Menteri Perang AS: Mau Mengakui atau Tidak Iran Akan Kalah Lawan Kami

viva.co.id
9 jam lalu
Cover Berita

Amerika Serikat, VIVA – Menteri Perang Amerika Serikat Pete Hegseth mengatakan tuntutan Presiden Donald Trump agar Iran menyerah tanpa syarat pada akhirnya akan terjadi. Entah Iran mau mengakuinya atau tidak.

Menurut Hegseth, Iran mungkin saja tidak mengatakannya secara terbuka karena gengsi, tetapi pada akhirnya negara tersebut akan berada dalam posisi menyerah.

Baca Juga :
Sosok Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei yang Ditolak Donald Trump
Iran Klaim Tangkap Tentara AS, Washington Membantah

Saat berbincang dengan jurnalis CBS Major Garrett pada Jumat waktu setempat,  pihak AS menyebut telah menyerang sekitar 3.000 target di wilayah Iran. Hegseth mengatakan akan ada titik di mana Iran tidak lagi mampu melanjutkan perlawanan.

“Ini perang. Ini konflik. Tujuannya membuat musuh bertekuk lutut. Apakah nanti mereka menggelar upacara di Lapangan Teheran dan menyatakan menyerah, itu terserah mereka,” kata Hegseth.

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menanggapi tuntutan Amerika tersebut dengan nada keras. Ia menyebut permintaan agar Iran menyerah sebagai mimpi yang sebaiknya mereka bawa sampai ke liang kubur.

Namun Hegseth menegaskan Amerika Serikat akan meningkatkan serangannya terhadap Iran. Dalam wawancara dengan program 60 Minutes, ia mengatakan konflik ini baru saja dimulai.

“Apa yang ingin saya sampaikan kepada pemirsa Anda adalah ini baru permulaan,” ujarnya.

Kronologi perang versi Amerika Serikat

Hegseth menjelaskan bahwa pada Juni tahun lalu, dalam operasi militer Operation Midnight Hammer, Amerika Serikat melancarkan serangan udara yang menargetkan kemampuan nuklir Iran.

Menurutnya, saat itu Iran seharusnya sudah bersedia berunding.

“Mereka seharusnya datang ke meja perundingan dan berkata, ‘Baik, kami paham. Kalian serius. Kami tidak akan mengembangkan senjata nuklir’. Tapi mereka tidak melakukannya,” kata Hegseth.

Ia menambahkan bahwa Presiden Trump melihat program nuklir Iran sebagai ancaman jangka panjang yang akan terus berkembang jika tidak dihentikan.

Ada berbagai versi mengenai bagaimana dan mengapa perang ini akhirnya pecah. Sejumlah pendukung Trump bahkan mengkritiknya, dengan menilai Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menarik Amerika Serikat masuk ke perang yang menurut mereka tidak sepenuhnya mengutamakan kepentingan Amerika.

Namun Hegseth menolak anggapan tersebut.

“Kami selalu memegang kendali penuh apakah akan melanjutkan operasi atau tidak. Semua dilakukan untuk melindungi kepentingan Amerika dan keselamatan warga kami,” ujarnya.

Baca Juga :
IRGC Janji Setia pada Mojtaba Khamenei Pemimpin Tertinggi Iran yang Baru
Iran Tolak Tuntutan AS Diminta 'Menyerah Tanpa Syarat': Kami Akan Terus Melawan
Mojtaba Khamenei Resmi Jadi Pemimpin Iran, Donald Trump Langsung Kirim Ancaman Keras

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Waspada 15 Titik Macet Parah Mudik Jabar 2026, Ini Jalur Alternatifnya
• 10 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Jelang Idulfitri, Pemerintah Kebut Pembangunan Huntara dan Huntap di Aceh Tamiang
• 2 jam lalusuara.com
thumb
Penuhi Panggilan Polisi, Pandji Pragiwaksono Ngaku akan Diperiksa soal Sidang Adat Toraja
• 7 jam laluliputan6.com
thumb
Antisipasi Kenaikan Harga Minyak, PDIP Terbitkan 5 Instruksi untuk Kader di Daerah
• 6 jam lalujpnn.com
thumb
TERPOPULER: Unggahan Terakhir hingga Sahabat Ungkap Vidi Aldiano Meninggal dengan Senyum Lebar
• 17 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.