Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak dunia melonjak melampaui US$100 per barel seiring meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah.
Melansir Bloomberg, Senin (9/3/2026), harga minyak mentah Brent meroket hingga 20% menjadi US$111,04 per barel pada pembukaan perdagangan, sementara West Texas Intermediate naik hingga 22%.
Lonjakan harga ini menyusul langkah para produsen minyak besar, seperti Uni Emirat Arab dan Kuwait, yang mulai mengurangi produksi karena kapasitas penyimpanan penuh akibat penutupan Selat Hormuz. Irak juga telah menutup sebagian produksinya sejak pekan lalu.
Perang di Timur Tengah tidak menunjukkan tanda-tanda mereda setelah serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran lebih dari sepekan lalu. Penghentian pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur laut sempit yang biasanya menangani sekitar seperlima pasokan minyak dunia, serta serangan terhadap infrastruktur energi telah mendorong kenaikan harga minyak mentah dan gas alam.
"Level psikologis harga minyak U$$100 mungkin hanya menjadi target harga jangka pendek sebelum naik ke tingkat yang lebih tinggi seiring konflik yang terus berlarut-larut, sementara produksi minyak dikurangi karena fasilitas penyimpanan semakin penuh akibat kapal tanker tidak dapat memuat minyak,” kata Andy Lipow, Presiden Lipow Oil Associates.
Lebih dari selusin negara telah terseret ke dalam konflik tersebut dan situasi ini memicu kekhawatiran akan krisis inflasi. Harga bensin ritel di AS melonjak ke tingkat tertinggi sejak Agustus 2024, menimbulkan tantangan besar bagi Presiden Donald Trump dan partainya menjelang pemilu paruh waktu pada akhir tahun ini.
Baca Juga
- Harga Minyak Global Rawan Terus Naik seiring Pemangkasan Produksi oleh Negara-Negara Teluk
- Harga Minyak Memanas, Ekonom Indef Usulkan 4 Solusi Redam Dampak Perang AS-Iran
- Harga Minyak Dunia Kian Mendidih, Tembus US$92 per Barel
Sebelumnya, Uni Emirat Arab dan Kuwait telah mulai menurunkan produksi minyak karena fasilitas penyimpanan penuh. Langkah itu mengikuti Irak yang produksinya kini anjlok sekitar 60%.
Negara lain berpotensi melakukan hal serupa karena kapal tanker terus menghindari Selat Hormuz sehingga jumlah kapal kosong untuk memuat minyak semakin terbatas. Ketika seluruh kapal yang tersedia telah terisi, kapasitas penyimpanan darat di kawasan tersebut akan cepat mencapai batas.
Sementara itu, Arab Saudi mengalihkan volume minyak mentah dalam jumlah rekor ke terminal ekspor di pesisir Laut Merah guna mengurangi tekanan terhadap pasokan.
Iran menegaskan tidak akan mundur menghadapi AS dan Israel yang memulai perang pada 28 Februari 2026. Pada Minggu (8/3/2026) malam, Iran melancarkan serangan terhadap negara-negara tetangganya di Timur Tengah, sementara Israel menghantam depot bahan bakar di Teheran dan mengancam jaringan listrik Republik Islam tersebut.
Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa AS akan mempertimbangkan untuk menargetkan wilayah yang sebelumnya belum menjadi sasaran. Serangan akan terus berlanjut hingga Iran menyerah.
“Sampai mereka menyerah atau, lebih mungkin, benar-benar runtuh!” tulis Trump dalam unggahan media sosial.





