca juga : AS Mulai Gunakan Pangkalan Militer Inggris
"Para pemimpin memulai dengan mendiskusikan situasi terbaru di Timur Tengah dan kerja sama militer antara Inggris dan AS melalui penggunaan pangkalan RAF sebagai dukungan bagi pertahanan diri kolektif mitra di kawasan tersebut," tulis pernyataan resmi Downing Street.
Dalam kesempatan itu, Starmer juga menyampaikan belasungkawa mendalam kepada Trump dan rakyat Amerika atas kematian enam tentara AS dalam konflik tersebut.
Kepentingan Nasional di Atas SegalanyaMerespons sindiran Trump yang menyebut Inggris baru bergabung dalam perang "setelah kemenangan diraih", Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, memberikan pembelaan tegas. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menyalin mentah-mentah kebijakan luar negeri negara lain.
Baca juga : Inggris Tolak Beri AS Pangkalan Diego Garcia untuk Serang Iran
"Adalah hak Presiden AS untuk memutuskan apa yang menurutnya demi kepentingan nasional AS. Namun, tugas kami sebagai pemerintah Inggris untuk memutuskan apa yang menjadi kepentingan nasional Inggris," ujar Cooper dalam program Sunday with Laura Kuenssberg.
Cooper juga menekankan pentingnya belajar dari kesalahan masa lalu, merujuk pada Perang Irak tahun 2003. Menurutnya, semua keputusan harus berfokus pada apa yang benar bagi warga negara Inggris, bukan sekadar setuju tanpa syarat dengan sekutu.
Tekanan dari Dalam Negeri dan Ancaman IranKritik juga datang dari internal Inggris. Robert Jenrick dari partai Reform UK menilai keragu-raguan Starmer telah merusak hubungan dengan AS secara signifikan. Sementara itu, kubu Konservatif melalui Chris Philp menuduh pemerintah lalai karena kapal perang Inggris masih bersandar di Portsmouth dan tidak segera dikerahkan ke Mediterania atau Teluk.
Di sisi lain, Duta Besar Iran di London, Seyed Ali Mousavi, memberikan peringatan keras kepada Inggris agar tidak terlibat lebih jauh dalam perang ini.
"Jika fasilitas, properti, atau pangkalan digunakan terhadap bangsa Iran, maka hal-hal tersebut akan dianggap sebagai target yang sah," tegas Mousavi.
Saat ini, jet tempur RAF telah dikirim ke kawasan tersebut untuk menjatuhkan rudal dan drone yang ditembakkan Iran ke arah sekutu Inggris. Kapal induk HMS Prince of Wales juga telah ditempatkan dalam status siaga tinggi dan siap diberangkatkan dalam waktu lima hari jika situasi memburuk. (BBC/Z-2)





