Harga bitcoin kembali mengalami tekanan setelah sebelumnya mengalami penurunan tajam pada akhir pekan. Ia diproyeksi akan mengalami tekanan untuk beberapa waktu, termasuk di Senin (9/3).
Dikutip dari Coinmarketcap, harga bitcoin sempat turun hingga sekitar US$66.000. Pergerakan ini melanjutkan pola yang berulang dalam beberapa bulan terakhir, di mana aksi jual mendorong harga kripto mendekati batas bawah rentang perdagangannya.
Baca Juga: Prima Bersama Pegadaian Dorong Investasi Emas Digital di Aplikasi Tring!
CEO Aurelion, Björn Schmidtke menyebut penurunan ini terjadi menyusul penguatan dolar dari Amerika Serikat (AS). Penguatan dolar dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap inflasi yang lebih tinggi akibat lonjakan harga energi serta ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
“Ketika ketegangan meningkat pekan lalu, investor bergerak cepat menuju dolar sebagai aset aman. Penguatan dolar terjadi karena pasar mulai memperhitungkan kenaikan harga energi dan potensi inflasi yang lebih tinggi, yang bisa menunda pemangkasan suku bunga The Fed,” ujarnya.
Penguatan dolar membuat peluang pemangkasan suku bunga semakin kecil dalam waktu dekat. Hal tersebut turut menekan sentimen terhadap bitcoin.
Tekanan terhadap pasar kripto juga dipicu oleh meningkatnya konflik antara Amerika Serikat, Israel dan Iran. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump sebelumnya menyatakan tidak akan ada kesepakatan dengan Iran.
Ketegangan geopolitik tersebut mendorong harga minyak dunia melonjak, memicu kembali kekhawatiran inflasi global. Akibatnya, berbagai aset berisiko seperti saham teknologi dan kripto mengalami tekanan.
Bitcoin sendiri dalam beberapa waktu terakhir cenderung bergerak searah dengan saham teknologi, sehingga ketika pasar saham melemah, pasar kripto juga ikut tertekan.
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Guncang Bitcoin, Indodax Soroti Pentingnya Manajemen Risiko
Tekanan pasar juga datang dari sektor keuangan global. BlackRock dikabarkan mulai membatasi penarikan dana dari salah satu produk private credit senilai US$26 miliar. Hal tersebut akibat meningkatnya permintaan redemption dari investor.





