DEPARTEMEN Luar Negeri Amerika Serikat resmi memerintahkan diplomat non-darurat untuk meninggalkan Arab Saudi pada Minggu (8/3). Langkah ini mencerminkan tingginya risiko keamanan bagi personel AS seiring konflik di kawasan yang terus berlanjut.
Keputusan evakuasi wajib ini diambil setelah fasilitas diplomatik dan militer Amerika Serikat menjadi target serangan balasan atas operasi militer AS dan Israel terhadap Iran. Pihak militer mengonfirmasi seorang anggota layanan AS tewas pada Minggu akibat luka-luka yang diderita dalam serangan di Arab Saudi pekan lalu.
Sumber kepada CNN menyebutkan Kedutaan Besar AS di Riyadh, termasuk stasiun CIA, dihantam beberapa drone yang diduga milik Iran. Sebelumnya, staf non-darurat diizinkan meninggalkan negara itu secara sukarela, namun kini statusnya menjadi kewajiban untuk segera berangkat.
Baca juga : Iran Bantah Serang Kedubes AS, Mantan Kepala Intelijen Saudi Sebut Ini Perang Netanyahu
Penutupan Operasi Diplomatik di Berbagai NegaraArab Saudi menjadi negara terbaru dalam daftar evakuasi wajib personel AS. Sejak perang dengan Iran pecah, Departemen Luar Negeri AS telah memerintahkan keberangkatan personel non-darurat dari Qatar, Yordania, Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), Irak, hingga konsulat di Lahore dan Karachi, Pakistan.
Bahkan, operasional kedutaan besar di Kuwait telah ditangguhkan sepenuhnya. Juru bicara Departemen Luar Negeri menyatakan keputusan ini diambil demi "pertimbangan keamanan dan operasional untuk melindungi keselamatan personel."
Inggris Buka Jalur Evakuasi dari DubaiDi sisi lain, Pemerintah Inggris melalui Kantor Luar Negeri (Foreign Office) telah membuka portal pemesanan penerbangan carter bagi warga negaranya di Dubai yang ingin meninggalkan kawasan Timur Tengah. Ribuan warga Inggris terdampar setelah penutupan ruang udara besar-besaran dan pembatalan penerbangan komersial akibat konflik tersebut.
Baca juga : Jeddah Tower Siap Menyalip Burj Khalifa, Jadi Gedung Tertinggi Dunia!
Hingga saat ini, lebih dari 160.000 warga negara Inggris telah mendaftarkan keberadaan mereka di kawasan tersebut. Pemerintah memprioritaskan kelompok paling rentan untuk dievakuasi melalui penerbangan carter yang dijadwalkan berangkat dari Dubai awal pekan depan.
Dampak Konflik di Uni Emirat ArabKondisi di Uni Emirat Arab terus terdampak oleh gesekan militer. Pada Sabtu kemarin, Kantor Media Dubai melaporkan seorang penduduk tewas di area Al Barsha setelah terkena serpihan dari "intersepsi udara" yang jatuh menimpa kendaraan.
Victoria Cameron, seorang warga asal Skotlandia yang berhasil kembali ke Edinburgh, menceritakan kengerian saat serangan rudal pertama menghantam Dubai pada 28 Februari.
"Ponsel kami terus berbunyi, memberikan peringatan 'darurat, darurat'. Kami menangis dan gemetar," ungkap Victoria kepada BBC mengenai pengalamannya saat mengantre di sebuah hotel di Dubai.
Meskipun maskapai Emirates dilaporkan telah mengoperasikan puluhan penerbangan untuk mengangkut penumpang keluar dari Dubai, situasi di bandara digambarkan tetap tenang tanpa adanya penumpukan massa ekspatriat yang mencolok. (CNN/BBC/Z-2)





