2 Spesies Marsupial Ditemukan Lagi di Papua, Dikira Punah 6.000 Tahun Lalu

kumparan.com
13 jam lalu
Cover Berita

Dua spesies marsupial yang selama ini diyakini telah punah setidaknya sejak 6.000 tahun lalu ternyata masih hidup di kawasan hutan hujan terpencil di Pulau Nugini, tepatnya di Semenanjung Vogelkop, Papua Barat, Indonesia.

Penemuan ini telah dipublikasikan di jurnal Records of the Australian Museum. Petunjuk awal keberadaan hewan tersebut sudah muncul sejak 1999, tetapi para peneliti membutuhkan bukti fotografi yang cukup untuk memastikan identitasnya. Setelah 27 tahun penelitian, ilmuwan akhirnya memastikan bahwa dua spesies tersebut memang masih hidup.

Keduanya adalah Tous ayamaruensis atau ring-tailed glider, serta Dactylonax kambuayai yang dikenal sebagai pygmy long-fingered possum. Penelitian ini dipimpin oleh Tim Flannery, profesor dari Melbourne Sustainable Society Institute sekaligus peneliti tamu di Australian Museum.

“Vogelkop merupakan bagian kuno dari benua Australia yang kemudian menjadi bagian dari Pulau Nugini. Hutan-hutannya mungkin masih menyimpan banyak peninggalan tersembunyi dari masa lalu Australia,” kata Flannery dalam pernyataan sebagaimana dikutip IFLScience.

Marsupial adalah kelompok mamalia yang memiliki kantung (pouch) untuk membawa anaknya. Selama ini, kedua spesies tersebut hanya diketahui dari fosil yang ditemukan di Australia, yang berasal dari zaman es terakhir hingga awal era Holosen, periode geologi yang masih berlangsung hingga sekarang.

Pygmy long-fingered possum memiliki tubuh kecil dengan pola garis pada tubuhnya. Salah satu ciri paling unik adalah jari yang sangat panjang, satu jari di setiap tangan bisa dua kali lebih panjang dibanding jari lainnya.

Sementara itu, ring-tailed glider merupakan kerabat dari tiga spesies Petauroides yang hidup di Australia. Kelompok ini dikenal mampu meluncur dari satu pohon ke pohon dengan bantuan selaput kulit berbulu yang membentang dari siku hingga pergelangan kaki.

Versi yang ditemukan di Papua ini berukuran lebih kecil dibanding kerabatnya di Australia. Ia juga memiliki telinga tanpa bulu serta ekor yang dapat digunakan untuk mencengkeram cabang pohon.

Para peneliti menyebut kedua hewan ini sebagai Lazarus taxa, istilah bagi spesies yang menghilang dari catatan fosil dalam waktu sangat lama dan dianggap punah, sebelum akhirnya ditemukan kembali hidup di alam liar.

Penemuan ini juga tak lepas dari bantuan masyarakat adat di Papua Barat. Flannery dan timnya bekerja sama dengan para tetua dari klan Tambrauw dan Maybrat untuk melacak keberadaan hewan tersebut di hutan.

“Menemukan satu taksa Lazarus saja sudah merupakan penemuan luar biasa, bahkan jika dianggap punah baru-baru ini. Tetapi menemukan dua spesies yang diduga punah selama ribuan tahun benar-benar menakjubkan,” kata Flannery.

Dilansir New Scientist, beberapa komunitas adat setempat menganggap ring-tailed glider sebagai hewan suci yang harus dilindungi secara maksimal. Kepercayaan ini diduga turut membantu menjaga keberadaan spesies tersebut tetap tersembunyi dari luar.

Hewan ini diketahui membentuk pasangan seumur hidup dan hanya melahirkan satu anak setiap tahun. Seperti kerabatnya di Australia, mereka bersarang di lubang pohon, kebiasaan yang membuatnya sangat rentan terhadap aktivitas penebangan hutan.

Sementara itu, pygmy long-fingered possum juga menghadapi ancaman serupa dari deforestasi. Telinga mereka diduga berevolusi untuk mendeteksi suara berfrekuensi rendah, termasuk suara larva kumbang yang hidup di dalam kayu. Dengan jari panjangnya, possum ini dapat menggali kayu lapuk untuk memakan larva tersebut.

Meski telah dipastikan masih hidup, banyak hal tentang kedua spesies ini yang masih belum diketahui, termasuk wilayah jelajah dan kebutuhan ekologinya.

Para peneliti bahkan merahasiakan lokasi pasti penemuan hewan tersebut untuk mencegah pemburu atau pedagang satwa liar memburunya. Flannery menegaskan bahwa penemuan ini menjadi pengingat pentingnya melindungi kawasan hutan yang unik.

“Temuan ini menegaskan betapa pentingnya menjaga kawasan bioregion yang luar biasa ini, sekaligus menunjukkan nilai besar dari kolaborasi penelitian untuk menemukan dan melindungi keanekaragaman hayati yang selama ini tersembunyi,” ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BMKG Imbau Warga Kalimantan Timur Waspada Hujan Lebat dan Potensi Bencana Hidrometeorologi 9–11 Maret 2026
• 9 jam lalupantau.com
thumb
6.800 Personel Diterjunkan Saat Masa Mudik Lebaran 2026
• 8 jam lalutvonenews.com
thumb
IHSG Ditutup Merosot 3,27 Persen, Rupiah Melemah di Rp 16.949 per Dolar AS
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Catatan dari Vonis Bebas Delpedro dkk, Aparat Jangan Main Tangkap dan Kriminalisasi
• 13 jam lalukompas.com
thumb
BYD Seal Terbakar Hebat, Pihak Perusahaan Sebut Penyebabnya dari Power Bank Bukan Baterai Kendaraan
• 15 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.