Produksi minyak Irak mengalami penurunan karena adanya perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran. Kini, produksi minyak Irak hanya berkisar 1,7 juta sampai 1,8 juta barel per hari.
Dikutip dari Bloomberg, Senin (9/3), angka tersebut turun tajam dari 4,3 juta barel per hari pada kondisi sebelum adanya perang.
“Informasi tersebut disampaikan oleh sejumlah sumber yang mengetahui situasi tersebut, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena data tingkat produksi tersebut tidak dipublikasikan secara resmi,” tulis laporan Bloomberg terkait informasi produksi minyak Irak.
Saat ini, Irak merupakan negara produsen besar pertama di kawasan Teluk yang harus memangkas produksi akibat konflik. Langkah ini juga diikuti oleh Uni Emirat Arab dan Kuwait. Hal ini disebabkan adanya hambatan pada pergerakan kapal tanker imbas perang yang terjadi.
Perang membuat Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, sehingga jumlah kapal tanker yang dapat mengekspor minyak dari kawasan tersebut semakin berkurang.
Dengan keterbatasan pergerakan kapal, negara-negara produsen terpaksa menyalurkan minyak ke fasilitas penyimpanan. Di sisi lain, kapasitas penyimpanan yang tersedia semakin menipis.
Sebelumnya, harga minyak mentah kembali meroket pada penutupan Jumat (6/3), di tengah keterbatasan pasokan dari Timur Tengah akibat penutupan Selat Hormuz dan meluasnya perang AS-Israel dengan Iran.
Harga minyak mentah Brent berjangka ditutup pada USD 92,69 per barel, naik USD 7,28, atau 8,52 persen. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup pada USD 90,90 per barel, naik USD 9,89, atau 12,21 persen.
Hal tersebut merupakan kali kedua berturut-turut kenaikan harga minyak mentah berjangka AS melampaui kenaikan harga kontrak Brent. Sebab, para pembeli berupaya mencari alternatif pasokan di luar Timur Tengah.





