Pengantar Serial Matinya Ilmu Ekonomi: Di tengah dunia yang terus bergerak cepat namun terasa semakin kosong, kami mengajak anda untuk berhenti sejenak, untuk menoleh ke belakang, menatap ke dalam, dan melihat ke depan.
Serial Matinya Ilmu Ekonomi bukan sekadar kumpulan kritik. Ia adalah upaya jujur untuk memandang ilmu ekonomi dari sudut yang jarang diterangi: dari sisi yang tidak selalu efisien, tidak selalu rasional, tapi sepenuhnya manusiawi.
Di sini, kami ingin menyegarkan kembali ingatan kita akan mengapa ekonomi ada, bukan hanya sebagai alat hitung, tetapi sebagai cermin kegembiraan, pencapaian, penderitaan, ketimpangan, dan harapan zaman.
---
Di sebuah lembah di Sumatra Barat, di antara sawah yang memantulkan langit dan pohon kelapa yang berdiri seperti penjaga waktu, berdiri sebuah surau. Dindingnya kayu tua yang mulai menghitam oleh usia, lantainya dingin oleh embun subuh, dan atapnya berderit pelan setiap kali angin gunung lewat tanpa suara.
Tidak ada papan nama, tidak ada jadwal, dan tidak ada kurikulum tertulis. Setelah adzan subuh, sebelum matahari benar-benar memutuskan untuk naik, surau itu sudah hidup. Bukan oleh suara, tetapi oleh diam yang penuh makna.
Seorang lelaki tua duduk bersila di sudut ruangan, matanya terpejam, napasnya tenang, seolah ia tidak sepenuhnya berada di dunia yang sama dengan sawah dan gunung di sekitarnya. Dialah Inyiak Mursyid.
Tidak ada gelar akademik di depan namanya, tidak ada sertifikat di dinding surau, tetapi orang datang dari jauh untuk duduk bersamanya. Bukan untuk mempelajari sesuatu yang baru, melainkan untuk mengingat sesuatu yang telah lama mereka lupakan.
Di surau itu, waktu tidak bergerak seperti di kota. Ia tidak dibagi menjadi jam kerja dan jam istirahat. Ia mengalir seperti air sungai yang tidak pernah bertanya ke mana ia harus pergi. Murid-murid duduk bersila. Mereka tidak mencatat, tidak bertanya. Mereka hanya mendengarkan.
Kadang Inyiak berbicara, kadang ia hanya diam. Dan justru dalam diam itu, pelajaran yang paling dalam sering terjadi. Surau itu bukan sekadar bangunan, ia adalah ruang sakral yang adalah Sebuah ruang yang dipisahkan dari dunia luar, bukan oleh tembok, tetapi oleh niat.
Di luar, sawah membutuhkan petani, pasar membutuhkan pedagang. Dunia tetap bergerak dengan segala urusannya. Namun di dalam surau, untuk beberapa jam setiap hari, manusia diizinkan untuk tidak menjadi apa pun. Tidak menjadi pekerja, tidak menjadi ayah, tidak menjadi anak, tidak menjadi bagian dari mesin ekonomi yang terus berputar. Ia hanya menjadi hamba.
Seorang Inyiak Mursyid tidak sekadar menyampaikan ilmu. Ia menjaga suasana batin ruang itu. Cara ia duduk, cara ia diam, cara ia menatap, bahkan cara ia menarik napas, semuanya menjadi bagian dari pengajaran.
Dalam tarekat, yang ditransmisikan bukan hanya pengetahuan, tetapi keadaan batin. Inyiak Mursyid tidak memberi murid kurikulum seperti pendidikan modern. Ia memberi cerita tentang perjalanan dan pengalaman. Dari cerita itu, murid berani memulai jalannya sendiri.
Alam di sekitar surau seolah memahami ritme itu. Kabut pagi tidak pernah datang tergesa-gesa. Angin tidak memaksa daun bergerak lebih cepat dari yang seharusnya. Bahkan burung-burung pun seolah tahu bahwa ada ruang yang tidak boleh diganggu dengan kegaduhan.
Kesederhanaan bukan pilihan estetika di tempat itu. Ia adalah kondisi alami dari kehidupan yang belum disentuh obsesi untuk menjadi lebih. Namun seperti semua yang hidup di dunia, surau itu juga terikat oleh waktu.
Suatu hari, tanpa pengumuman dan tanpa seremoni besar, Inyiak Mursyid wafat. Tidak ada yang runtuh secara fisik. Dinding surau tetap berdiri, lantainya tetap dingin, sawah tetap memantulkan langit seperti biasa.
Tetapi sesuatu yang tidak terlihat telah pergi. Untuk beberapa waktu, murid-murid masih datang. Mereka duduk di tempat yang sama, mencoba mengingat suara yang pernah memenuhi ruangan itu. Namun diam yang dulu penuh makna kini terasa berbeda. Ia bukan lagi diam yang hidup, Ia menjadi diam yang kosong.
Perlahan, satu per satu mereka berhenti datang. Bukan karena mereka tidak lagi percaya, tetapi karena mereka tidak lagi tahu bagaimana tinggal di ruang yang telah kehilangan pusat gravitasinya.
Beberapa tahun kemudian, papan nama dipasang di depannya. Jadwal mulai ditulis, anak-anak datang membawa buku, suara pelajaran menggantikan diam. Surau itu kini menjadi MDA (Madrasah Diniyah Awaliyah). Sebuah institusi yang rapi, terstruktur, dan sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan zaman.
Tidak ada yang salah dengan itu. Anak-anak belajar membaca Al-Qur'an, mereka belajar hadis, doa-doa, tarikh, tahfidz, akidah, akhlak dan segala pelajaran agama dengan sistematis. Surau itu kini menghasilkan sesuatu yang dapat dikenali oleh dunia modern: output.
Namun dalam transformasi itu, sesuatu yang lain perlahan menghilang. Bukan bangunannya, Bukan juga fungsinya. Yang menghilang adalah ruang sakral itu sendiri.
Perubahan ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Ia berjalan seiring dengan perubahan cara manusia memahami dunia. Modernitas memperkenalkan suatu cara berpikir yang semakin materialistis dalam melihat dunia terutama sebagai rangkaian fungsi, hasil, dan kegunaan.
Dalam pandangan seperti ini, sesuatu dinilai dari apa yang dapat dihasilkan darinya. Pendidikan menghasilkan lulusan, pekerjaan menghasilkan pendapatan, dan institusi menghasilkan output yang dapat diukur lewat materialisme.
Dalam dunia yang diatur oleh logika seperti itu, ruang yang tidak menghasilkan apa pun sering kali tampak tidak efisien. Surau lama, dengan diamnya yang panjang dan waktunya yang tidak terburu-buru, perlahan menjadi asing bagi dunia yang semakin terbiasa mengukur segala sesuatu.
Di sinilah argumen Émile Durkheim menjadi relevan. Dalam The Elementary Forms of Religious Life (1912), Durkheim menjelaskan bahwa inti agama bukan sekadar kepercayaan kepada Tuhan, tetapi pemisahan antara dua jenis ruang: sakral dan profan.
Ruang sakral adalah ruang yang dipisahkan secara simbolik dari kehidupan sehari-hari. Di sana manusia mengalami sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Ia tidak tunduk pada logika utilitas dan ekonomi.
Sebaliknya, ruang profan adalah ruang kehidupan sehari-hari: ruang kerja, ruang transaksi, ruang produksi. Ruang di mana segala sesuatu diukur berdasarkan fungsi dan hasilnya. Yang sakral bukan berarti magis secara literal. Yang sakral adalah sesuatu yang dipisahkan, dihormati, dan tidak diperlakukan sebagai alat. Dalam konteks Minangkabau lama, surau adalah ruang seperti itu.
Ia bukan sekadar tempat belajar agama. Ia adalah tempat bersuluk, tempat diam, tempat menunggu makna, tempat waktu berhenti. Ketika Inyiak Mursyid masih hidup, surau bukan institusi, ia adalah pusat pengalaman eksistensial.
Namun ketika surau berubah menjadi MDA, ia mulai masuk ke dalam logika institusi. Ia memiliki kurikulum, target pembelajaran, dan fungsi yang dapat diukur. Ia tetap benar secara agama. Namun ia tidak lagi sepenuhnya sakral, setidaknya dalam pengertian Durkheim.
Urbanisasi mempercepat proses itu. Di kota, agama menyesuaikan diri dengan ritme kehidupan modern. Pengajian dimulai setelah jam kerja dan berakhir sesuai jadwal, berbeda dengan suluk di surau yang tak berbatas waktu. Bahkan kini pengajian dapat dilakukan melalui Zoom atau YouTube, bahkan kita bisa mendengarkannya di jalan pulang ketika macet.
Secara fungsional ini adalah kemajuan besar, lebih banyak orang dapat mengakses ilmu agama. Namun secara eksistensial, sesuatu telah berubah. Ruang sakral bukan hanya soal isi ceramah, ia bercerita tentang pemisahan. Perjalanan menuju surau, langkah kaki meninggalkan rumah, udara yang berubah, bau kayu tua, lantai yang berbeda, semuanya menciptakan ambang psikologis yang memisahkan manusia dari dunia profan.
Dalam layar Zoom, ruang sakral dan ruang profan bertabrakan. Seseorang dapat mendengarkan ceramah agama di perangkat yang sama yang digunakan untuk menandatangani kontrak bisnis atau memeriksa harga saham. Tidak ada ambang batas yang dilintasi. Materialisme tidak selalu menghancurkan ruang sakral; ia cukup membuat manusia tidak lagi memiliki waktu untuk tinggal di dalamnya.
Adam Smith, dalam Theory of Moral Sentiments (1759), pernah mengingatkan bahwa masyarakat membutuhkan ruang moral di luar pasar. Pasar dapat mengalokasikan sumber daya, tetapi ia tidak menciptakan makna. Makna harus datang dari tempat lain. Dalam masyarakat Minangkabau lama, tempat itu adalah surau.
Karl Polanyi kemudian menunjukkan dalam The Great Transformation (1944) bahwa sebelum modernitas, ekonomi tidak berdiri sendiri. Ia tertanam dalam masyarakat, budaya, dan agama. Modernitas memisahkan ekonomi dari jaringan sosial itu dan menjadikannya sistem otonom. Dalam dunia seperti ini, pasar secara perlahan menjadi ruang yang hampir sakral bagi kehidupan modern.
Namun kehidupan kota juga membawa konsekuensi lain: semua ruang menjadi homogen. Mircea Eliade dalam The Sacred and the Profane (1957) menulis bahwa manusia tradisional tidak hidup dalam ruang yang seragam. Ada tempat yang berbeda dan menjadi pusat "dunia".
Surau, dalam tradisi Minangkabau lama, adalah salah satu pusat itu. Modernitas membuat ruang menjadi seragam. Surau menjadi bangunan seperti bangunan lain, MDA menjadi institusi seperti institusi lain dan Zoom juga menjadi ruang seperti ruang lain.
Secara fungsional semuanya bekerja, secara eksistensial semuanya setara. Dan justru di situlah kehilangan itu terjadi. Eliade menyebut proses ini sebagai desacralization of the world. Bukan berarti agama hilang. Ritual tetap ada, doa tetap dibaca. tetapi pengalaman sakralnya menipis. Manusia modern masih berdoa, tetapi dunia tidak lagi terasa dipenuhi kehadiran. Ia terasa netral, fungsional, dan sering kali kosong dari makna yang dalam.
Namun daripada itu semua, kemungkinan besar Eliade akan mengatakan: manusia modern tetap merindukan ruang sakral. Dan ini bagian yang paling indah dari Eliade. Ia mengatakan bahwa bahkan manusia modern yang paling sekuler pun tidak sepenuhnya kehilangan kebutuhan akan yang sakral.
Manusia modern tetap mencarinya, dalam rumah masa kecil, dalam alam, dalam musik, dalam keheningan tertentu, atau dalam nostalgia. Itulah sebabnya surau tetap memiliki kekuatan simbolik, bahkan ketika fungsinya berubah. Karena surau bukan sekadar bangunan.Ia adalah memori.
Manusia bukan hanya makhluk ekonomi, ia adalah makhluk yang membutuhkan ruang untuk diam, ruang untuk tidak menjadi apa pun, ruang untuk kembali menjadi dirinya sendiri. Dan selama kebutuhan itu masih ada, ruang sakral mungkin tidak akan pernah benar-benar mati. Tetapi ia akan selalu menunggu, di suatu tempat di luar logika dunia yang terlalu sibuk untuk diam.
Mungkin ruang sakral tidak pernah benar-benar hilang ditelan materialisme. Ia hanya menunggu manusia yang suatu hari lelah oleh dunia yang terlalu cepat, terlalu penuh tujuan, terlalu sibuk menjadi sesuatu. Ketika hari itu datang, manusia akan kembali mencari tempat untuk diam. Dan di tempat seperti itulah, entah ia masih disebut surau atau tidak, manusia akan kembali belajar bahwa hidup tidak selalu harus bergerak agar memiliki makna.
(miq/miq) Add as a preferred
source on Google




